SENIN , 18 DESEMBER 2017

Pembina LSM Limit Tersangka Pencemaran Nama Baik

Reporter:

Irsal

Editor:

doelbeckz

Senin , 20 November 2017 12:02
Pembina LSM Limit Tersangka Pencemaran Nama Baik

Mamat Sanrego

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pendiri sekaligus Pembina Harian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Investigasi dan Monitoring (Limit), Mamat Sanrego, terus dirundung masalah hukum. Setelah digugat mengosongkan rumah tempat tinggalnya, yang berlokasi di Green Villa Garden Jl Toddopuli X Blok A1 Nomor 07, Kelurahan Borong, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Pasalnya, pada hukum perdata ini, Mamat digugat karena melakukan sejumlah perbuatan melawan hukum..

Mamat kini diperhadapkan masalah hukum pidana. Yaitu ditetapkan Polrestabes Makassar sebagai tersangka pencemaran nama baik terhadap seorang pengusaha atas nama Dra Nurmiaty, yang juga merupakan penggugat pada kasus perdata yang menjerat Mamat sebelumnya.

Hal ini dibenarkan Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Anwar SH MH, Minggu (19/11). Menurutnya, penetapan tersangka itu setelah ditemukan bukti kuat atas dugaan pencemaran nama baik dan fitnah yang telah dilakukan.

“Iya, benar Pak Mamat (Mamat Sanrego) telah kita tetapkan sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik. Pelapornya itu, pimpinan PT Baktipersada Agrobisnis atas nama Dra Nurmiaty, seorang pengusaha,” bebernya.

Anwar mengatakan, kasus ini bahkan sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar. “Kasus ini baru-baru ini juga kita sudah limpahkan ke Kejaksaan Negeri Makassar,” katanya.

Sementara, Pengacara Nurmiaty, Nico Simen, mengatakan, pihaknya akan terus mengawal agar kasus ini segera disidangkan dan diputuskan.

“Kita bersyukur karena, sudah ditetapkan jadi tersangka dan kita berharap kasus ini segera disidangkan diputuskan agar nama baik klien kami dapat segera diperbaiki,” ujarnya.

Nico menjelaskan, Mamat telah melakukan fitnah dan pencemaran nama baik terhadap kliennya tersebut. Yaitu menuding perusahaan kliennya dalam hal ini PT Baktipersada Agrobisnis, sebagai perusahaan ilegal dan memperoleh kredit dari Bank BNI, karena adanya kongkalikong antara perbankan dengan PT Baktipersada Agrobisnis.

“Itu semua tidak benar dan tidak terbukti. Hal itu berdasarkan bukti-bukti formil yang diperoleh penyidik. Tudingan sebagai perusahaan ilegal itu tidak benar, buktinya PT Baktipersada Agrobisnis terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM. Itu setelah penyidik melakukan klarifikasi langsung ke Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta. Sementara, jika disebut kongkalikong, bank terkait juga sudah membantah jika ada permainan dalam penyaluran kreditnya kepada klien kami. Itu juga berdasarkan penyidikan dan penyelidikan yang dilakukan pihak terkait,” terangnya.

Nico mengatakan, akibat fitnah dan pencemaran nama baik yang dilakukan Mamat itu, membuat citra perusahaan kliennya menjadi terganggu.

“Nama baik perusahaan klien kami jelas terganggu. Baik itu di kalangan masyarakat umum, maupun relasi dan mitra kerjanya,” jelas Nico.

“Ini jelas merugikan dan merusak nama baik klien kami. Apalagi, tudingan itu diliris dan dipublikasi melalui sejumlah media cetak dan media online, beberapa waktu lalu,” tambahnya.

Sementara, Mamat Sanrego, yang berupaya dikonfirmasi hingga berita ini diturunkan, belum menjawab panggilan telepon dan belum membalas pesan Whatsapp yang dikirimkan. (irsal)


Tag
div>