SELASA , 17 JULI 2018

Panti Pijat Masih Buka, MUI Sulsel Minta Pemkot Makassar Tegakkan Aturan

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Kamis , 08 Juni 2017 03:04
Panti Pijat Masih Buka, MUI Sulsel Minta Pemkot Makassar Tegakkan Aturan

Ilustrasi.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Peraturan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar tentang penutupan tempat hiburan malam (THM), tempat karaoke dan panti pijat saat bulan suci Ramadan hanya isapan jempol belaka.

Pasalnya, saat ini peraturan berupa surat edaran kan oleh Pemkot Makassar kepada usaha usaha tempat hiburan tersebut nampaknya tidak diindahkan oleh pemilik usaha. Misalnya, seperti Tropicana yang terletak di Jalan Diponegoro masih tetap beroperasi dan dibuka siang bolong.

Bahkan, usaha panti pijat tersebut masih membuka layanan bagi pelanggan yang datang. Sejumlah perempuan juga terlihat berada di dalam panti pijat bersiap menyambut siapa yang hadir. Hal ini membuat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terjun langsung di lokasi, , Rabu (7/6).

Saat dikonfirmasi, Kaitan dengan panti pijat yang masih buka saat bulan suci Ramadhan. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel AGH Sanusi Baco, Lc merasa prihatin. Oleh sebab itu, sebagai tokoh agama di Sulsel, ia mengimbau kepada Pemkot Makassar untuk tegas dalam menjalankan Perda, maupun surat edaran terkait aturan penutupan panti pijat refleksi dan THM selama Ramadan.

“Saya Imbau Pemkot Makasar, jalankan Perda soal penutupan THM dan pijat, karna sangat mengganggu ibadah puasa kalau dibuka sampai selesai sesuai aturan yang berlaku,” kata Sanusi kepada Rakyat Sulsel saat dikonfirmasi Rabu (7/6).

Tokoh kharismatik NU Sulsel ini menegaskan, bulan suci Ramadan tak boleh dikotori oleh hal negatif seperti operasi THM dan panti pijat refleksi. Jika hal itu masih dibiarkan, lanjut dia, maka akan mengganggu bulan penuh magfirah dan ampunan ini.

“Seharusnya bulan suci  ramadhan ini, tidak boleh dikotori dengan praktek negetif seperti refleksi panti pijat. Pemkot Makassar punya aturan harus ditegakkan sesuai kesepakatan,” terangnya.

[NEXT-RASUL]

Dia menambahkan, semua perintah Allah SWT perlu ditaati. Dengan begitu, kata Sanusi, pihak pengusaha juga harus mentaati aturan yang diterapkan oleh Pemkot Makassar.

“Perlu diketahui semua perintah dan larang Allah untuk kebaikan masyarakat. Ini harus dipahami oleh pengusaha untuk tak melanggar aturan Pemkot Makassar,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Usaha Hiburan Malam (AUHM)  Zulkarnain Ali Naru mengungkapkan pihak pengusaha seharusnya tunduk dan patuh pada produk peraturan yang diterapkan  Pemkot Makassar.

“Perda yang sudah disepakati harus diikuti. Pengusaha juga harus paham. Produk daerah harus dijalankan,” singkatnya.

Seperti diberitakan, salah seorang pelayan, Wati yang dikonfirmasi mengakui jika panti pijat tersebut memang masih dibuka selama Ramadan.

“Tempat ini memang terbuka dan dibayar Rp 75 ribu per jam,” jelas Wati.


div>