SENIN , 15 OKTOBER 2018

Over Pencitraan Calon Gubernur, Masyarakat di Bohongi

Reporter:

Iskanto

Editor:

asharabdullah

Kamis , 19 April 2018 15:10
Over Pencitraan Calon Gubernur, Masyarakat di Bohongi

Suasana kegiatan dialog publik Ampera Sulsel dengan tema 'Menggagas Pilgub Sulsel Yang Berkualitas Tanpa Over Pencitraan dan Kebohongan Publik' di Warkop Bundu, Jalan Hertasning, Kamis (13/4). Foto: Ajus/RakyatSulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Peran sosial media dalam penyebaran berita demi pencitraan kandidat calon Gubernur Sulsel menjadi bukti buruknya sistem demokrasi. Hal ini menjadi salah satu masalah yang harusnya tidak menjadi tolak ukur pemimpin yang memiliki tanggungjawab.

Aktifis HAM Sulsel, Dhedy Jalarambang mengatakan, proses demokrasi adalah sistem yang memiliki peran dan tujuan suci. Namun, dibalik hal itu ada oknum yang memang ingin merusak dan merampas hak-hak masyarakat.

“Hanya sebagian calon gubernur Sulsel yang memang menunjukkan kerja-kerja real demi masyarakat. Sisanya, hanya sekadar pencitraan dengan memperlihatkan pembangunan-pembangunan yang ia lakukan dan nyatanya tidak terbukti,” ungkapnya dalam kegiatan dialog publik Ampera Sulsel dengan tema ‘Menggagas Pilgub Sulsel Yang Berkualitas Tanpa Over Pencitraan dan Kebohongan Publik’ di Warkop Bundu, Jalan Hertasning, Kamis (13/4).

Dalam kesempatan itu, Dhedy memperlihatkan salah satu video yang mengagung-agungkan pembangunan yang terjadi disuatu daerah di Sulsel. Namun, berdasarkan hasil survei yang dilakukannya, apa yang terlihat dari video tersebut sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada dilapangan.

“Dalam video tersebut memperlihatkan pembangunan yang sangat baik. Tapi berdasarkan survei teman-teman sama sekali berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Dalam video kebun buah-buahan yang sangat baik tapi kenyataannya hanya menjadi ekspektasi yang tidak sesuai,” terangnya.

Ia menegaskan, apa yang telihat tersebut sangat memperlihatkan adanya over pencitraan kandidat yang dipertontonkan di masyarakat. Memanfaatkan pembangunan yang nyatanya tidak sesuai kenyataan sama halnya dengan sebuah kebohongan publik.

“Yang katanya mau bangun tempat pengalengan ikan, tapi buktinya hanya 4 bulan beroperasi namun apa yang terjadi tempatnya saat ini kumu dan tidak terpakai. Bahkan hal itu sampai sekarang masih menjadi jualan untuk membangun opini di masyarakat,” paparnya.

“Kalau ada yang mengatakan kabupaten ini menjadi kabupaten percontohan di Sulsel. Tapi saya sebagai putra dari kabupaten ini menyatakan sama sekali itu bohong, dan masih sangat butuh pengembangan lagi yang lebih baik,” lanjutnya. (*)


div>