SELASA , 23 OKTOBER 2018

Paska Pemotongan Suku Bunga Cina, Rupiah Menguat Terhadap USD Namun Tetap Beresiko

Reporter:

Editor:

hur

Jumat , 11 September 2015 11:37

Penulis: Cindy Melissa

CITIZEN REPORTER – Pemotongan suku bunga oleh bank sentral Cina pada tanggal 26 Agustus lalu, nampaknya telah meredam kepanikan di pasar Asia dan Asia Tenggara. Di mana, kepanikan tersebut kemudian memunculkan pelemahan secara tiba-tiba di tengah tanda-tanda bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia melambat dan mengancam tingkat pertumbuhan mitra dagangnya.

“Mayoritas mata uang negara-negara ASEAN termasuk Rupiah menjadi agak stabil dengan adanya pemotongan suku bunga tersebut. Rupiah bahkan terlihat mengalami sedikit pemulihan dimana USDISR turun ke level 13990.42 pada tanggal 27 Agustus dari 14256.48 di hari sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan sentimen terhadap Indonesia,” ujar Jameel Ahmad, Kepala Analis Pasar FXTM di www.forextime.com.

Dengan demikian, fundamental akan tetap menjadi ancaman terhadap mata uang tersebut. Pengamatan lebih dekat terhadap situasi makro ekonomi Indonesia memperlihatkan tingkat PDB yang terus menurun, dari 6,2 persen di tahun 2010 ke 5,0 persen (2014) dan 4,7 persen di semester pertama 2015. Berita menyatakan bahwa stimulus ekonomi yang menyasar sektor manufaktur telah dipersiapkan, dan hal itu dapat menolong kondisi ekonomi makro untuk pulih dari kejatuhan.

Faktor fundamental lainnya juga turut membayangi, misalnya lapangan kerja yang bertumbuh hanya 12,6 persen, lebih lambat daripada yang diharapkan dan juga tingkat inflasi di 7,2 persen lebih tinggi daripada ekspektasi. Namun yang menjadi kunci perlemahan adalah sektor manufaktur yang diperkirakan akan tumbuh sebesar 6,1 persen tahun ini, dibandingkan dengan yang diharapkan 6,8 persen.

Sektor manufaktur dipandang sebagai kekuatan baru dalam perekonomian Indonesia, yang dapat mengimbangi potensi tekanan dan penurunan perekonomian akibat jatuhnya harga-harga komoditas. Bank Dunia berpendapat bahwa Indonesia dapat menciptakan jutaan lapangan pekerjaan di sektor tersebut dengan membidik pasar regional yang lebih luas.

Menurut World Bank, di tahun 2020 mendatang Indonesia memiliki potensi untuk menciptakan 2,5 juta lapangan kerja. Kini saat paket stimulus sudah tampak di permukaan, nasib Rupiah dan perekonomian Indonesia bergantung pada keseimbangan. Data ekonomi lokal dan regional di kuartal keempat 2015 tentunya akan memberikan petunjuk ke mana perekonomian akan bergerak, dan juga sangat penting untuk melihat arah yang akan diambil Bank Sentral AS.

Bagaimanapun, dalam jangka pendek, yang masuk akal adalah mengharapkan tantangan terhadap Rupiah untuk membaik, dengan kondisi perekonomian menghadapi tekanan akibat jatuhnya harga-harga komoditas.


div>