KAMIS , 22 NOVEMBER 2018

PARA LOYALIS

Reporter:

Editor:

Lukman

Sabtu , 16 Desember 2017 09:30
PARA LOYALIS

Haidar Majid

Musim perhelatan politik seringkali dimaknai sebagai ‘ruang ekspresi’ bagi sebagian orang. Ekspresi bisa dihadirkan lewat kreativitas, bisa juga berupa dukungan, bisa juga dalam bentuk menyebar luaskan kelebihan calon dan tak lupa yang satu ini, mengutak-atik kelemahan kompetitor, baik itu berupa ‘ghibah’ ataupun “fitnah”.

Bagi mereka yang kreatif, akan banyak menarik ‘manfaat’ dari sebuah perhelatan politik. Momentum ini digunakan sebagai ajang unjuk kebolehan dalam merebut simpati orang lain untuk menambah barisan panjang dukungan terhadap orang atau kelompok yang didukungnya.
Hanya saja, tak mudah menjadi seorang yang kreatif di tengah tensi politik yang ‘turun-naik’.

Masalahnya, kebanyakan olah kreativitas itu seringkali butuh ruang dan waktu yang cukup ‘tenang’ untuk mencari ide atau gagasan. Sementara perhelatan politik lebih didominasi oleh suasana hiruk pikuk yang sahut-sahutan.

Tetapi, seseorang yang benar-benar kreatif, bisa hadir dan berkreasi di suasana apapun juga. Tak peduli tenang atau hiruk pikuk, tak peduli bising atau sunyi senyap. Malah tidak jarang, orang yang kreatif justru menjadikan ‘suasana’ sebagai salah satu sumber inspirasi dan melahirkan ide atau gagasan brilian.

Sebaliknya, mereka yang tidak kreatif, senantiasa diliputi rasa cemas, tegang dan cenderung reaktif. Kecemasan membuatnya miskin ide, ketegangan menggiringnya pada posisi siap menyerang dan kecenderungan untuk reaktif, menjadikan dirinya selalu “ingin” bahkan terus menerus siap siaga menyahuti apa saja, termasuk hal-hal sepele yang sebenarnya tak penting untuk disahuti.

Mereka yang tidak kreatif juga seringkali atau lebih banyak terjebak pada upaya menyenang-nyenangkan orang atau kelompok yang didukungnya. Baginya, yang penting mereka senang, soal apakah itu berimplikasi negatif pada upaya meraih simpati orang lain, itu soal lain. Yang penting orang atau kelompok yang didukung senang, urusan selesai.

Orang seperti ini lupa kalau tujuan “mendukung” itu bukan untuk menyenangkan orang atau kelompok yang didukungnya atau sekedar jadi “penggembira” atau “barisan hore-hore”, tetapi sesungguhnya mereka hadir untuk menambah dan menguatkan barisan pendukung agar orang atau kelompok yang didukungnya bisa meraih apa yang menjadi target atau tujuan.

Belum lagi orang seperti ini kadang lupa bahwa senang atau ke-senang-an atau menyenang-nyenangkan itu tidak standart atau relatif. Artinya, kalau anda merasa atau menduga telah membuat senang atau menyenangkan orang lain, apakah orang yang dimaksud memang merasa senang? Jawabnya, belum tentu !

Tidak tertutup kemungkin, orang yang di senang-senangkan sama sekali tidak merasa senang, malah merasa terganggu atau kurang nyaman. Apa sebab? Mungkin cara anda membuat dirinya senang amat sangat berlebihan, norak dan kontra produktif bagi orang yang sedang anda senangkan. Itu catatannya.

Jadi, jika anda tidak terlalu kreatif untuk bisa menyenangkan orang atau kelompok yang didukung dan malah efek ‘menyenangkan’ itu bisa merugikan orang atau kelompok yang didukung, maka sebaiknya anda ‘statis’. Pilihan ini jauh lebih manfaat ketimbang terlalu ‘dinamis’ tetapi menuai mudharat. (*)


Tag
  • Haidar Majid
  •  
    div>