SENIN , 10 DESEMBER 2018

Parpol Haramkan Calegnya “Selingkuh”

Reporter:

Iskanto

Editor:

Lukman

Selasa , 07 Agustus 2018 15:20
Parpol Haramkan Calegnya “Selingkuh”

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Perbedaan pilihan pada partai politik sulit memisahkan hubungan emosional dan kekeluargaan. Namun dalam perebutan kursi legislatif, nampaknya hubungan keluarga tersebut harus disingkirkan sejenak.

Tidak menutup kemungkinan akan ada calon legislatif (Caleg) yang memiliki hubungan keluarga dengan caleg lain yang berbeda partai politik. Hal inilah yang kerap dimanfaatkan untuk turun dan bekerja sama atau tandem dalam hal sosialisasi di masyarakat.

Ketua DPC Hanura Makassar, Yunus meminta calegnya saling bergandengan sesama caleg Partai Hanura di semua tingkatan. Ia mengharuskan calegnya memilih tandem satu partai dalam berkampanye.

Yunus dengan tegas melarang caleg Hanura tandem dengan caleg partai lain. “Hanura tidak mengizinkan untuk tandem dengan partai lain. Misalnya kita tandem dengan kader partai lain, menurut aturan partai itu tidak boleh, tidak ada istilah tandem dengan partai lain, haram hukumnya,” kata Yunus, Senin (6/8).

Yunus menegaskan, Hanura tidak segan-segan memberi sanksi tegas kepada calegnya ketika ditemukan bekerjasama dengan caleg partai lain. Bahkan ketika caleg Hanura terpilih lantaran bekerja sama dengan caleg lain, maka langsung akan ditindaki dengan Pergantian Antar Waktu (PAW).

“Malah kalau ada kader Hanura kalau toh dia terpilih, tapi baru kita tau, kita PAW. Memang jauh sebelumnya kita wanti-wanti bahwa tidak boleh ada istilah tandem dengan partai lain,” jelasnya.

Yang dibolehkan, kata Yunus, adalah tandem sesama caleg Partai Hanura. Apakah itu dilakukan berdasarkan tingkatan caleg pada pemilu mendatang. “Kalau mau tandem yah dengan partai yang sama. Misalnya kalau caleg DPR RI tandem dengan caleg DPRD provinsi tidak ada persoalan. Kalau berbeda partai itu tidak boleh dan sudah menjadi aturan. Dan saya kira semua partai juga seperti itu,” tuturnya.

Agar para calegnya tidak ada yang mencoba bekerjasama dengan caleg partai lain, lanjut Yunus, mereka akan dikumpulkan dan diberikan arahan serta memberikan pernyataan berupa pakta integritas.

“Kalau satu partai itu dianjurkan, malah itu nanti ini mau kita kumpulkan semua caleg kita akan sampaikan hal semua itu. Tidak boleh ada jeruk makan jeruk itu haram hukumnya. Jadi kita memang sudah sampaikan, juga nanti harus menandatangani pakta integritas. Jadi tidak bisa mengelak.Tidak ada alasan biar saudara atau apapun itu, yang jelas kalau tandem dengan partai lain itu sudah sangat salah,” terang Yunus.

Ketua PKS Makassar Anwar Farouk mengatakan bahwa ia yang baru menjabat sebagai ketua belum tahu persis seperti apa aturan dalam pencalegan PKS. Meskipun begitu menurutnya, caleg PKS harus bekerjasama dengan caleg PKS dan bukan dari caleg partai lain.

“Saya belum dapat arahan dari atas bisa tandem atau tidak. Tapi kita pasti imbau untuk tandem dengan partainya sendiri dalam hal ini PKS,” kata Anwar.

Karena menurutnya, ketika caleg PKS tandem dengan caleg dari partai lain dengan beda tingkatan pastinya akan merugikan caleg PKS yang lainnya. Dalam hal ini menurutnya sangat tidak bijaksana dalam menjalankan mesin partai.

“Sesama PKS lah tandem, jadi atas kebawah itu terarah. Karena tentunya kalau dia tandem dengan caleg partai lain otomatis dia mengalahkan tim PKS. Misalkan kota dia maju lantas tandem dengan caleg DPRD provinsi dari partai lain berarti kansnya untuk temannya di Partai PKS itu sudah jatuh. Dan itu tidak bijaksana,” terangnya.

Menanggapi hal itu, Pakar Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono menuturkan selama ini belum ada satu parpol yang mengeluarkan regulasi perihal pembolehan caleg partainya tandem dengan caleg partai lain. Karena tentunya setiap caleg sudah mengetahui tugasnya untuk membesarkan partainya dan bukan partai orang lain.

“Menurut pengetahuan saya, tidak ada regulasi yang mengatur secara rigid soal tandem caleg dari satu partai dengan caleg partai lain,” kata Arief.

Meskipun begitu, lanjut Arief, tidak dipungkiri para caleg terkadang ada dijalan yang berbeda dengan partainya. Hal ini terjadi disebabkan beberapa faktor yang mungkin saja dialami oleh para caleg tersebut.

“Namun fenomena itu menarik untuk dicermati karena gerak politik masing-masing caleg dengan masing-masing partainya ternyata bisa saling beirisan dan bisa saling menguntungkan. Setidaknya itu yang dipahami oleh para caleg tandem beda partai tadi,” tandasnya. (*)


div>