RABU , 15 AGUSTUS 2018

Partai Pendukung NA – ASS Terancam Pecah

Reporter:

Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Rabu , 27 Desember 2017 11:04
Partai Pendukung NA – ASS Terancam Pecah

NA-ASS. Foto : ist

– Sulsel Tak Masuk Koalisi Permanen

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Koalisi permanen Gerindra, PKS, dan PAN ditetapkan di lima provinsi. Antara lain, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara. Sedangkan Sulsel, tidak masuk dalam koalisi permanen tersebut. Padahal diketahui, di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel, ketiga partai ini telah mengarahkan dukungannya kepada Nurdin Abdullah – Andi Sudirman Sulaiman (NA – ASS).

Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, Arief Puyuono, mengakui, penetapan koalisi permanen Gerindra, PKS, dan PAN memang baru dilakukan di lima provinsi. Yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara. Tetapi untuk Sulsel, masih akan dibahas lebih lanjut.

“Nantilah dilihat,” singkatnya saat dihubungi via telpon, Selasa (26/12).
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Gerindra Sulsel, Idris Manggabarani, mengaku sama sekali belum mengetahui alasan DPP tak menetapkan Pilgub Sulsel dalam koalisi parmenen.

Ia berpendapat, DPP tentunya memiliki pertimbangan khusus untuk menilai figur atau kandidat, sehingga memutuskan tidak memasukkan Sulsel dalam koalisi permanen.
“Saya belum tau alasan kenapa Sulsel tidak masuk koalisi nasional. Karena DPP belum menyampaikan,” ujarnya.

Idris meyakini, semua kemungkinan bisa saja terjadi sehingga arah koalisi nasional bisa saja akan terwujud di Pilgub Sulsel 2018 mendatang. “Tapi semua kemungkinan bisa saja terjadi,” lanjutnya.

Menurut Idris, teka-teki pemilik rekomendasi berformat B1. KWK Partai Gerindra akan terjawab jelang pendaftaran di KPU Sulsel. Sesuai jadwal, pendaftaran mulai berlangsung 8 -10 Januari 2018. Sejauh ini, Partai Gerindra baru menerbitkan surat tugas kepada pasangan Nurdin Abdullah – Andi Sudirman Sulaiman.

“Berubah apa tidak itu rekomendasi, ada di Pak Prabowo. Yang pasti itu, kalau kandidat yang akan mendaftar di KPU,” imbuhnya.

Ia mengaku hanya melaksanakan apa yang menjadi perintah dari DPP. Namun terkait ada perubahan atau dukungan digoyang, itu sudah bukan keputusan darinya.”Keputusan yang final adalah di tangan dinginnya Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto,” pungkasnya.

Sementara, Wakil Ketua DPP PKS, Akmal Pasluddin, tak mempermasalahkan jika koalisi PKS dan Gerindra batal di Pilgub Sulsel. Menurutnya, masing-masing partai punya kepentingan tersendiri.

“Tak masalah. Masing-masing parpol punya kepentingan berbeda,” ungkapnya.
Meski demikian, ia juga mengakui segala kemunginan bisa diatur sehingga apa yang belum terjadi bisa saja berubah di kemudian hari. “Yang pasti, semua kemungkinan bisa berubah dan akan bersama,” pungkasnya.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PKS Sulsel, Irwan ST, saat dikonfirmasi juga enggan untuk ikut campur tangan perihal arah dukungan Gerindra di Pilgub Sulsel yang diwacanakan telah beralih. Dimana, sebelumnya Gerindra dan PKS telah komitmen mengusung Nurdin Abdullah – Andi Sudirman Sulaiman.”Kami tidak mau campuri kebijakan rekan-rekan partai yang lain. Itu urusan dapur mereka,” tutur Legislator Makassar ini.

Namun memang, Irwan berharap partai besutan Prabowo Subianto tersebut tetap komitmen dengan keputusan awalnya dalam mengusung Nurdin Abdullah – Andi Sudirman Sulaiman. Karena, baik PKS dan Gerindra telah membangun koalisi di beberapa provinsi di Indonesia, untuk memenangkan dukungannya.

“Meskipun kami di PKS berharap, koalisi empat partai yang sekarang menopang pasangan NA-ASS tetap solid hingga pertarungan Pilgub Sulsel ini usai,” harapnya.

Menanggapi hal itu, Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Syarifuddin Jurdi, menuturkan, dinamika politik yang terbangun di beberapa daerah memang sangat berbeda dengan kondisi di Sulsel. Hal itu terbukti dengan koalisi parpol yang bisa dikatakan Sulsel adalah wilayah yang paling dinamis hingga jelang pendaftaran mendatang.

“Memang menarik pernyataan petinggi Gerindra, PAN dan PKS terkait koalisi permanen pada lima provinsi, tidak disebutkan Sulsel sebagai salah satu dari lima provinsi itu,” kata Syarifuddin.

Apalagi, keputusan dukungan parpol di setiap wilayah sangat ditentukan oleh elite parpol. Artinya, Sulsel menjadi salah satu wilayah yang sulit ditebak dinamika perpolitikannya. Gerindra yang awalnya dengan terang-terangan menyatakan dukungan ke Nurdin Abdullah, hampir pasti berbelok ke Agus Arifin Nu’mang.

“Tentu pernyataan ini menarik mengingat Gerindra dan PKS sebelumnya sudah menyatakan mendukung Nurdin Abdullah. Seharusnya, Gerindra dan PKS memasukkan juga Sulsel, tapi nyatanya tidak,” terangnya.

Menurutnya, Gerindra sebagai pemegang sebelas kursi di DPRD Sulsel sangat memungkinkan untuk mendorong kandidat lain di Pilgub Sulsel mendatang. Bahkan, tidak menutup kemungkinan apabila PKS juga mengikuti Gerindra untuk bersama membangun koalisi, maka bisa dipastikan akan mengubah konstalasi politik di Pilgub Sulsel yang beberapa waktu terakhir cukup dinamis.

“Ini bisa dibaca bahwa arah dukungan Gerindra dan atau PKS akan berubah dalam Pilgub Sulsel. Sangat mungkin Gerindra sebagai salah satu dari teka teki parpol yang akan mendukung Agus Arifin Nu’mang yang sudah menyatakan siap deklarasi awal 2018,” papar Syarifuddin.

Tetapi, apabila PKS tetap pada komitmennya saat ini, berarti Sulsel adalah satu-satunya wilayah yang Gerindra dan PKS tidak membangun koalisi karena kepentingan masing-masing. Kalau demikian, maka PKS tetap pada pasangan Nurdin Abdullah – Andi Sudirman Sulaiman, dan Gerindra akan mendukung Agus Arifin Nu’mang.

“Di Sulsel, Gerindra dan PKS memiliki kepentingan yang berbeda,” pungkasnya. (*)


div>