JUMAT , 20 JULI 2018

Paslon Siapkan Saksi Berlapis

Reporter:

Suryadi - Fahrullah - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Rabu , 27 Juni 2018 11:00
Paslon Siapkan Saksi Berlapis

Dok. RakyatSulsel

Pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Ichsan Yasin Limpo – Andi Mudzakkar (IYL – Cakka), telah menyiapkan dengan matang para saksi yang akan bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Ketua Tim Rumah Kita IYL – Cakka, Bahar Ngitung, mengungkapkan, saksi inti di setiap TPS sebanyak lima orang, ditambah dengan saksi bayangan.

“Saksi bayangan tidak terdaftar, dan berasal dari relawan. Semua relawan yang ada di TPS masing-masing adalah bagian dari saksi luar,” kata Obama, sapaan akrabnya, Selasa (26/6).

Dari saksi inti yang disiapkan, menurut Obama, masih ada beberapa saksi bayangan lainnya yang berasal dari relawan. Tugas dari saksi adalah untuk menyaksikan dan melakukan pengawasan selama jalannya pencoblosan hingga penghitungan suara.

“Saksi inti itukan bertanda tangan di C1, sedangkan saksi pendukung hanya bertugas mendokumentasikan seluruh kejadian yang ada disitu. Bahkan akan dikawal sampai di kabupaten,” ujarnya.

Untuk biaya saksi sendiri, Obama mengaku tidak ada bayaran atau honor yang dikeluarkan. Hal itu lantaran keinginan tim dan relawan yang ingin bekerja secara sukarela, tanpa ada paksaan sedikitpun.

“Alhamdulillah tidak pakai biaya, karena ini betul-betul rakyat yang datang meminta menjadi saksi di tempatnya. Jadi, kami alhamdulillah tidak mengeluarkan biaya bayar saksi, hanya biaya operasional untuk LO. Bahkan banyak relawan yang datang di posko untuk dilibatkan menjadi saksi, jadi kami daftarkan semua,” terangnya.

Untuk mempermudah pengamatan dan pencatatan, tim IYL – Cakka telah menyiapkan posko induk yang akan menerima hasil rekaman dan temuan tim di lapangan. Dengan posko induk yang telah ada sejak sepekan sebelum pencoblosan ini, tim tahu dimana TPS yang belum lengkap peralatan pencoblosannya.

“Kami kan ada posko induk, dari H-7 sampai H+3, itu semuanya apa kejadian yang ada di TPS itu terekam dengan baik di posko induk. Sekarang kami tau dimana TPS yang belum menerima kelengkapan pemilih, nah itu ada semua. Tapi kami ini tunggu sampai sebentar malam karena ini memang aturannya minimal satu hari sebelum pencoblosan sudah harus ada semua di TPS,” ungkap Obama.

Sedangkan, calon gubernur nomor urut satu, Nurdin Halid, ikut memantau kesiapan jaringan tim pemenangan, jelang pemungutan suara 27 Juni, hari ini. NH yang berpasangan dengan Aziz Qahhar Mudzkkar, bahkan turun langsung mengecek persiapan akhir di sejumlah daerah.

NH mengaku ingin mengetahui sejauh mana kesiapan tim pemenangan, relawan, dan jaringan pendukung di 24 kabupaten/kota. Sebagian daerah dipantau lewat alat komunikasi. Sebagian lagi dikunjungi langsung secara bergiliran.

“Hari ini saya ke Bone untuk meninjau rumah pemenangan. Untuk mengecek kesiapan seluruh jaringan tim, khususnya seluruh saksi yang akan menangani real count,” kata NH sebelum meninggalkan kediamannya di Jalan Mappala Makassar, Selasa (26/6) siang.

NH berangkat ke Bone dengan menumpang helikopter. Dari sana dia lanjut ke Parepare, Sidrap, dan Pangkep. Usai kunjungan, dia dijadwalkan kembali ke Makassar.

“Saya mengecek bagaimana persiapan kawan-kawan. Daerah yang lain sudah dipantau sejak subuh tadi,” imbuhnya.

Sebelumnya, NH-Aziz mengerahkan Satuan Petugas Khusus (Satgassus) untuk mengawal jalannya pemungutan suara 27 Juni. Tak tanggung-tanggung, tim ini beranggotakan 85 ribu orang di 24 kabupaten/kota.

NH mengungkapkan, tim Satgassus bekerja sejak H-3 hingga H+2 pemungutan suara. Tim ini fokus untuk menelusuri dan mencari tahu peluang kecurangan terkait pilkada di tengah masyarakat.
“Satgassus hadir untuk membantu rakyat menyalurkan hak pilihnya sesuai nurani. Mereka mengantisipasi politik uang, kampanye hitam, intimidasi, dan kecurangan lain terkait pemungutan suara,” katanya.

Satgassus dikerahkan sesuai kebutuhan di setiap daerah. Untuk di Kota Makassar, jumlahnya berkisar enam ribu orang. Begitu juga di Gowa dan Takalar. Jumlah ini belum termasuk saksi di dalam dan luar TPS.

“Satgas untuk setiap TPS bervariasi. Ada yang sepuluh orang, enam, lima, atau empat. Sesuai tingkat kerawanan di daerah masing-masing,” bebernya.

Tim NH-Aziz mewaspadai segala bentuk kecurangan. Upaya kecurangan tersebut diduga dilakukan sekelompok orang yang ingin menghalalkan segala cara untuk menang. NH mengungkapkan, praktek kotor antara lain berupa politik uang, kampanye negatif, upaya kekerasan, dan intimidasi.

Bagi NH-Aziz, yang patut jadi perhatian khusus adalah politik uang dengan berbagai motifnya.
“Tim NH-Aziz memberlakukan pengawasan TPS 24 jam. Akan kami tangkap tangan jika ada upaya politik uang di masyarakat,” tegasnya. (*)


div>