SENIN , 20 NOVEMBER 2017

Obama Khusnul Khatimah

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Kamis , 12 Januari 2017 10:24
Obama Khusnul Khatimah

Pidato perpisahan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat di McCormick Place, Chicago, Selasa 10 Januari 2017. foto: afp

JAKARTA – Genap delapan tahun sudah, Presiden Barack Obama memimpin Amerika Serikat. Sesuai aturan demokrasi AS, rezim harus berganti. Pidato perpisahan pun dilakukan di kota kelahirannya, Chicago, kemarin. Isi pidatonya mengagumkan. Semua sedih ditinggal Obama. Dia menutup rezim dengan khusnul khatimah.

Pidato perpisahan itu sudah disiapkan selama enam bulan oleh Obama. Dia tidak ingin momentum terakhirnya tidak berkesan. Lokasi pidato pun dia pilih di kota kelahirannya, Chicago. Sebuah auditorium tempat pidatonya penuh dan riuh penonton.

Tampil kalem dengan jas dan dasi biru, Obama mengawali pidatonya dengan ucapan terima kasih kepada seluruh warga AS, baik para pendukungnya atau lawan politiknya. Sementara, orang-orang terkasihnya seperti istri, Michelle Obama dan anak-anaknya Malia dan Sasha, termasuk Wapres Joe Biden dan para staf dia sebut di penghujung pidato.

“Setiap hari saya belajar dari kalian. Kalian membuat saya menjadi Presiden yang lebih baik dan pria yang lebih baik,” kata Obama yang disambut riuh tepuk tangan.

Obama mengatakan, di bawah kepemimpinannya, AS berhasil bangkit dari keterpurukan. Dimulai dari resesi ekonomi di medio 2008, membangkitkan industri otomotif hingga meningkatkan lapangan kerja. Pun di dunia internasional, Obama mengklaim telah melakukan hal positif seperti membangun kembali hubungan dengan negara komunis Kuba, menutup program nuklir Iran tanpa menembakkan sebutir peluru hingga menangkap otak 9/11 (Osama Bin Laden).

“Menciptakan keadilan dalam pernikahan dan memberikan akses asuransi kesehatan kepada 20 juta rakyat AS,” demikian klaimnya.

Sejurus kemudian, Obama sempat menyinggung soal Presiden AS terpilih, Donald Trump. Presiden yang pernah mengenyam pendidikan dasar di Menteng, Jakarta ini menjamin transisi pemerintahan yang damai, sebagaimana transisi damai dari administrasi George Bush kepada dirinya.

[NEXT-RASUL]

Dalam pidatonya kemarin, fokus utamanya mengarah kepada situasi terkini ihwal demokrasi di AS. Bisa jadi, dia menyinggung soal hasil Pilpres lalu yang memenangkan Trump. Hingga kini, aksi penolakan terhadap miliuner itu tetap berlangsung.

Obama berpesan, di dalam demokrasi tidak membutuhkan keseragaman. Dia merunut perjalanan pendiri bangsa AS yang sebelumnya sering beda pendapat dan akhirnya berkompromi dan mengeluarkan solusi.

“Mereka ingin kita melakukan hal yang sama. Demokrasi membutuhkan solidaritas. Sebuah gagasan di mana di samping semua perbedaan, kita berjuang bersama-sama. Kita bangkit atau jatuh sebagai satu kesatuan,” tegas Obama yang disambut riuh hadirin. Tidak sedikit di antaranya sampai berdiri.

Pidato itu membuat para hadirin terenyuh. Mereka mengingat peristiwa Pilpres yang kental dengan aroma persaingan dan permusuhan. Bahkan, ada sejumlah masyarakat yang mengajak membuat petisi untuk hengkang dari federasi AS.

Obama juga mengatakan bahwa demokrasi di AS berada di bawah ancaman seperti dunia yang semakin sempit, meningkatnya kesenjangan, perubahan demografik dan terorisme. Hal-hal ini adalah tantangan pertama bagi demokrasi AS.

Obama menambahkan tantangan kedua bagi demokrasi AS adalah rasialisme. Rasialisme telah menjadi tantangan bagi AS sejak bangsa ini berdiri.

“Ke depan, kita harus menegakkan hukum melawan diskriminasi di bidang pekerjaan, perumahan, pendidikan dan hukum. Akan tetapi, menegakkan hukum saja tidak cukup. Supaya demokrasi AS berjalan maka kita harus mendengarkan nasihat Atticus Finch, tokoh fiksi sastra Amerika, yang mengatakan ‘Kita tidak akan memahami seseorang jika kita tidak melihat dari sudut pandangnya’,” kata Obama.

[NEXT-RASUL]

Untuk menegakkan demokrasi, lanjutnya, Obama mengajak rakyat AS keluar dari zona nyaman, yang disebutnya ‘gelembung’ dan mencoba memahami orang-orang yang berbeda pemikiran. Di bagian pidato ini, tidak sedikit hadirin yang menitikan air mata.

“Hal ini tidak mudah. Banyak dari kita yang merasa aman hidup dalam ‘gelembung’ di lingkungan kita, di kampus, tempat ibadah dan di sosial media, di mana kita dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai pandangan politik yang sama, tanpa pernah bersikap kritis terhadap pandangan kita sendiri. Kita merasa terlalu nyaman dan aman dalam ‘gelembung’ sehingga kita hanya menerima informasi yang kita suka dan sesuai dengan pandangan kita,” kata Obama.

Menurut Obama, politik adalah perang gagasan yang harus dijalankan secara sehat. Hal ini adalah tantangan ketiga.

“Kita memiliki tujuan berbeda dengan cara yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Mencari titik temu akan mustahil jika kita tidak mendasarinya berdasarkan fakta, menerima perbedaan pendapat dan berdasarkan sains dan nalar,” kata Obama.

Dia juga menyampaikan bahwa demokrasi di AS saat ini sedang diuji oleh kelompok fanatik yang mengaku-ngaku Islam, oleh orang-orang yang beranggapan bahwa demokrasi, masyarakat sipil, dan pasar bebas sebagai ancaman.

“Mereka mewakili ketakutan akan perubahan, ketakutan akan perbedaan dan kebebasan berpikir,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Obama juga mengaku telah berhasil menangkal aksi terorisme di AS. Pernyataan perang terhadap teroris ini disambut riuh hadirin. Sekalipun, sejumlah teror juga terjadi di Boston dan Orlando. Untuk melawan terorisme, mengandalkan militer saja tidak cukup. Obama mengajak warga AS untuk tetap waspada dan tidak takut terhadap ancaman-ancaman demokrasi.

“Saya meminta rakyat AS percaya pada diri sendiri bahwa kalian bisa membuat perubahan. Ya kita bisa!” tutup Obama. (rmol)


div>