SENIN , 11 DESEMBER 2017

Pasangan Tergantung Pesanan

Reporter:

Iskanto - Suryadi - Al Amin

Editor:

asharabdullah

Rabu , 06 Desember 2017 11:11
Pasangan Tergantung Pesanan

Dok. RakyatSulsel

– Agus Pasrah Diatur Partai
– PKS Diisukan Ikuti Sikap Politik Gerindra

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Situasi politik jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018, makin dinamis. Tidak hanya sebatas tarik menarik dukungan partai, tapi juga pasangan kandidat yang mengikuti pesanan partai pengusung.

Hal yang cukup menarik terjadi di Pilgub Sulsel. Pada pertengahan tahun 2016, Bupati Bantaeng dua periode Nurdin Abdullah (NA) memutuskan menggandeng Tanribali Lamo (TBL), yang berlatar belakang militer untuk bertarung di pilgub. Namun, paket ini bubar di tengah jalan. NA kemudian memilih Andi Sudirman Sulaiman (ASS), adik kandung Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Ditengarai, ada campur tangan Amran dalam paket NA – ASS ini, termasuk partai pengusung.

Dicampakkan NA, TBL sempat menunjukkan kedekatannya dengan Ketua DPD I Golkar Sulsel, Nurdin Halid (NH). Namun, TBL menyebut kedekatannya dengan NH merupakan hal yang wajar, mengingat dirinya masih menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) DPP Golkar.

Belakangan, nama TBL kemudian diisukan bakal berpaket dengan Agus Arifin Nu’mang, Wakil Gubernur Sulsel dua periode. Paket Agus – TBL disebut-sebut merupakan keinginan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Sebelumnya, Agus sempat mendeklarasikan diri berpaket dengan politisi Demokrat Aliyah Mustika Ilham dan Andi Nurpati.

Saat dikonfirmasi, Agus mengaku pasrah apabila pasangannya ditentukan oleh partai pengusung. Agus mengaku tidak bisa mendikte partai

“Kita sudah bicara karena kita tidak bisa mendikte partai. Tentu ada pertimbangan dan harapan mereka (partai),” kata Agus, Selasa (5/12) kemarin.

Terkait informasi jika dirinya akan dipasangkan dengan TBL oleh Partai Gerindra, Agus pun tidak mempersoalkan. Ia pun telah bertemu dengan TBL dan menjalin komunikasi politik. Tapi, ia lagi-lagi mengembalikannya ke partai pengusung.

“Untuk yang sangat berpeluang nanti tergantung partai, dan kita akan kembalikan ke partai,” ucapnya.

Mengenai dukungan partai, Agus tak ingin jumawa mengklaim dukungan. “Soal politik itu tidak bisa pakai perasaan, yang bisa pakai perasaan itu kalau orang pacaran. Tapi Insyaallah kita tetap optimistis. Doakan saja,” tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, Tanribali Lamo mengakui, telah bertemu dan membahas hal tersebut dengan Agus Arifin Nu’mang. Namun, ia enggan membeberkan seperti apa keputusan finalnya, sebelum ada kejelasan dari partai pengusung.

“Belum ada keputusan final. Tapi memang ada pembicaraan dengan Pak Agus ke arah sana. Tunggu saja, kalau semua sudah pasti, akan diumumkan,” kata mantan duet NA tersebut.

Munculnya paket Agus – TBL sebagai permintaan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, juga dibenarkan kerabat Agus, Asmin Amin. Ia bahkan menyebut, rekomendasi Partai Gerindra sudah final ke pasangan Agus – TBL, dan akan diserahkan langsung Prabowo Subianto dalam waktu dekat.

“Sudah ada rekomendasi Gerindra untuk Pak Agus. Pak Prabowo yang minta Pak Agus paket dengan TBL,” ungkapnya.

Sementara, pakar politik dari UIN Alaudin Makassar, Syahrir Karim, menilai, berdasarkan dinamika politik yang berkembang, kemungkinan Gerindra mengalihkan dukungannya dari NA – ASS. Menurutnya, Gerindra memang dari awal terlihat ragu mendukung NA – ASS. Apalagi di sana sudah ada PDIP yang terlihat sulit bersama dalam membangun koalisi.

“Kalau betul Gerindra mengalihkan dukungannya, akan berdampak besar baik secara elektabilitas maupun jumlah kursi dukungan sebagai prasyarat maju di pilgub,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, pakar politik dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Priyanto, menuturkan, gonta ganti pasangan kandidat di pilkada dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya, basis pemilih dari calon pendampingnya. Sehingga tidak jarang, para kandidat baik di pilkada maupun pilgub terus bermanuver sebelum injury time.

