RABU , 17 OKTOBER 2018

Pemberontakn PKI Terhadap Penjajah Belanda

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Sabtu , 26 September 2015 17:15
Pemberontakn PKI Terhadap Penjajah Belanda

Suasana di Tanah Merah, Boven Digul, Papua, 1933. Orang-orang PKI yang dibuang ke Digul karena memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, membangun sendiri tempat tinggalnya. Foto milik Louis Johan Alexander Schoonheyt ini koleksi KITLV. (jpnn)

RAKYATSULSEL.COM – Alamak bertanggal 25 Desember 1925. PKI menggelar konferensi nasional di Candi Prambanan. Keputusannya, meladeni pemerintahan kolonial Belanda dengan pemberontakan. Tujuannya, Indonesia merdeka!

Konferensi Prambanan dihadiri oleh Hofdbestuur alias Comite Central alias Pengurus Pusat dan para pimpinan PKI dari sejumlah daerah.

Antara lain, Sardjono, Budisutjitro, Sugono, Kusnogunoko, Najoan, Herujuwono, Winanta, Gondojuwono, Said Ali, Abdul Muntalip, dan Marco.

“Konferensi dipimpin dan dibuka oleh Ketua Hofdbestuur Sardjono. Kemudian Sugono atas nama Hofdbestuur memberikan uraian situasi serta tugas partai dewasa itu,” tulis Busjarie Latif, dari Lembaga Sejarah PKI dalam Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965).

Hofdbestuur kemudian mengusulkan agar kader-kader partai siap memimpin dan mengangkat senjata untuk menumbangkan pemerintah kolonial Belanda. Usul diterima bulat-bulat.

Karena satu dan lain hal, pemberontakan yang direncanakan Juni 1926 itu, molor.

Busjarie menceritakan, pemberontakan pertama meletus di Jakarta dan Banten, 12 November 1926 malam. Disusul Priangan, Surakarta, Banyumas, Pekalongan, Kedu, Kediri dan lain-lain di Jawa. Di ranah Minang baru meletus pada malam tahun baru 1927.

[NEXT-RASUL]

Pihak Belanda dalam Communist Uprisings of 1926-1927 in Indonesia lebih kurang menggambarkan situasi itu sebagai berikut:
Orang yang siap untuk melakukan aksi datang dari segala penjuru. Di antara mereka terdapat orang-orang yang tidak memiliki tanah, penduduk desa biasa, kepala desa, orang yang agak kaya, dan pemimpin agama. Juga terdapat jumlah besar haji dan jawara.

Digulung Kumpeni
Tak butuh waktu lama bagi Belanda memadamkan api pemberontakan. Setelah menggulung Jakarta, Belanda memusatkan kekuatan militernya sebesar lima kompi infanteri, 100 orang marsose dan kavaleri di bawah pimpinan Overste D. Engelbonner ke Banten.

Lebih kurang sebulan, Jawa selesai. Selanjutnya serdadu kumpeni ke Minangkabau. “Sebanyak 12 kompi dipimpin Mayor Rhenrev menindas pemberontakan yang meletus di Sumatera Barat,” papar Busjarie.

Pendeknya, tidak kurang dari 20 ribu orang ditangkap. Jumlah ini banyak sekali, mengingat dalam melakukan aksinya, Belanda bersemboyan; lebih baik salah tangkap seribu orang daripada lolos seorang.

Akhir Desember 1926, Belanda mulai melakukan pemeriksaan. Setelah itu, dari total yang ditangkap, 4.500 orang dibebaskan karena tak dapat bukti kesalahan mereka.

Yang dinyatakan bersalah dijerat pasal-pasal hukum pidana dan dibuang ke Digul. Ada pula yang dihukum mati.

Egom, Dirdja dan Hasan Bakri digantung di penjara Ciamis, 9 September 1927. Haji Sukri dan lima kawannya digantung di penjara Pandeglang. Haji Hasan di Cimareme, Garut. Kartawirja dan Aman di Padalarang. Ojod di Nagrek. Mereka digantung tahun 1927.

[NEXT-RASUL]

Di Sumatera Barat, Manggulung, M. Jusuf, Sampono Kajo, Badarudin Gelar Said digantung di penjara Sawahlunto, Maret 1927.

Menurut Busjarie Latif, sesaat sebelum menjalani hukuman, Manggulung berkata kepada keluarganya, “Kami dihukum gantung karena memberontak melawan pemerintah kolonial Belanda. Kami dihukum gantung karena membela kehendak merdeka dari rakyat… tapi kami yakin bahwa kematian kami tidak sia-sia dan kemenangan pasti kita capai.”

Boven Digul

Kondisi Boven Digul amatlah memprihatinkan. Tempat ini disiapkan tergesa oleh Belanda untuk mengasingkan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Di sini banyak yang berguguran.

Satu di antaranya Aliarcham, pimpinan PKI yang gugur 2 Juli 1933 karena malaria hitam dalam usia 32 tahun.

Sejumlah literatur mengisahkan, saat upacara pemakaman Aliarcham terjadi demonstrasi besar-besaran di Digul. Potretnya bersebaran.

Dan di nisannya, diukir sebuah sajak karya Henriette Roland Holst, penyair perempuan Belanda sahabat Bung Hatta:

bagi kami kau tak hilang tanpa bekas/hari ini tumbuh dari masamu/tangan kami yang meneruskan/kerja agung juang hidupmu/kami tancapkan kata mulia/hidup penuh harapan/suluh dinyalakan dalam malammu/kami yang meneruskan sebagai pelanjut angkatan. (Wenri Wanhar/wow/jpnn)


div>