JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Pasutri Lansia Asal Tabo Tabo Yang Terabaikan Pemerintah.

Reporter:

Atho

Editor:

asharabdullah

Selasa , 03 April 2018 17:00
Pasutri Lansia Asal Tabo Tabo Yang Terabaikan Pemerintah.

Pasutri lansia, Kakek Dilu dan Nenek Dimen, yang hidup memprihatinkan di gubuk berukuran 2x3 meter, di Desa Tabo Tabo, Kecamatan Bungoro, Pangkep. Foto: Atho/RakyatSulsel

PANGKEP, RAKYAT SULSEL – Kabupaten Pangkep yang kaya akan sumber daya alam serta anggaran daerah yang capai triliunan rupiah, bukan jaminan bagi masyarakat untuk sejahtera, terbukti Sepasang suami istri (Pasutri) Lanjut Usia (Lansia) bernama kakek Dilu (75) dan nenek Dimen (72) yang merupakan warga Kampung Tabo Tabo Selatan, Desa Tabo Tabo, Kecamatan Bungoro, hidup memprihatinkan.

Kakek Dilu dan nenek Dimen merupakan satu dari 16,5 persen masyarakat miskin Pangkep yang butuh uluran tangan pemerintah, bahkan pasangan yang hanya tinggal di gubuk reot ukuran 2x3meter. Jangankan pemerintah kabupaten, pemerintah desa tempat lansia ini bermukim seolah menutup mata akan keberadaan pasangan ini.

Terbukti saat di konfirmasi melalui pesan singkat, Kepala Desa Tabo Tabo, Umar Zain tidak
memberikan jawaban, bahkan hingga berita ini diturunkan, Umar Zain masih bungkam untuk
memberi penjelasan.

Kisah pasutri lansia ini semakin miris, lantaran gubuk yang ditinggalinya selama hampir puluhan tahun, tidak pernah teraliri listrik, hanya memanfaatkan pelita berbahan bakar minyak tanah.

Kebutuhan makan sehari hari jangan ditanya, pasangan ini hanya berharap kebaikan tetangga karena kondisi fisik mereka yang sudah tidak muda lagi.

Salah seorang tetangga Subaeda mengatakan, kakek Dilu dan nenek Dimen, hidup memprihatinkan, selain tidak memiliki keluarga, keduanya harus menghabiskan masa tuanya dengan kondisi kelumpuhan dan penyakit yang menyerang akibat lingkungan yang buruk.

“Saya kasian sekali melihat mereka, yang mestinya dimasa tuanya hidup tenang dan ada yang
merawatnya. Mereka sudah saya anggap orang tua sendiri,” ujarnya.

Subaeda menambahkan, jika perhatian pemerintah sangatlah minim, khususnya pemerintah desa yang sama sekali tidak pernah megupayakan solusi untuk kakek Dilu dan nenek Dimen.

“Ada beras Sejahtera. Tapi hanya itu, padahal mereka ini butuh perhatian khusus yang harusnya mereka dapatkan”, ungkapnya.

Selain bantuan sosial yang nyaris tidak ada, jaminan kesehatan pun diakui Subaedah tidak dikantongi pasangan lansia ini, jangankan BPJS, Kartu Indonesia Sehat (KIS) pun masih menjadi harapan pasangan ini untuk mendpatakannya.

“Kita mau bawa pemeriksaan kesehatan dan berobat kakek Dilu, kita juga tidak punya uang untuk membantunya, karena tidak ada KISnya apalagi BPJS”, tutupnya.


div>