KAMIS , 20 SEPTEMBER 2018

Pasca Lebaran, Kontraktor Pembangunan Smelter Kembali Tagih Janji NA

Reporter:

Jejeth Aprianto

Editor:

asharabdullah

Senin , 04 Juni 2018 15:00
Pasca Lebaran, Kontraktor Pembangunan Smelter Kembali Tagih Janji NA

Salah satu kontraktor proyek pembagunan Smelter yang terletak di Kawasan Industri Bantaeng ( KIBA), Desa Baruga, Kecamatan Pa'jukukang, Haji Hengki Ahmad Daeng Sila. Foto: Jejeth/RakyatSulsel

BANTAENG, RAKYATSULSEL.COM – Tidak kunjung dibayar, salah satu kontraktor proyek pembagunan Smelter yang terletak di Kawasan Industri Bantaeng ( KIBA), Desa Baruga, Kecamatan Pa’jukukang, Haji Hengki Ahmad Daeng Sila atau yang Sering disapa H. Sila akan kembali menagih janji Bupati Bantaeng non aktif, Nurdin Abdullah ( NA).

Bagi H. Sila, NA harus bertanggungjawab lantaran NA yang bertindak sebagai fasilitator warga dengan PT. Titan Mineral Utama dan PT. Pusaka Jaya Abadi ( PUJA). Apalagi NA pula lah yang mendatangkan kedua investor tersebut.

H. Sila mengaku sebelum NA maju sebagai calon Gubernur, dirinnya sering datang ke rumah pribadi NA yang terletak di Kelurahan Bonto Atu, Kecamatan Bisappu, untuk menanyakan ganti ruginya sebesar Rp 4,9 M.

“Saya sudah sering ke rumah pribadinya (NA) untuk menanyakan hak- hak masyarakat yang harusnya sudah lama dibayarkan, saya hanya sering dijanji minggu depan, bulan depan, namun sampai sekarang belum ada sepeserpun,” ungkap H. Sila dengan nada kecewa, Minggu (3/6).

Pasca lebaran nanti, H. Sila bersama ratusan pemilik lahan akan menggelar aksi di kawasan KIBA, dirinya sudah berulang kali dikecewakan oleh NA. Ia berharap, dengan digelarnya aksi ini, NA mau membayarkan kerugian H. Sila dan ratusan warga pemilik lahan.

“Saya dan ratusan warga pemilik lahan secara tegas akan melakukan aksi setelah lebaran. Kami tidak akan pernah berhenti memperjuangkan hak-hak kami. Saya juga berharap kepada semua media agar jangan tutup mata atas kejadian yang menimpa kami di Bantaeng,” tegas H. Sila.

Dia menjelaskan, kurang lebih 100 orang masyarakat sekitar smelter belum mendapat ganti rugi lahan. Parahnya lagi gaji untuk pekerja, alat berat, sopir, operator, bahan bakar dan hutang – hutang lainnya sampai sekarang belum dibayarkan.

“Kurang lebih 100 orang masyarakat dekat lokasi smelter disini tahu bahwa saya adalah koordinator dan sampai sekarang belum ada yang dibayarkan lahannya, hanya sebatas janji-janji. Jadi sewa alat berat, gaji sopir, gaji operator, sewa mobil, bahan bakar dan hutang – hutang lainnya sampai sekarang tidak ada yang dibayarkan,” jelas H. Sila. (*)


div>