KAMIS , 16 AGUSTUS 2018

Pelemahan Rupiah, Gubernur Syahrul: Tak Perlu Kambinghitamkan Amerika dan China

Reporter:

Editor:

hur

Selasa , 01 September 2015 15:13

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo mengingatkan para pelaku usaha agar tidak mengkambinghitamkan negara-negara lain yang menguasai pasar dunia atas terjadinya pelemahan rupiah terhadap dollar. “Justru keadaan ini yang menggugah kita untuk hadir dengan semangat merah putih memperbaiki keadaan bangsa,” ujarnya di hadapan pelaku usaha se-Sulsel yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Hotel Grand Clarion, Makassar (Selasa, 1/9).

Syahrul mengaku belum mengganggap pelemahan ekonomi di Sulsel dalam tahap yang sangat serius. Karenanya dia mengimbau agar semua pihak tidak terlalu mendramatisasi keadaan yang sedang berlangsung saat ini. Dia lalu menjelaskan bahwa target ekspor 22 komoditi dari Sulsel, telah naik menjadi 27 komoditi, di mana kenaikan nilai dollar justru telah menguntungkan hasil ekspor tersebut, yang mencapai 1,7 triliun rupiah. Semua produk ekspor asal Sulsel tersebut berorientasi ke makanan dunia. Karenanya, Gubernur Syahrul melihat keunggulan tersebut sebagai peluang untuk memasuki pasar dunia. “Mari kita lihat negara yang mana lagi bisa kita terobos,” ujarnya.

Selain itu, dalam hal belanja daerah, menurut Syahrul, realisasi belanja pemerintah Sulsel masih yang paling tinggi secara nasional, yaitu 58 persen. Karenanya, Gubernur Sulsel menghimbau agar pelaku usaha di Sulsel dapat membantu menekan pelemahan ekonomi nasional. “Minimal kita yang tidak panik. Tolong juga jangan ada yang PHK,” pintanya, seraya mengingatkan bahwa badai ekonomi di Indonesia pasti akan berlalu.
Pertemuan anggota Apindo Sulsel dengan Gubernur Syahrul, dihadiri La Tunreng – Ketua Apindo Sulsel, AM Yamin – Ketua BKPMD Sulsel, Hadi Basalamah – Kepala Disperindag Sulsel, Syamsul Alam – Kadis Koperasi dan UMKM Sulsel, serta sejumlah kalangan pengusaha, perbankan, dan instansi lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua DPP Apindo Sulsel, La Tunreng mengatakan, tiga hal yang menjadi penyebab realisasi ekonomi meleset dari target, karena penyerapan APBN yang lambat, konsumsi masyarakat rendah, dan kinerja ekspor yang menurun. Namun, kata dia, kondisi ekonomi Sulsel masih di atas rata-rata nasional. “Di Sulsel, suatu rahmat bagi kita karena pertumbuhan rata-rata 7,6 persen sedangkan secara nasional hanya 4.6 persen,” tandasnya.


div>