SENIN , 22 OKTOBER 2018

Pelangi Kehidupan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 02 Februari 2016 12:00
Pelangi Kehidupan

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Dapat dibayangkan betapa sepinya dunia sekiranya hanya diisi oleh kaum lelaki saja. Demikian pula sebaliknya kalau dunia ini hanya diisi oleh perempuan saja. Seandainya dalam hidup ini hanya ada satu warna, maka tentu tidak akan pernah kita mengenal warna lain. Singkatnya pada setiap aspek kehidupan selalu ada perbedaan. Adalah sesuatu yang mustahil bila berharap hidup ini seragam. Keragaman merupakan sesuatu keniscayaan dalam kehidupan. Berkaitan dengan kebangsaan, suku, bahasa, budaya, agama dan karakter.

Dalam berbagai hal, sangat disayangkan pandangan atau sikap yang menganggap bahwa orang yang berbeda dengan kita adalah lawan, sedangkan yang sama dengan kita adalah kawan. Karenanya banyak orang lebih tertarik menambah lawan, dari pada memperbanyak teman. Padahal ungkapan lama mengingatkan, satu lawan sudah cukup namun seribu kawan masih sedikit.

Pemikiran dangkal yang memandang bahwa hanya dalam kelompok, budaya, agama yang sama baru dapat hidup rukun dan melakukan kerja sama, merupakan wujud kepicikan dalam berpikir dan bersikap. Pandangan seperti inilah yang melahirkan sikap bahwa hanya kelompoknya yang selamat, selain kelompoknya adalah sesat. Surga hanya diperuntukkan bagi diri dan kelompoknya, bukan kepada selainnya. Hanya ibadahnya yang diterima dan sesuai dengan syariat, sedang lainnya tertolak. Sikap seperti ini lahir karena tidak dapat menerima perbedaan, sehingga ingin saja melenyapkan dan memusnahkan yang berbeda dengannya.

Alquran menuntun, “Wahai sekalian manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha mengetahui, Maha teliti”. (QS. Al-Hujurat/49: 13 ).

Perbedaan yang dimaksud bukan hanya berbeda bangsa dan suku, bukan pula pada laki-laki dan perempuan, melainkan perbedaan cara berpikir, budaya, bahasa, agama, karakter dan kebiasaan. Sehingga dengan perbedaan itu antara satu dengan yang lain dapat saling kenal-mengenal, saling memahami, saling menghargai dan saling mengerti.

Boleh jadi kita lahir dari rahim ibu yang berbeda, kita tumbuh di lingkungan keluarga yang berbeda, kita menganut agama yang berbeda, menggunakan bahasa yang berbeda, menekuni profesi yang berbeda dan latar belakang pendidikan pun berbeda. Namun semua perbedaan itu tidak dapat dijadikan alasan untuk membenci dan memusuhi orang yang berbeda dengan kita.

Terhadap Tuhan sekalipun kita sering memanggil dan menyebut dengan berbagai sebutan serta nama yang berbeda sebagaimana yang kita ciptakan sendiri sebagai pujian. Lalu kita bertengkar dengan sesama, hanya karena perbedaan yang kita gunakan untuk memuji-Nya yang sesungguhnya adalah satu.

Tuhan menurunkan ajaran-Nya melalui agama yang berbeda, bukan sebagai alasan untuk saling menyakiti, saling membenci, atau saling membunuh antara satu dengan yang lain. Dengan agama yang berbeda-beda diharapkan agar satu sama lain dapat saling menjaga dan menebar kedamaian di muka bumi. Karena itu, berhentilah bertengkar, berhentilah berdebat, berhentilah saling menyalahkan karena kita semua adalah satu dan akan kembali kepada-Nya.

Akhiri segala bentuk permusuhan atas nama agama, karena Tuhan sengaja menciptakan berbagai jalan menuju kepada-Nya. Hormatilah keberagaman dalam memilih, karena bagaimana pun juga pilihan yang berbeda-beda pada dasarnya akan kembali kepada yang satu dialah Tuhan. Sebagaimana ungkapan yang populer di dunia tasawuf bahwa jalan menuju Tuhan sebanyak napas para pencari Tuhan.

Allah berfirman dalam Alquran “Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Dia menyesatkan siapa yang  Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan” (QS. An-Nahl/16 : 93).

Kalau saja perbedaan-perbedaan yang ada dalam kehidupan, dapat kita nikmati sebagaimana memandang pelangi di langit sana, tentu akan kita rasakan betapa indahnya perbedaan itu. (*)


Tag
div>