SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

Patut Diapresiasi, Soil FH UMI Gelar Teatrikal Amarah 96

Reporter:

Editor:

RRS

Kamis , 27 April 2017 20:19
Patut Diapresiasi, Soil FH UMI Gelar Teatrikal Amarah 96

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Teatrikal April Makassar Berdarah 96 atau Tapak Tilas Amarah 96 yang digelar Solidarity of Intelectual Law (Soil) di Auditorium Al Jilbra, Kampus UMI, Kamis (27/4), patut untuk diapreasi.

Setidaknya inilah yang diungkapkan Wakil Dekan FH UMI Kamal Dr Hidjaz yang hadir memberi sambutan dan membuka acara itu.

“Kegiatan  teatrikal ini patut diapresiasi. Peristiwa Amarah memang tidak bisa dilupa begitu saja. Tapi memperingati cara teatrikal dan zikir lebih bagus,” ungkapnya di depan ratusan mahasiswa yang hadir.

Acara itu juga dihadiri penulis buku Mencari Jejak Amarah 96, Rasmi Ridjang Sikati, pengurus BEM, saksi sejarah di zaman itu, Irwan Itje, Ikhwan Syamsuddin atau Aco, dan Asrul.

Para pemain teartikal mampu meresapi peristiwa yang terjadi di bulan April tahun 1996 yang berimbas pada meninggalnya tiga mahasiswa UMI, Tasrief Daming, Andi Sultan Iskandar dan Saiful Biya.

Ketua Soil UMI, Rama, mengungkapkan, isi teatrikan awalnya dimulai dari keluarnya SK Walikota Ujung Pandang pada waktu itu bernomor 900 Tahun 1996 tentang kenaikan tarif angkot.

Kemudian, kenaikan ini disikapi mahasiswa yang kebetulan menggelar intermedite training atau LK II HMI. Mereka kemudian demo menuntut kenaikan tarif angkot ini dianulir. Di tanggal 23 April, mahasiswa sempat menahan damri dan memicu kedatangan aparat ke kampus dan akhirnya menyerang masuk mahasiswa kedalam kampus.

Hingga kemudian, di tanggal 24 April, seluruh mahasiswa se Makassar melakukan aksi solidaritas atas masuknya mahasiswa ke dalam kampus UMI. Dan pada siang hari, aparat menyerbu kembali ke dalam kampus hingga ditemukannya tiga korban yang meninggal.

Rama mengakui jika naskah teatrikal diambil dari cerita saksi secara dan sedikit naskah film dari buku Mencari Jejak Amarah yang akan diproduksi tahun ini dan diputar filmnya di tahun depan.

Sementara itu, Rasmi Ridjang Sikati mengaku salut dengan kreativitas yang dilakukan para Soil FH UMI. Mereka menggelar peringatan Amarah dengan cara yang lebih santun dengan teatrikal dan zikir.

“Itu lebih baik daripada turun ke jalan dan melakukan anarkisme di jalan. Harusnya pihak rektorat juga memberi ruang yang lebih luas kepada mahasiswa untuk menggelar teatrikal. Termasuk menjadi inisiator untuk menggelar zikir akbar setiap peringatan Amarah. Ajak mahasiswa berkumpul dan rektor dan petinggi UMI hadir ikut zikir. Bagaimanapun ada tiga korban dari peristiwa Amarah,” sarannya.

Aco mengungkapkan, Amarah tidak mencari tokoh karena semua orang punya peranan yang berbeda-beda saat peristiwa itu terjadi. Mereka yang melihat peristiwa Amarah bisa bersaksi atas peritiwa yang mereka alami.

Senada dengan Rasmi, Aco berharap rektor dan semua petinggi UMI tidak melarang perayaan Amarah asalkan itu tidak anarkisme.

“Rektor dan petinggi UMI harusnya  mengingat tiga korban UMI dan ikut terlibat menggelar zikir untuk mengenang tiga mahasiswa UMI yang meninggal. Bagaimanapun yang meninggal itu ada mahasiswa UMI,” terangnya.

 

 

 


Tag
div>