“Fenomena pemilihan pasangan bisa karena banyak faktor. Yang dominan masih karena faktor elektoral, misalnya aspek geopolitik basis kandidat yang saling melengkapi,” ungkap Luhur.

Namun memang, selain faktor basis massa, faktor pendamping calon kepala daerah juga dipengaruhi oleh parpol pengusung. Dimana, parpol memiliki alternatif tersendiri yang akan didorong mendampingi kandidat. Dan hal ini yang kerap membuat kandidat mesti cerdas dalam mengambil sikap.

“Di luar itu, bisa juga terjadi karena desakan koalisi partai pengusung. Biasa endorsement pasangan yang berbasis partai pengusung, relatif rapuh ikatannya. Istilah kawin paksa biasa lahir dari situasi ini,” terangnya.

Di sisi lain, kebutuhan akan bantuan finansial menjadi hal yang tidak dapat terelakkan. Karena memang, bukan menjadi hal yang baru, sebagai calon kepala daerah mesti memiliki kantong tebal untuk menggerakkan mesin hingga di bagian akar.

“Ada juga karena akomodasi keinginan sponsor atau pemodal, yang menyokong pembiayaan dan belanja elektoral pasangan. Ikatannya juga relatif rapuh, mengikuti pergerakan sponsor,” jelasnya.

Luhur menambahkan, faktor yang lain, karena kontribusi elektoralnya. Misalnya pasangan itu saling melengkapi memberikan kontribusi sejumlah kursi parpol dukungan. Sifatnya sangat transaksional. Kalau target tidak tercapai, maka ikatan pasangan menjadi bubar.

Dukungan PKS

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga dikabarkan akan mengikuti sikap politik Gerindra, yang menarik dukungannya dari Nurdin Abdullah – Andi Sudirman Sulaiman (NA – ASS). Jika hal ini benar-benar terjadi, maka NA – ASS tidak akan bisa ikut bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel, karena persyaratan jumlah kursi tidak akan bisa dipenuhi pasangan ini.

Ketua Bappilu DPW PKS Sulsel, Irwan ST, membantah wacana PKS akan ikut menarik dukungan dari NA – ASS. Di internal PKS, hal tersebut tidak pernah dibahas. Bahkan, DPP telah menginstruksikan untuk memantapkan konsolidasi hingga ke struktur ranting, untuk memenangkan NA – ASS.

“Saya malah tahu itu dari media. Internal kita di PKS bahkan tidak pernah dengar info seperti itu dari DPP. Bahkan sekedar gosip-gosip sekalipun juga tidak ada,” tegas Irwan, Selasa (5/12).
Menurut Irwan, SK dukungan NA – ASS telah diteken Presiden PKS. Hanya kejadian luar biasa yang memungkinkan pencabutan SK tersebut.

“PKS memiliki sikap politiknya sendiri dan tidak akan mengekor ataupun terpengaruh oleh partai lain. PKS memiliki mekanisme tersendiri dalam menentukan usungan,” lanjutnya.

Bendahara PKS Sulsel, Ariady Arsal, menambahkan, PKS belum memikirkan untuk mengusung kandidat lain karena saat ini masih solid mendukung NA – ASS di Pilgub Sulsel. Ia pun telah mengkonfirmasi perihal informasi tersebut ke DPP, khususnya ke desk pilkada.

“Masing-masing parpol punya mekanisme, sehingga tak boleh dikaitkan satu sama lain. Kami tidak terikat dengan Gerindra dalam mengambil sikap terkait pilgub,” terangnya.

Sementara, pakar politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Jayadi Nas, menilai, arah dukungan parpol masih sangat dinamis. Sebelum KPU membuka pendaftaran, maka semua kemungkinan dalam politik bisa terjadi, termasuk batalnya NA – ASS melenggang di pilgub.

Ditariknya dukungan Gerindra yang sebelumnya disematkan ke NA – ASS, bisa saja merembes kepada partai lain. Misalnya saja PKS atau PAN yang juga sudah mendeklarasikan dukungannya kepada NA – ASS. Apalagi seperti diketahui, Gerindra dan PKS satu koalisi di nasional yang sarat dengan kepentingan Pilpres 2019 nanti. Termasuk di beberapa momen pilkada, kedua partai ini kerap bergandengan tangan.

“Syarat kursi pencalonan minimal 17 kursi. Jika Gerindra menarik dukungannya dan diikuti oleh partai lain, maka syarat tersebut tidak terpenuhi. Ini sangat rawan,” kata Jayadi. (*)


div>