RABU , 14 NOVEMBER 2018

Pasca Gempa dan Tsunami Sulteng, Kerugian Capai Rp13,82 Triliun

Reporter:

Editor:

Iskanto

Selasa , 23 Oktober 2018 08:30
Pasca Gempa dan Tsunami Sulteng, Kerugian Capai Rp13,82 Triliun

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan pendataan dan kajian cepat menghitung dampak kerugian dan kerusakan bencana di Sulawesi Tengah. Nilainya mencapai Rp13,82 triliun. Kepala Pusat Data Informasi dan Hums BNPB, Sutopo Purwo Nuroho, menilai kerugian ditaksir akan terus merangkak naik. Ini karena proses pendataan yang dilakukan tim BNPB belum sepenuhnya rampung.

“Ini adalah hasil perhitungan sementara yang dirampungkan tim kami pada 20 Oktober kemarin. Jadi ada kemungkinan nilai kerugian akibat gempa dan tsunami di Sulteng akan bertambah,” ujarnya di Kantor BNPB, Jakarta, Senin (22/10).

Sutopo menjelaskan, kerugian mencapai Rp31,82 triliun adalah dampak kerusakan. Ada lima sektor yang meliputi dampak ekonomi dari bencana tersebut. “Kerusakan di sektor permukiman mencapai Rp7,95 triliun, sektor infrastruktur Rp701,8 miliar, sektor ekonomi produktif Rp1,66 triliun, sektor sosial Rp3,13 triliun, dan lintas sektor mencapai Rp378 miliar,” jelasnya.

Dampak kerugian dan kerusakan di sektor permukiman adalah paling besar karena luas dan masifnya dampak bencana. Kata Sutopo, hampir sepanjang pantai di Teluk Palu bangunan rata dengan tanah dan rusak berat. Terjangan tsunami dengan ketinggian antara 2,2 hingga 11,3 meter dengan terjangan terjauh mencapai hampir 0,5 kilometer telah menghancurkan permukiman.

“Begitu juga adanya amblesan dan pengangkatan permukiman di Balaroa. Likuifaksi yang menenggelamkan permukiman di Petobo, Jono Oge dan Sibalaya telah menyebabkan ribuan rumah hilang,” ungkapnya.

Sutopo melanjutkan berdasarkan sebaran wilayah, kerugian dan kerusakan di Kota Palu mencapai Rp7,63 triliun, Sigi Rp4,29 triliun, Donggala Rp 1,61 triliun dan Parigi Moutong mencapai Rp393 miliar. “Ini di luar perhitungan kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana,” ucapnya.

Jumlah kerugian dan kerusakan yang dicapai BNPB menegaskan dibutuhkan dana minimal Rp10 triliun untuk melakukan pemulihan. Sutopo yakin pemerintah dan pemda mampu mengatasinya. Meski ini akan menguras tenaga dan energi, namun komitmen pemerintah dan lintas antarlembaga akan membuat proses pemulihn di Sulteng akan berjalan baik.

“Tentu ini bukan tugas yang mudah dan ringan, namun pemerintah dan pemda akan siap membangun kembali nantinya. Tentu membangun yang lebih baik dan aman sesuai prinsip build back better and safer,” tandasnya.

2.256 Korban Meninggal

Hingga Minggu, (21/10) jumlah korban meninggal di Sulteng mencapai 2.256 orang. Sebarannya di Kota Palu 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi 366 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban sudah dimakamkan. Sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Sutopo menjelaskan, banyaknya bangunan dan infrastruktur yang hancur akibat bencana. “Kerusakan meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, jembatan 7 unit dan sebagainya. Data tersebut adalah data sementara, yang akan bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan,” pungkas Sutopo

Stok Beras Aman

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Tri Wahyudi Saleh memastikan stok beras di Sulawesi Tengah hingga kini masih dalam kondisi aman. Bencana yang terjadi beberapa waktu lalu tidak mengganggu persediaan beras walau beberapa Gudang Bulog mengalami kerusakan.

“Stok beras di Gudang Bulog Sulteng sekitar 12.000 ton cukup untuk memenuhi kebutuhan penyaluran, termasuk cadangan beras pemerintah,” ujar Tri melalui siaran pers, Jakarta, Senin (22/10).

Dengan adanya stok tersebut, dia meminta tidak perlu ada kekhawatiran akan kurangnya pasokan atau langkanya beras untuk wilayah Sulawesi Tengah. Kecukupan stok di Gudang Bulog secara tidak langsung berdampak kepada stabilisasi harga pangan khususnya beras.

Tri menjelaskan, hingga kini Bulog masih terus menyalurkan berbagai bantuan ke Sulawesi Tengah. Adapun bantuan diserahkan dalam bentuk beras, mie instan, gula pasir, minyak goreng dan kebutuhan pangan lainnya.

“Sampai dengan 19 Oktober kemarin Perum Bulog sudah mengirimkan bantuan tahap 1 berupa bantuan PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) dengan nilai kurang lebih Rp500 juta,” jelasnya.

Bulog juga menyalurkan beras CBP untuk bencana gempa dan tsunami sebanyak 640 ton, dengan rincian alokasi Sulawesi Tengah 200 ton, Donggala 100 ton, Sigi 100 ton , Palu 100 ton, Parigi 50 ton, Toli toli 25 ton, Poso 65 ton. (fin)


div>