MINGGU , 21 OKTOBER 2018

PARAH..Siang Diraba, Malamnya Diperkosa

Reporter:

Editor:

faisalpalapa

Rabu , 13 April 2016 17:20
PARAH..Siang Diraba, Malamnya Diperkosa

MENYESAL: Kini pelaku pemerkosaan (duduk) hanya bisa menyesali perbuatannya. Ia pun harus merasakan sakitnya hidup di balik jeruji besi.

SANGATTA, RAKYATSULSEL.COM – Perbuatan bejat L (43), warga Kecamatan Teluk Pandan yang tega merenggut keperawanan Mawar (15) -bukan nama sebenarnya- yang tak lain adalah anak kandungnya tersendiri, ternyata sudah berlangsung cukup lama. Pasalnya, nafsu setan pelaku telah dirasakan putri bungsunya itu sejak duduk di bangku kelas III sekolah dasar (SD).

Ditemui Radar Kutim (Kaltim Post Grup) di ruangan sel tahanan Polres Kutai Timur (Kutim), Selasa (12/4) siang, dengan wajah tertunduk dan suara rintih, pelaku mengaku khilaf dan menyesal atas perbuatannya yang telah tega merenggut mahkota anak putrinya tersebut.

Ia menceritakan, perbuatannya mencabuli korban pertama kali dilakukan saat korban masih duduk di bangku kelas III SD. Ia mengaku, awalnya dirinya hanya meraba-raba kemaluan korban dan meremas-remas payudara korban. Itu dilakukan saat siang hari, atau setelah korban pulang sekolah.

Ketika itu, istrinya sedang tidak berada di rumah. Setelah korban mulai beranjak dewasa, tepatnya saat duduk di bangku kelas I sekolah menengah pertama (SMP) atau awal tahun 2013 silam, pelaku kembali mencabuli korban. Saat itu, pelaku mencabuli korban di dalam kamar tidurnya.

Puncak kisah pilu yang dialami korban, yakni akhir Desember 2015 lalu. Mahkota dan kesuciannya harus direlakan, jatuh di tangan bapak kandungnya sendiri. Pelaku mengaku, nafsu birahinya tiba-tiba muncul setelah melihat putrinya itu hendak menanggalkan baju.
“Kejadiannya malam, pukul 19.30 Wita. Saat itu, saya lewat kamar dia (korban, Red). Saya melihatnya tidak memakai baju, dia hanya pakai celana saja usai mandi. Kemudian saya langsung masuk ke kamarnya, lalu menidurinya. Istri dan anak-anak saya yang lain sudah tidur,” ungkap Sh, kemarin.

Kata Sh, dikarenakan pada malam itu korban tidak melakukan perlawanan apa pun. Dirinya kemudian kembali meraba-raba kemaluan korban pertengahan Januari 2016. “Saat saya menidurinya, dia (Korban, Red) tidak melawan. Saya nggak tahu apakah karena dia takut atau apa,” sebutnya.

Hal serupa kemudian ingin kembali dilakukan pelaku di akhir Januari, namun korban menolak dan memilih kabur dari rumah. “Kalau siang hari, saya hanya meraba-raba saja kemaluan dan dadanya. Dan, baru malam itu (Desember 2015, Red.) saja saya menidurinya,” tutur pelaku menyesali perbuatan.

Ditanya terkait dugaan bila anak perempuan keduanya juga telah digauli oleh pelaku, ia membantah. Itu tidak pernah dilakukannya. “Nggak Mas, itu nggak ada saya lakukan. Selain itu, saya tidak pernah lagi. Saya minta maaf, saya mengaku menyesal dan khilaf sudah melakukan itu,” ujar pria yang sehari-hari sebagai petani ini.

Sementara itu, Kapolres Kutim AKBP Anang Triwidiandoko didampingi Kasat Reskrim AKP Andika Dharma Sena mengatakan, kasus tersebut masih terus didalami pihaknya. Seperti halnya ibu korban, Selasa (12/4) kemarin, telah dimintai keterangan.
“Apakah ada korban lain lagi dalam kasus ini, masih kami lakukan pemeriksaan kepada pelaku. Untuk mengungkap kasus ini, ibu korban sudah kami panggil. Nantinya, orang-orang terdekat korban juga akan periksa dan kami mintai keterangan,” sebutnya. (drh/kpnn/ono)


Tag
div>