RABU , 17 OKTOBER 2018

Pakar Budaya Nilai Ikon Kereta Kuda di Parepare Sudah Tepat, Ini Alasannya

Reporter:

Editor:

Niar

Sabtu , 24 Februari 2018 12:13
Pakar Budaya Nilai Ikon Kereta Kuda di Parepare Sudah Tepat, Ini Alasannya

int

PAREPARE, RAKSUL.COM-Pakar budaya yang juga Ketua Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar, Dr Muhlis Hadrawi memberi apresiasi atas inovasi Pemerintah Kota Parepare dalam membangun ikon kereta kuda atau Taman Kereta Kencana di Kota Parepare.

Menurut Ketua Masyarakat Pernaskahan se Sulselbar ini, ikon kereta kuda merupakan simbol kesejahteraan, keperkasaan, dan lebih khusus sebagai simbol jika Parepare pernah berstatus sebagai pusat pemerintahan di wilayah Ajattappareng.

Dalam naskah kuno kata Muhlis Hadrawi, baik dari Lontara’ sejarah kerajaan Bacukiki, maupun Kerajaan Bone, diungkap tentang kehadiran hewan kuda di Kota Parepare.

Muhlis menuturkan, meski kuda bukan jenis hewan endemik atau yang ada di alam Sulawesi atau Parepare, namun kehadiran kuda merupakan pemberian atau hadiah dari bangsa asing, seperti Potugis terhadap raja Suppa’-Bacukiki sekira abad XV.

Lanjut Muhlis, Bangsa Hindia Belanda menilai Parepare sebagai daerah yang berjaya, dan layak dijadikan sebagai pusat pemerintahan.

Hingga abad XX, Bangsa Hindia Belanda yang dipimpin Controlur atau Gezag Hebber menjadikan Parepare sebagai daerah afdeling, yang menaungi beberapa daerah, seperti Barru, Sidrap, Enrekang, dan Pinrang. 

“Daerah-daerah di bawah Pemerintahan Hindia Belanda inilah dinamakan daerah under afdeling. Jadi sebenarnya Parepare luar biasa, pernah jadi pusat pemerintahan. Ikon kuda itu tepat, sebagai penanda bahwa daerah Parepare ini pernah berstatus sebagai pusat pemerintahan,” jelas Muhlis Hadrawi via phone, Sabtu, (24/2/2018).

Dari segi topografi kata pria yang menyelesaikan Doktoral jurusan Filologi pada Universitas Kebangsaan Malaysia ini, juga menyinggung tentang kondisi wilayah Parepare yang berbukit.

“Parepare itu wilayah berbukit. Dan salah satu media transportasi yang digunakan oleh Pemerintah pada waktu itu adalah kuda, karena selain memiliki kecepatan yang tinggi, gesit, kuat, juga mampu menjelajah daerah-daerah perbukitan,” papar pria yang rutinitasnya mengkaji naskah-naskah Lontara’ kuno di Sulsel ini.

Lalu, bagaimana dengan kereta kuda kencana? Muhlis kembali mengurai jika kereta kuda kencana adalah simbol kesejahteraan. Masyarakat yang memiliki kereta kuda, adalah masyarakat dari golongan bangsawan atau sejahtera. 

“Jadi bisa saja Pemkot Parepare menjadikan patung kereta kuda kencana ini sebagai simbol kesejahteraan agar semua masyarakatnya bisa sejahtera dengan berbasis pemerintahan yang kuat,” ujar pria yang pernah diundang ke Belanda melakukan pengkajian naskah Lontara’ Bugis.

Selain Bangsa Hindia Belanda, Bangsa Portugis pun pernah memberikan hadiah kuda kepada Raja Bacukiki sebagai bentuk persahabatan. “Jadi kuda juga diberikan oleh Bangsa Portugis yang melakukan misionaris persahabatan. Itu pada abad ke XVI,” bebernya.

Jika menelisik sejarah budaya, berdasar naskah kuno kata Muhlis Hadrawi, Parepare pernah berstatus sebagai Ibukota di Ajattappareng. (Nia)


div>