Kamis, 29 Juni 2017

Arifuddin Saeni (Wartawan)

Pancasila

Jumat , 02 Juni 2017 13:00
Arifuddin Saeni
Arifuddin Saeni
BARU kemarin memang hari kesaktian Pancasila kita rayakan,  hari di mana kita diperhadapkan pada sejarah tentang sebuah nilai yang harus kita junjung hingga kini. Kita tak boleh menepikan, bahwa Pancasila bukan lahir begitu saja, tapi penuh dengan perdebatan panjang, rapat-rapat yang alot. Dan, Soekarno, sang proklamator telah memantiknya sebagai dasar negara.

Di kekinian, di mata anak muda kita---atau barangkali kita yang salah, Pancasila sungguh telah 'terpinggirkan' dengan nilai-nilai yang baru, yang entah untuk apa. Mereka diperhadapkan pada sebuah jaman, di mana nilai itu sendiri kadang di nomor keberapakan. Pancasila,  hanya ada di upacara-upacara sekolah dan kantoran, tapi tidak ada di hati kita.

Karena itu,  jangan salahkan siapa-siapa kalau kita saling membenci, saling menghujat, dan, membenarkan diri sendiri. Keadilan yang berpihak, semakin merunyamkan kita dalam berbangsa dan bernegara. Kita, kadang tidak belajar, betapa banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk membangun negeri ini. Pancasila kadang kita tidak pahami dengan utuh.

Tapi sejarah juga kadang mengingatkan kita, untuk selalu menjaga. Pancasila sebagai dasar negara, memang tak pernah lepas dari banyak rongrongan, tapi negara mampu menjaganya dengan baik. Tapi ketika pemerintah meminta untuk menjadikan Pancasila sebagai salah satunya asas organisasi, penolakan terjadi di mana-mana. Tapi keseragaman kadang tak melahirkan cara berpikir yang sama, dan Pancasila ada di situ.

Di tahun 80 an, Pancasila sungguh berada pada semua level. Pada penerimaan mahasiswa baru pun,  kita disuguhi dengan ceramah-ceramah tentang ke Pancasila-an. Bagaimana membangun hubungan sosial yang baik. Tidak mengherankan kalau saat itu, ada seseorang yang berperilaku yang buruk, maka keluar pernyataan kalau Pancasila-nya belum baik.

Berita Terkait