RABU , 22 AGUSTUS 2018

Parpol Utamakan Usung Kader

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 20 April 2016 11:03
Parpol Utamakan Usung Kader

Ilustrasi. Doc.RakyatSulsel

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM — Salah satu alasan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel menjadi menarik untuk dibicarakan, karena tidak adanya petahana yang akan kembali bertarung.

Hal lain yang mungkin bisa menjadi alasan, karena Pilgub nantinya akan bersamaan dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 12 kabupaten/kota di Sulsel.

Selain itu, Pilgub juga menjadi arena pertarungan kader internal partai, seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sedang panas-panasnya mensosialisasikan ketua DPD PDIP Sulsel Andi Ridwan Wittiri, Partai Nasional Demokrat (NasDem) yang mempopulerkan Akbar Faisal dan Lutfy A Mutti.

Sedangkan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sendiri memiliki beberapa kader terbaik antara lain mantan Bupati Enrekang sekaligus Ketua DPD Gerindra Sulsel La Tinro La Tunrung, mantan Bupati Bantaeng Azikin Solthan, mantan Bupati Pinrang Andi Nawir, dan mantan Bupati Sinjai Rudiyanto Asapa serta Partai Golkar sebagai partai penguasa di Sulsel dengan nama yang menguat Ichsan Yasin Limpo, Arifin Nu’mang dan HM Roem yang terakhir Ahmad Tanribali Lamo yang juga merupakan pengurus DPP Partai Demokrat.

Dari 12 partai yang memiliki kursi di DPRD Sulsel, enam diantaranya masih melempeng alias belum pede mengusung kadernya untuk bertarung di pada pilgub sulsel.

Partai Golkar dan Gerindra dinilai paling siap untuk maju bertarung pada Pilgub 2018, pasalnya partai berlambang pohon beringin ini memiliki 18 kursi atau 21.2 persen di DPRD. Dengan jumlah tersebut otomatis Golkar bisa mengusung calon gubernur tanpa berkoalisi dengan partai lain.

[NEXT-RASUL]

Sedangkan Partai Gerindra selain memiliki sejumlah kader yang layak untuk maju sebagai calon gubernur, Gerindra juga menguasai 12.9 persen kursi di DPRD atau kurang 3 persen untuk mengusung calon gubernur nanti.

Meski tidak menutup kemungkinan akan diusung oleh parpol, namun kader non parpol akan kesulitan mencuri perhatian dari partai yang memiliki jumlah kursi diatas 5, selain Partai Amanat Nasional yang memiliki 7 kursi di legislatif, namun belum memiliki figur untuk didorong maju pada pilgub.

Nantinya figur non parpol akan dihadapkan pada pilihan kosong dua atau membentuk koalisi partai.

Meski dengan kondisi itu, sejumlah figur non parpol masih saja sibuk melakukan sosialisasi pencitraan untuk menggaet parpol, tentunya sebagai kendaraan politiknya. Mereka antara lain, Nurdin Abdullah, Abdul Rivai Ras, dan Burhanuddin Andi.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Andi Irwan Aras sendiri mengatakan akan mengutamakan kader internal untuk diusung pada Pilgub. Ia beralasan, adanya beberapa kader internal yang memiliki latar belakang sebagai mantan bupati dua periode adalah calon kuat untuk diusung partainya.

“Tentu kita akan memberi porsi yang lebih banyak pada kader internal, karena kader internal yang ada dan mencuat untuk menjadi calon gubernur itu memiliki kapasitas yang kuat sebagai mantan bupati dua periode dan saya kira semua sudah tahu itu,” ujarnya, Selasa (19/4).

[NEXT-RASUL]

Namun, kata Irwan, partai Gerindra akan tetap membuka metode penjaringan sesuai dengan mekanisme standar partai. Oleh karena itu, kata dia, memiliki latar belakang bupati dua periode belum bisa menjamin akan diusung oleh partai berlambang Burung Garuda tersebut.

“Kita akan tetap buka penjaringan sesuai dengan mekanisme standar partai, seperti mempertimbangkan elektabilitas dan hasil survei tentunya,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulsel, Malarangang Tutu mengatakan partainya akan mengupayakan kader internal untuk diusung pada Pilgub. Ia mengaku, untuk menghadapi Pilkada serentak dan Pilgub, PKS telah membentuk Tim Pemenangan Pilkada Daerah (TPPD).

