SENIN , 17 DESEMBER 2018

Pemerintah Dinilai Terburu-buru Tetapkan HET Beras

Reporter:

asharabdullah

Editor:

Kamis , 07 September 2017 12:30
Pemerintah Dinilai Terburu-buru Tetapkan HET Beras

BERAS. Aktivitas penjual beras di Pasar Terong Makassar, belum lama ini. Pemerintah dinilai terburu-buru menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) komoditas beras. Pasalnya, belum ditetapkan jenis beras premium dan medium. ASEP/RAKYATSULSEL

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemerintah dinilai terburu-buru menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) komoditas beras. Pasalnya, belum ditetapkan jenis beras premium dan medium.

Ketua Asosiasi Suplaier Toko Modern (Astom) Sulsel, Makmur Mingko, mengakui, hal tersebut menjadi kekuatiran tersendiri, sehingga berdampak negatif terhadap para pedagang.

“Kalau HET beras itu ditentukan seberapa besar cost (biaya)-nya. Untuk di toko modern sendiri, kualifikasi kategori yang masuk beras premium itu masih di dominasi dari Pulau Jawa,” ujarnya.

Makmur mengatakan, retail modern di Makassar maupun pedagang di pasar tradisional telah dipasok dari leasingnya masing-masing. “Kalau beras lokal pada umumnya, seperti beras medium masih digunakan di toko retail modern. Sedangkan di pasar tradisional tercampur, apakah itu premium dan medium. Kan mereka tidak tahu jenis beras apa uang dipasoknya,” sebut Makmur.

Makmur menilai pemerintah terlalu cepat untuk menetapkan HET beras tanpa meninjau ulang di berbagai pasar maupun retail modern. “Terlalu terburu-buru. Mestinya ditinjau lebih awal, terus dikaji dan kemudian ditetapkan serta disosialisasikan kepada petani, penggiling, pedagang, dan end user (konsumen),” bebernya.

Makmur menjelaskan, pemerintah sudah menetapkan jenis beras premium, yakni 15 persen broken (patahan beras). Jika kurang dari itu, telah diklaim masuk di jenis beras medium. Namun, hal tersebut masih dalam tahap penggodokan. Patahan beras menjadi salah satu uji coba diketahuinya beras premium dan medium.

“Iya, itu baru wacana menteri perdagangan begitu, akan dilakukan perubahan atau diturunkan menjadi 10 persen yang memiliki patahan beras. Dan itu merupakan salah satu tolak ukurnya masing-masing,” ungkapnya.


div>