SENIN , 24 SEPTEMBER 2018

Pemimpin Bissu Segeri Tutup Usia

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 03 September 2012 11:02
Pemimpin Bissu Segeri Tutup Usia

Puang Lolo Bissu, Puang Upe, saat dimakamkan Sabtu (1/9).

Puang Lolo Bissu, Puang Upe, saat dimakamkan Sabtu (1/9).

RAKYAT SULSEL . PANGKEP – Dunia seni budaya Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali berduka. Tokoh penting komunitas “waria sakti” dari peradaban Bugis kuno, Puang Lolo Bissu, Puang Upe berpulang ke Rahmatullah untuk selama-lamanya. Puang Upe tutup usia di rumahnya di Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep Jumat (31/8).

Kabar berpulangnya salah satu tokoh budaya tersebut langsung mengundang simpati dan ungkapan duka cita dari berbagai kalangan, khususnya para pemerhati budaya, tokoh adat, pejabat daerah, pegiat seni dan sastra serta dari kalangan akademisi, pelajar dan mahasiswa. Para pelayat langsung berbondong-bondong mendatangi rumah duka untuk mengantar sang bissu sakti ini ke peristirahatannya yang terakhir di Pekuburan Bocco-boccoe,kelurahan bonto Matene, Kecamtan Segeri.

Puang Upe adalah sosok dan pemelihara setia arajang Segeri. Salah satu kelebihan Puang Upe yang dikenang dan dikagumi, baik oleh Bissu maupun oleh masyarakat pendukungnya adalah keberaniannya menusuk matanya dengan keris saat berlangsungnya seni tari maggiri’ sebagai salah satu rangkaian dalam Upacara Adat yang sering dilaksanakan Komunitas Bissu ini.

Saat–saat terakhir hidupnya, Puang Upe memang diketahui telah lama menderita berbagai penyakit disamping karena umurnya yang tak lagi muda. “Puang Upe’ lama menderita asma, hampir setiap hari mengeluarkan batuk yang keras disertai demam yang meninggi. Jauh sebelum Puang Matoa Bissu berpulang, Puang Upe pernah menderita stroke ringan”, jelas Andi Herman, pengurus Lembaga Adat Segeri.

Puang Lolo Bissu, Puang Upe dikebumikan Sabtu (1/9) di pekuburan islam Bocco – Boccoe, tidak jauh dari Bola Arajang Bissue’ di Segeri.

Menurut budayawan Pangkep, Farid Makkulau Puang Upe adalah sosok yang bersahaja dan dihormati oleh masyarakat. Satu tahun terkahir sebagai pemangku adat, menurut Farid cukup menguras tenaga bissu 53 tahun ini untuk memimpin berbagai kegiatan adat.

“Satu tahun terakhir beliau adalah pemangku adat sementara puang matoa yang bertugas meminpin acara-acara adat,atau menjadi nara sumber diberbagai forum yang bertema bissu,” kata Farid.

“Kesederhanaan beliau membuat dia dihormati dan dituakan oleh masyarkat Pangkep, khususnya komunitas bissu. Yang pasti kita kehilangan pelestari budaya yang baik dan kita semua menundukkan kepala terdalam untuknya,” tandanya. (K5/C)


Tag
div>