“Insya Allah kita akan upayakan kader untuk diusung pada Pilgub mendatang, dan itu sudah diagendakan pada TPPD yang sudah kami bentuk,” kata Malarangang.

Ia menambahkan, akan memberikan ruang yang seluas-luasnya pada kader yang akan maju pada Pilgub. Ia juga mengaku akan memfasilitasi kader untuk melakukan sosialisasi.

“Tentu ini adalah bentuk penghargaan kita pada kader untuk tampil melakukan sosialisasi menjelang Pilgub, setelah itu baru kita akan lihat bagaimana respon masyarakat terhadap kader tersebut apakah layak untuk diusung partai atau tidak,” ujarnya.

[NEXT-RASUL]

Namun, kata dia, pihaknya tetap akan melakukan komunikasi dengan seluruh kandidat yang telah mencuat untuk melakukan komunikasi. Menurutnya, hal itu dikarenakan untuk melihat konsep dan program yang ditawarkan oleh kandidat tersebut.

“Tentu kita juga lakukan komunikasi dengan kandidat lain yang sudah melakukan sosialisasi saat ini, kita akan melihat bagaimana konsepnya untuk membangun Sulsel kedepan, tapi konsep dan program tersebut tidak serta merta langsung diusung oleh partai, tapi tentu melalui mekanisme yang ada pada partai,” ujarnya.

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Waris Halid mengatakan Hanura belum bersikap mengenai Pilgub Sulsel 2018 mendatang. Alasannya, kata dia, jadwal pelaksanaan Pilgub masih lama.

“Kalau kita di partai Hanura belum bersikap sama sekali terkait Pilgub, karena kan masih lama juga pelaksanaanya,” kata Waris, Selasa,

Bukan hanya itu, ia juga mengatakan kader internal maupun kader non partai memiliki posisi yang sama untuk diusung partai Hanura. Namun, ia menggarisbawahi yang akan diusung oleh Hanura ialah yang memiliki peluang untuk menang.

“Berbicara masalah usungan Hanura nanti pada Pilgub itu semua sama antara kader maupun non kader, yang paling penting untuk dipertimbangkan adalah kans bakal calon tersebut untuk menang, saya kira itu ji,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Terkait dengan adanya isu bahwa kader non parpol telah melakukan komunikasi dengan elit partai Hanura, Waris enggan mengomentari hal teraebut. Menurutnya, DPD Hanura Sulsel akan tetap melakukan penjaringan nantinya sesuai dengan mekanisme yang ada pada partai Hanura.

“Saya belum tahu kalau ada kandidat non Parpol yang melakukan komunikasi dengan elit partai Hanura, yang jelas kita yang ada di DPD tetap akan melakukan penjaringan sesuai dengan mekanisme yang ada,” ungkapnya.

Pakar Politik Univeristas Islam Negeri (UIN), Firdaus Muhammad menuturkan, Partai kesulitan mengusung kader internal karena problem internal seperti konflik atau soal pendanaan. Partai telah mencermati peta politik sehingga kadang jadi pertimbangan tidak usung kader karena figurnya tidak layak jual.

“Padahal seharusnya pilgub jadi agenda penting bagi partai untuk unjuk kekuatan,” ungkapnya.

Firdaus menjelaskan, seharusnya partai sejak awal menyiapkan kader untuk jenjang posisi mulai bupati, wali kota ataupun gubernur. “Lemahnya kaderisasi menjadi soal serius disamping soal kepercayaan publik terhadap kinerja partai,” kata dia

Problem utama partai, lanjut Firdaus, karena tidak memiliki kader yang disiapkan untuk pilgub. Akibatnya condong pragmatis dengan mendukung figur non partai atau kader partai lain.

[NEXT-RASUL]

“Figur eksternal jadi incaran partai jika melihat peluang menangnya tinggi berdasar partai. Jadi peluang Nurdin dan Rivai bakal diusung partai jika surveinya bagus,” tutupnya.

 


div>