SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Parpol Baru Jangan Cuma Numpang Lewat

Reporter:

FAHRULLAH-ARINI

Editor:

Iskanto

Senin , 22 Oktober 2018 07:34
Parpol Baru Jangan Cuma Numpang Lewat

ilustrasi (Rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Umum (Pemilu) akan digelar 17 April 2019 mendatang. Sebanyak 16 partai politik mulai mematangkan strategi memenangkan pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Dari 16 parpol yang lolos sebagai peserta Pemilu 2019, 12 di antaranya merupakan partai lama. Yakni Golkar, PAN, NasDem, PDIP, Demokrat, PKS, Gerindra, PAN, Hanura, PPP, PKPI dan PBB.

Sementara empat lainnya adalah partai baru. Mereka adalah Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Berkarya, dan Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda).

Sebagai partai baru, masyarakat tentu masih asing. Karenanya, sanggupkah parpol baru bersaing pada pemilu nanti? atau hanya sekadar numpang lewat.

Ketua PSI Sulsel, Fadly Noor mengatakan, sebagai partai baru, pastinya tidak ingin hanya sekadar numpang lewat atau sebagai penggembira saja, namun ia akan unjuk gigi memperlihatkan kepada partai-partai lama jika mereka bisa bersaing.

“Sebagai partai baru, tantangan terbesar tentu soal popularitas partai,” kata Ketua Fadly Noor.

Kendala yang paling sulit bagi parpol baru, kata dia, banyaknya aturan yang dikeluarkan KPU, khususnya pemasangan APK yang terbatas.

“Kita memang terkendala dengan beragam aturan KPU, baik itu soal iklan dan penggunaan alat peraga. Sehingga sekarang kami lebih kerja keras,” ujarnya.

Untuk bersaing dengan partai lama, PSI memiliki strategi sosialisasi dengan cara door to door serta temu komunitas. “Jadi setiap kader sosialisasi dengan cara door to door,” jelasnya.

Dengan door to door, Fadly Noor berharap elektabilitas dan dukungan kepada PSI bisa menyaingi partai-partai lama. “Diharapkan dengan kunjungan door to door tersebut akan meningkatkan awareness partai dan dampak elektoral,” jelasnya.

Ketua DPW Perindo Sulsel, Sanusi Ramdhan menegaskan, bahwa partai besutan Harry Tanoesoedibjo ini bukan hanya sekadar ikut meramaikan Pemilu 2019. Dengan melihat pengenalan dan elektabilitas Partai Perindo sudah cukup diperhitungkan.

“Walaupun ini partai baru namun kita lihat tren pengenalan dan elektabilitas partai Alhamdulillah Perindo sudah dianggap menjadi partai yang diperhitungkan,” ujarnya.

Pihaknya juga hingga saat ini terus rutin melakukan pengenalan dan sosialisasi Partai Perindo. Selain itu, struktur partai internal Perindo yang menurutnya sudah sampai kepada akar rumput, dapat membantu untuk terus meningkatkan elektabilitas Perindo.

“Apa strateginya? Saya rasa banyak lah dan apa yang dilakukan semua partai politik tidak lebih sama saja. Walaupun ada program yang dilakukan diinternal partai, oleh dewan pimpinan pusat seperti tetap beriklan dibeberapa tempat. Struktur partai kita itu masih tegak, struktur baru kita juga full diseluruh kecamatan. Bahkan, sudah 50 persen kelurahan sudah kita isi,” jelasnya.

Strategi berikutnya kata dia, adalah peningkatan kualitas masing-masing Caleg. Apalagi, saat ini setiap Caleg dimasing-masing Dapil, diwajibkan untuk saling membantu meningkatkan suara partainya.

“Kekuatan berikutnya Caleg itu sendiri. Caleg tidak dibebankan untuk mengamankan suara. Tapi untuk mencari suara. Pengamanan suara, penyediaan saksi itu menjadi tanggung jawab partai. Ada pembagian peran sehingga saya yakin Perindo Sulsel dapat bersaing,” tuturnya.

Pihaknya membeberkan, jika Partai Perindo menargetkan 1 kursi disetiap dapil kabupaten/kota di Pileg mendatang. Bahkan untuk provinsi, pihaknya menargetkan mendapatkan tujuh kursi.

“Kalau untuk Sulsel saya kira kita cukup rasional dan realistis. Satu fraksi di masing-masing kabupaten/kota dan di provinsi juga satu fraksi dengan melihat kondisi yang ada,” tukasnya.

Sementara Partai Berkarya juga optimis mampu bersaing dengan partai lama yang sudah memiliki nama yang cukup besar.

“Caleg Partai Berkarya pastinya akan berhadapan dengan Caleg incumbent partai lama yang punya modal dan nama besar serta pengalaman yang luas. Walaupun demikian, Partai Berkarya sudah berkomitmen bahwa tidak mau kalah dengan partai lama,” ujar Ketua DPD 1 Partai Berkarya Sulsel, Patabai Pabokori.

Pihaknya cukup optimis dengan melihat potensi Caleg yang dimiliki. Sebagian besar Caleg Partai Berkarya sudah memiliki pengalaman terkait politik pemerintahan.
Banyaknya tokoh yang bergabung dengan partai besutan Tommy Soeharto ini menandakan bahwa Partai Berkarya cukup diminati.

“Kita bertekad akan memenangkan Pemilu yang akan datang, dan saya optimis. Oleh karena kader dan Caleg Partai Berkarya sangat potensial, baik Caleg kabupaten/kota atau provinsi maupun pusat,” tuturnya.

“Banyak Caleg Partai Berkarya mantan birokrasi, banyak juga tokoh agama, tokoh masyarakat dan pengusaha. Kelihatannya Partai Berkarya punya daya tarik tersendiri. Sehingga saya optimis, pemilu yang akan datang Partai Berkarya akan memenangkannya,” ucapnya.

Tak tanggung-tanggung, Partai Berkarya menargetkan pimpinan DPRD disejumlah kabupaten/kota. “Kami target pimpinan DPRD disejumlah kabupaten/kota. Dan kami yakin akan merebut itu. Walaupun partai baru, saya optimislah,” katanya.

Terpisah, Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Andi Haris mengatakan, keberadaan Parpol baru tergantung dari siapa elit politik yang tergabung didalamnya. Karena, kata dia, melakukan pengenalan Parpol kepada masyarakat itu membutuhkan waktu. Sehingga, diperlukan orang yang sudah berpengalaman, agar proses pengenalan partainya bisa lebih cepat.

“Saya kira kalau mau dipikir tidak seperti dengan pemain lama. Mereka harus bekerja keras untuk memperoleh suara sebanyak mungkin. Karena pengenalan partai kepada masyarakat itu mempunyai proses yang cukup panjang. Kecuali ada tokoh partai yang lama ke partai baru yang diharapkan dapat meraup suara sebanyak mungkin,” jelasnya.

Sehingga, Parlementary Threshold (ambang batas) itu dengan mudah bisa dicapai. “Yang kita khawatirkan itu kalau partai baru itu yang gabung juga elit politik yang baru, itu susah dan harus kerja keras. Kalau dengan elit politik baru, dalam artian tidak populer agak repot untuk mencapai Parlemantary Threshold,” pungkasnya. (*)


div>