MINGGU , 18 NOVEMBER 2018

Pemilu Damai Jangan Sekadar Slogan

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

Iskanto

Senin , 08 Oktober 2018 10:28
Pemilu Damai Jangan Sekadar Slogan

ilustrasi (Rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Umum (Pemilu) akan digelar 17 April 2019 mendatang. Pesta demokrasi lima tahunan itu adalah kesempatan untuk memilih pemimpin lima tahun ke depan.
Namun yang menjadi harapan besar masyarakat agar Pilpres dan Pileg berjalan jujur, adil dan damai.

Pakar Sosial Unhas, Dr Muhammad Yusran menekankan agar Pemilu mendatang semua pihak harus menjaga kondisi agar tetap aman. Menurut dia, adanya potensi konflik dalam pelaksanaan Pemilu 2019 karena perbedaan pandangan dan pilihan politik dalam memilih pemimpin negeri ini.

“Momentum Pemilu 2019 sebenarnya perlu dipahami oleh masyarakat secara positif sebagai suatu kegiatan atau pesta demokrasi yang harus dinikmati secara baik dan gembira dalam memilih pemimpin,” ujarnya saat menjadi narasumber di dialog publik dengan tema “Pentingya Merajut Ukhuwah Islamiyah Dalam Menjaga Keutuhan NKRI” yang digelar Poros Pemuda Indonesia Sulsel, Minggu (7/10/18).

Ia menambahkan, momentum Pemilu 2019 sebaiknya dimanfaatkan oleh para pelaku politik untuk bersama-sama beradu gagasan atau strategi yang dapat bermanfaat dan berimplikasi positif.

“Bukan sebagai bahan perumusan. Sebaiknya juga bersama mendukung kebijakan pemerintah dalam membawa Indonesia menjadi lebih baik,” tuturnya.

Pakar Politik Unhas Makassar, Azwar Hasan mengatakan, berdasarkan sejarah bangsa ini, bahwa ulama dan raja nusantara bersatu dalam melakukan perjuangan untuk memerdekakan Indonesia. Oleh sebab itu, dalam Pemilu, meski berbeda dalam menentukan pemimpin, akan tetapi nafas kebhinekaan terus dijaga hingga selamanya.

“Dan pada saat Indonesia memperoleh kemerdekaan, seluruh kerajaan nusantara menyerahkan kedaulatan kepada Pemerintah Indonesia (NKRI, red),” ujar Azwar Hasan.

Ia memberi contoh kepada masyarakat bahwa sikap kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara telah ditunjukkan jauh hari oleh kerajaan nusantara Indonesia.

Menurutnya, yang menjadi penyebab sehingga keutuhan NKRI tetap terjaga yakni faktor keberadaan agama Islam sebagai perekat bangsa.

“Apabila dalam perkembangan bangsa ini terjadi upaya pelemahan dan kriminalisasi terhadap agama Islam maka hal itu berpotensi menimbulkan perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat yang mempengaruhi stabilitas NKRI,” jelasnya.

Akademisi Unismuh Makassar, Arqam Azikin mengatakan, perkembangan situasi negeri ini dihadapkan pada sejumlah ancaman yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI.

Dengan membawa sejumlah isu diantaranya permasalahan agama. Dan juga hal yang menjadi ancaman terhadap keutuhan NKRI yakni potensi ancaman munculnya paham komunisme.

“Selain itu dalam membahas NKRI, tentunya saat ini masyarakat Indonesia dihadapkan pada adanya ancaman kultur dengan sasaran kaum pemuda,” katanya.

Lanjut dia, peran kaum pemuda wajib memiliki wawasan yang komprehensif tentang NKRI, guna mencegah berkembangnya stigma sekuler.

Ketua GEMA Pembebasan Sulsel, Abd Khaliq mengatakan pentingnya untuk menjaga ukhuwah Islamiyah. “Ukhuwah Islamiyah tidak hanya dikaitkan dengan NKRI namun hal tersebut perlu dipahami secara global bahwa perlu adanya kebersamaan dan persatuan ummat,” singkatnya.

Ketua KAMMI Sulselbar, Muhammad Farid menuturkan, ukhuwah atau persaudaraan merupakan hal yang substansi dalam konteks agama Islam.

Menurut dia, Indonesia sebagai negara kesatuan dengan perjalanan panjang hingga saat ini, tidak lepas dari semangat persaudaraan dan persatuan. “Sebab hal itu merupakan modal dalam membangun suatu negara,” terangnya.

Terkait Pemilu 2019, ia berharap pada pihak penyelenggara agar dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab dapat bersikap adil dengan menjaga integritas serta netralitas.

“Selain itu kepada para pelaku politik, khususnya peserta Pemilu 2019 untuk menghindari perilaku negatif dalam bentuk praktek money politic dan penyebaran informasi hoax,” pungkasnya.

Juru Bicara Partai Gerindra Sulsel, Syawaluddin Arif mengingatkan pentingnya Pileg dan Pilpres damai 2019. “Menurut kami, Pilpres dan Pileg damai adalah jalan terbaik untuk menciptakan demokrasi yang baik,” katanya.

Ditambahkan, meski saat ini ada getaran dari berbagai pendukung untuk kandidat di Pilpres. Akan tetapi, pihaknya di Gerindra tetap mengajak masyarakat untuk kawal Pemilu bersih dan damai.

“Kami juga mengajak semua komponen masyarakat agar sama-sama mengawal jalannya Pemilu damai di negeri ini,” jelasnya.

Sementara Juru Bicara NasDem Sulsel, M Rajab juga mengajak elemen masyarakat menjaga kondisi sekitar demi terwujudkanya Pemilu berkualitas. “Semua pihak wajib mengawal Pemilu dengan damai, aman, tertib, dan lancar,” imbuhnya.

Anggota DPRD Sulsel itu berharap peran penyelenggara dalam hal ini KPU dengan mensosialisasikan ajakan agar seluruh pihak senantiasa memelihara situasi dalam rangka menciptakan Pilpres dan Pileg yang aman, damai, dan sejuk.

“Sudah menjadi kewajiban bersama sebagai wujud pernyataan dukungan untuk terlaksananya Pemilu 2019 yang aman, damai, dan sejuk,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua PSI Sulsel, Fadli Noor mengimbau kepada masyarakat tentang pentingnya Pemilu damai 2019 yang berkualitas dan bermartabat.

“Imbauan untuk masyarakat agar menjaga informasi liar. Tidak hanya memerangi berita hoax, kami mengajak semua elemen masyarakat memerangi politisasi SARA, hate speech dan money politic,” singkatnya. (*)


div>