KAMIS , 24 MEI 2018

Pelaku Usaha Harus Optimistis Hadapi Tahun Politik

Reporter:

Editor:

irsad ibrahim

Minggu , 17 Desember 2017 21:09
Pelaku Usaha Harus Optimistis Hadapi Tahun Politik

int

RAKYATSULSEL.COM— Presidium Majelis Nasional Korps Alumni HMI Kamrussamad menilai, tahun politik pada 2018-2019 berpotensi mempengaruhi ekonomi nasional.

Karena itu, Kamrussamad mengimbau pelaku usaha agar optimistis menghadapi tahun politik tersebut.

“Proyeksi ekonomi Indonesia 2018 berpotensi turbulensi jika pilkada serentak tidak dapat dikendalikan dan diamankan dengan baik,” kata Kamrussamad di sela peluncuran Pogram Gerakan Wirausaha Berdaya (Garuda) di Madiun, Sabtu (16/12).

Menurut Kamrussamad, jika pemerintah tidak bisa mengendalikan keamanan tahun politik, maka investor berpeluang hengkang dari bisnisnya. “Hengkangnya investor yang memang sudah cemas menghadapi tahun politik 2018-2019,” ujar dia.

Dia juga menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2017 sekitar lima persen dengan skala prioritas kebijakan pembangunan infrastruktur nasional belum mampu menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara maksimal. Salah satu indikator kecemasan adalah tingkat kemiskinan mengalami kenaikan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2017, tingkat kemiskinan naik 1,83 persen menjadi 27.771.220 orang. Di mana 10.670.000 orang berada di kota dan 17.101.220 orang sisanya ada di pedesaan.

Kemiskinan ini meningkat karena angka pengangguran semakin bertambah. Tercatat angkatan kerja Indonesia berjumlah 131 juta, sementara yang terserap hanya 124 juta orang.

Selain itu yang berpotensi meningkatkan kemiskinan adalah ketimpangan ekonomi indeks rasio gini 2017 secara nasional sebesar 0,40-0,41 sedangkan rasio gini untuk daerah sebesar 0,33-0,41.

Meski begitu, kata pengurus Himpunan Pengusaha KAHMI ini, angin segar pada 2018 tetap berembus. Hal ini terlihat proyeksi Bank Dunia di mana ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5,3 persen. Angka itu lebih tinggi dari proyeksi 2017 yang sebesar 5,1 persen.

“Proyeksi tersebut ditopang membaiknya konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor,” jelas dia.

Selain pertumbuhan ekonomi yang masih optimistis, statistik perbankan Indonesia juga mencatat nilai kredit pembiayaan masih cukup tinggi, yakni Rp 26,87 triliun. Kondisi ini mampu mendorong dunia usaha kembali menggeliat.

“Di sisi lain, butuh sumber daya manusia yang berkualitas dalam mengantisipasi perubahan dunia yang cepat di era digitalisasi saat ini,” kata Kamrussamad. (tan/jpnn)


div>