RABU , 19 DESEMBER 2018

PC PMII Maros Tolak Pelaksanaan Konkoorcab XX PMII Sulsel

Reporter:

Lukman

Editor:

Rabu , 28 Maret 2018 23:00
PC PMII Maros Tolak Pelaksanaan Konkoorcab XX PMII Sulsel

Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Maros.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Maros, menolak pelaksanaan Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) Ke- XX PMII Provinsi Sulawesi Selatan, yang akan dilaksanakan di Kabupaten Enrekang, dalam waktu dekat ini.

Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris PC PMII Maros, Arif Koesharyadi, yang menilai, terlalu banyak permainan atau konspirasi politik yang digunakan oleh Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Sulsel yang sekarang selaku pelaksana Konkoorcab ke XX.

“Salah satunya yaitu dengan tidak mengundang beberapa pengurus cabang yang notabene definitif, padahal pengurus cabang tersebut secara massif melakukan pengkaderan. Contoh paling konkretnya adalah cabang kami yaitu PC PMII Kabupaten Maros,” ungkapnya, Rabu (28/3).

Ketua PC PMII Maros, Agussalim, juga menambahkan bahwa PC PMII Maros adalah cabang definitif, karena sampai saat ini Pengurus Besar PMII belum pernah mencabut status definitif dari PC Maros.

“Kami juga punya suara di Kongres PMII terakhir yang berlangsung di Kota Palu, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu, tapi anehnya di Konkorcab PMII Sulsel ini malah cabang kami tidak dapat undangan, ini kan sama saja tidak mengakui eksistensi dan defenitifnya PMII Cabang Maros,” bebernya.

Ia juga merasa jika PC PMII Maros terkesan dipersulit saat mengurus rekomendasi SK PC PMII Maros untuk diterbitkan oleh PKC PMII Sulsel, lantaran seluruh berkas yang disampaikan ditolak tanpa alasan yang jelas.

“Masalah lain yang kami hadapi pada saat mengurus rekomendasi SK PC PMII Maros yang harus diterbitkan oleh PKC PMII Sulsel, sepertinya sengaja dipersulit. Saat kami ke kantor PKC PMII Sulsel untuk mengurus hal tersebut, Pengurus PKC PMII Sulsel baru bisa menerima kami pada malam hari, padahal kami sudah janjian untuk ketemu sejak sore harinya. Namun, bukannya diterima dengan baik, malah berkas yang kami bawa disuruh untuk membawanya pulang, tanpa ada alasan yang jelas dan rasional. Hal ini menunjukkan kacaunya managemen organisasi di tingkat PKC,” jelas Agus.

Dengan demikian, ia menilai jika PC PMII yang tidak mau kerjasama dalam hal pemilihan Ketua PKC tersebut, akan dimatikan langkahnya dan dipersulit pengurusan administrasi organisasi.

“Kesannya PC yang tidak sejalan dengan PKC PMII Sulsel dimatikan. Padahal PMII adalah organisasi kader yang memiliki tujuan yang luhur dalam hal kaderisasi bukan organisasi yang berasaskan kepentingan politik orang perorang di dalam organisasi,” pungkasnya. (*)


div>