JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

PDIP “Jemput Bola”

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 12 Mei 2017 10:22
PDIP “Jemput Bola”

ilustrasi (*)

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kota Makassar, meminang dua figur eksternal sebagai bakal calon wali kota yang akan diusung pada Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar tahun 2018 mendatang.

Masing-masing yakni wali kota incumbent, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto serta Ketua DPRD Makassar yang juga Ketua Golkar Makassar, Farouk M Betta.

Pinangan itu dilakukan dengan mengantarkan formulir pendaftaran Pilwalkot Makassar ke kediaman pribadi Danny Pomanto di Jalan Amirullah, Kelurahan Maricaya Selatan, Kecamatan Mamajang, Makassar dan di Rujab Ketua DPRD Makassar, Kamis (11/5).

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kota Makassar, Bahar Machmud menuturkan, proses penjarigan calon Wali kota Makassar, kali ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena PDIP Makassar melakukan pola jemput bola.

“Ini namanya mekanisme jemput bola, artinya pengurus DPC PDIP bersama tim mengantarkan langsung formulir kepada calon yang kami anggap elektabilitasnya tinggi,” ujarnya.

Mantan Anggota DPRD Makassar tersebut juga terang-terangan mengisyaratkan memberikan dukungan kepada sang petahana. Selain Danny, tiga bakal calon wali kota yang juga intens melakukan komunikasi politik dengan tim desk pilkada PDIP. yakni,Farouk M. Betta, Irman Yasin Limpo alias None, dan Andi Mustaman.

[NEXT-RASUL]

“Empat nama ini yang sudah menjalin komunikasi dengan kami (PDIP). Setelah itu kami akan lakukan survei,” jelas Bahar Machmud.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP Makassar, Raisul Kaos menjelaskan, proses penjaringan dan pendaftaran bakal calon DPC PDIP Makassar dibuka secara bertahap.

“Hal ini sesuai peraturan partai no 4 tahun 2015. Bedanya, PDIP Makassar mendatangi “jemput bola” kandidat yang akan maju di Pilwali Makassar. Kami membawakan formulir pada setiap kandidat calon wali kota yang sudah komunikasi,” paparnya.

Dia juga menyerahkan sepenuhnya kepada DPP PDIP untuk menuntukan siapa yang layak diusung menjadi 01. Adapun kader internal yang dipersiapkan untuk posisi 02 yaitu, Andi Ridwan Wittiri, Rudy Pieter Goni, dan Bahar Machmud. “Kami realistis posisi 02 sesuai dengan kursi PDIP di DPRD Makassar,” terangnya.

Dalam proses penjaringan ini, tim PDIP akan melibatkan 15 PAC. Tiap PAC mengusulkan dua nama. Baik calon yang berasal dari internal maupun figur eksternal. “Figur eksternal, indikatornya harus memiliki ideologi yang sama dengan partai kami yakni Pancasila,” kata Raisul.

DPC PDIP Makassar, saat ini memiliki 4 kursi di DPRD Makassar. Adapun proses pendaftaran dibuka hingga 19 Mei. “Sementara DPD PDIP Sulsel akan memutuskan usungan bakal calon wali kota 12 Juni mendatang,” pungkasnya.

Danny Pomanto sendiri menilai terobosan PDIP memberikan pendidikan politik yang sangat baik bagi masyarakat yang mengedepankan budaya sombere. Ia juga merasa terhormat mendapatkan kunjungan dari pengurus PDIP Makassar.

[NEXT-RASUL]

“Proses ini memberikan pembelajaran yang sangat baik, memberikan kontribusi politik yang menyejukkan bagi Makassar,” ungkap Danny.

Danny menambahkan, dirinya akan segera mengembalikan formulir kepada pengurus PDIP Makassar, oleh sebab itu Danny berharap mendapat dukungan dari partai besutan Megawati Soekarno Putri tersebut. “Secepatnya saya akan kembalikan, harapan saya bisa mendapat dukungan dari PDIP nanti,” pungkasnya.

Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto menilai, dalam kontestasi perpolitikan, PDIP menampilkan kesan berbeda dengan partai-partai lain. Terlebih lagi jelang Pilwalkot 2018 mendatang yang dimana PDIP tidak segan mengantarkan langsung formulir pendaftaran ke bakal calon Wali Kota Makassar.

“Model PDIP ini memang sedikit berbeda. Istilahnya “kendaraan yang menjemput penumpang”, meskipun yg dijemput, belum penumpang resmi,” ungkap Luhur.

Luhur menjelaskan, metode tersebut digunakan oleh PDIP demi mengeksplorasi bakal calon sendiri. Pasalnya, PDIP tidak mendorong kader internal untuk maju di Pilwalkot mendatang.

“Saya liat ini bagian dari eksplorasi dan “umpan” dari DPC saja terhadap para bakal calon. Kebetulan PDIP sepertinya tidak menyiapkan kader untuk Pilwalkot, maka jadilah PDIP seperti “kendaraan yang tinggalkan terminal”,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Hal tersebut juga menandakan bahwa PDIP tidak siap mendorong kader internal untuk maju di Pilwalkot. Sehingga menggunakan metode mengantar langsung surat pendaftaran bakal calon wali kota.

“Reputasi kepemimpinan dan kaderisasi PDIP ini sedang di pertaruhkan. Pola “jemput penumpang” menandakan partai ini tidak memiliki stok kader yg siap untuk kontestasi Pulwalkot,” papar Luhur.

“Sebagai partai kader yg memiliki nilai dan identitas perjuangan yang melembaga, PDIP seharusnya confidence menampilkan kadernya, di awal penjaringan,” lanjutnya.

Namun, Luhur menuturkan melihat dari posisi jumlah kursi PDIP di DPRD Makassar dapat menjadi salah satu partai yang diperhitungkan. Bukan tanpa alasan, PDIP memiliki 4 kursi yang tentunya sisa menambah 6 kursi lagi untuk dapat mengsung figur.

“Perolehan kursi di DPRD merupakan alat bargaining, yang sudah lebih dari cukup untuk bernegosiasi dengan partai dan kandidat lain,” terangnya. (yad-isk/D)


div>