RABU , 19 SEPTEMBER 2018

PAN dari KMP ke KIH

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 11 September 2015 14:36
PAN dari KMP ke KIH

Armin Mustamin Toputiri

Oleh: Armin Mustamin Toputiri
Politisi

Di awal bulan September 2015, seolah tak ada badai, tak ada hujan, Partai Amanat Nasional (PAN) tiba-tiba saja membuat kejutan di pentas politik nasional. Partai politik besutan Amien Rais itu, segera membanting setir.

Memilih memutar haluan untuk bergabung dalam barisan partai politik penyokong kemenangan Jokowi-JK pada pelaksanaan Pilpres 2014, yakni PDI-P, Partai Nasdem, Partai Hanura, PKB dan PKPI untuk mengawal pemerintahan Jokowi-JK.

PAN seolah tak memiliki rasa risih untuk bergabung dengan mantan seterunya, sekaligus tak memiliki rasa bersalah untuk meninggalkan sekian partai politik sekutunya di Koalisi Merah Putih (KMP), yakni Partai Golkar, Gerindra, PKS dan PPP.

Padahal jika ditelusuri, justru Partai Gerindra dan PAN adalah pemantik utama berdirinya KMP itu. Gerindra mendorong Capres Prabowo, sementara PAN mendorong Ketua Umum PAN, Hatta Radjasa, sebagai Cawapres.

Mungkin sudah seperti itulah adagium dianut dalam kamus politik, “tak ada kawan ataupun lawan yang abadi dalam permainan politik, yang abadi adalah kepentingan itu sendiri”.

Dan para penggerak KMP, pun seolah memahami pesan yang termaktub dalam adagium itu. Kata Prabowo, tokoh utama KMP, bahwa langkah yang ditempuh PAN, seolah memberi pelajaran besar tentang kebersamaan dalam politik praktis. “Ya, kita sedang belajar lagi”, ujarnya.

Pernyataan Prabowo seperti itu, disampaikan untuk menanggapi dalih dikemukakan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, bahwa beralihnya dukungan politik PAN kepada pemerintahan Jokowi-JK, semata untuk memperkuat pilar politik kenegaraan dalam rangka menyelesaikan persoalan kebuntuan politik dan permasalahan ekonomi global yang dihadapi negara saat ini. “PAN ingin berkonstribusi untuk terlibat menyelesaikan permasalahan itu”, jelas Zulkifli.

Bahwa sikap yang ditempuh PAN itu, menurut Prabowo memang sangat diperlukan adanya suatu “cek and balance”, yakni adanya kekuatan penyeimbang untuk memberi koreksi, juga saran-saran dan masukan-masukan yang berarti. Terlebih lagi menurutnya, karena adanya kondisi ekonomi susah yang dihadapi bangsa saat ini.

“Makanya, saya mau pertegas bahwa sahabat-sahabat saya di KMP menghormati putusan PAN sebagai bagian demokratisasi”. Perpindahan PAN dari KMP ke KIH, memang secara kekuatan peta koalisi di parlemen DPR-RI punya pengaruh cukup kuat.

KMP yang mulanya memiliki kekuatan lebih, 243 kursi (43,4 %), namun KIH dengan kekuatan 236 kursi (45,8 %) kini telah mengalahkan kekuatan dimiliki KMP. Peta kekuatan lebih itulah yang diharap PAN dapat menyelesaikan permasalahan bangsa. Padahal masih ada 61 kursi (10,8 %) milik Partai Demokrat sebagai penyeimbang.

Jika peta kekuatan politik di parlemen seperti itu coba dicermati, maka harapan PAN untuk menyelesaikan permasalahan bangsa dari sisi itu, tentu bukanlah suatu kalkulasi politik yang matang. Sekaligus bukanlah dalih yang memiliki alasan yang kuat.

Terkecuali jika seandainya PAN memiliki agenda lain. Setelah PAN meraih posisi Ketua MPR-RI dari bagi-bagi kursi milik KMP, akankah PAN masih berharap posisi jabatan menteri dari hasil bagi-bagi kursi KIH ?.


Tag
  • voxpopuli
  •  
    div>