JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Pemkot Sediakan Rp1,9 Miliar Beli Sampah

Reporter:

Armansyah

Editor:

Iskanto

Senin , 24 September 2018 08:30
Pemkot Sediakan Rp1,9 Miliar Beli Sampah

ANDRI SAPUTRA\HARIAN RAKYAT SULSEL/D BANK SAMPAH. Sejumlah pekerja mengangkat kardus bekas di Kantor UPTD Pengolaan Ulang Sampah Jl Tondopuli Raya, belum lama ini. Pemkot Makassar menyiapkan anggaran sebesar Rp1,9 miliar tahun ini untuk membeli sampah.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar menyiapkan anggaran sebesar Rp1,9 miliar tahun ini untuk membeli sampah. Yaitu dengan rata-rata pembelian Rp5 juta setiap harinya.

Anggaran ini diperuntukkan untuk membeli sampah yang dikumpulkan masyarakat melalui Bank Sampah Unit (BSU) yang tersebar di seluruh kecamatan.

Ketua Umum Asosiasi Bank Sampah Indonesia, Saharuddin Ridwan, realisasinya pembelian sampah hingga Agustus mencapai Rp1,4 miliar. Bahkan, dalam sebulan jumlah transaksi bisa mencapai Rp150 juta.

“Tahun ini anggaran beli sampah kita capai Rp 1,9 miliar dan anggaran yang disiapkan UPTD Bank sampah. Satu bulan itu bisa Rp100-Rp150 juta transaksi. Pembelian per hari bisa Rp5 juta,” ungkapnya, Minggu (23/9).

Sahar, sapaan akrab Saharuddin Ridwan, menjelaskan, keterlibatan masyarakat dalam hal pengolahan sampah melalui program bank sampah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Tercatat, pada tahun pertama bank sampah ini terbentuk ada 180 unit bank sampah yang tersebar di seluruh wilayah di Makassar. Namun, tahun 2016 mengalami peningkatan sampai 300 unit. Bahkan, sampai saat ini, jumlah bank sampah mencapai 1.000 unit dari 5.247 bank sampah yang ada di Indonesia.

Menurutnya, gairah masyarakat untuk menjual sampahnya makin bagus. Karenanya, anggaran pembelian sampah perlu ditambah.

“Kita juga butuhkan tambahan armada penjemputan. Di kecamatan, sosialisasi juga masih perlu di tingkatkan,” jelasnya.

Selain itu, tingkat pengetahuan masyarakat terhadap manfaat bank sampah masih minim. Terlihat dari 1,7 juta jumlah penduduk hanya sekitar 60.000 penduduk yang menjadi nasabah bank sampah.

Padahal, dengan jumlah nasabah seperti itu, perputaran uang melalui program bank sampah mencapai Rp2,9 miliar pada 2017 lalu, Anggaran tersebut turun sekira Rp 1 miliar bila dibanding dengan anggaran tahun 2018. Anggaran ini kemudian diolah menjadi sampah tukar gas, galon, pulsa, beras, dan program lainnya.

Sahar merinci, tahun lalu pengolahan sampah plastik mencapai 393,8 Kilogram (Kg) dengan perputaran uang mencapai Rp1,4 miliar, pengolahan sampah logam 59,1 Kg dengan nilai uang Rp130 juta, pengolahan sampah kertas 818,9 Kg dengan nilai uang Rp1,30 juta, dan pengolahan sampah botol/kaca 31,751 Pcs dengan nilai uang Rp23,3 juta.

“Kita beli sampahnya dan di bawa ke bank sampah pusat, lalu dibeli vendor. Kita berharap nasabah terus meningkat, dari 60 ribu saja yang tercatat sebagai nasabah reduksi sampah kita bisa mencapai 1200 ton setiap tahunnya,” jelas Sahar.

Sahar menjelaskan, keberhasilan suatu daerah dalam mengelola sampah dilihat dari jumlah sampah yang terbuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setiap tahunnya.

“Lahan kita di TPA Tamangapa hanya 16,8 Hektare (Ha), kalau sampah organik bisa lebih cepat terurai, nah kalau sampah plastik, butuh waktu 200 tahun untuk mengurai itu. Kalau tidak secepatnya dibuatkan alternatifnya, TPA kita akan mengalami over kapasitas, nah, bank sampah inilah salah satu solusinya,” jelas Sahar.

Sementara, Kepala UPT Bank Sampah Dinas Lingkungan Hidup Makassar, Nasrun, mengatakan, anggaran itu (beli sampah) sudah tiap tahun dialokasikan pemerintah. Tujuannya, untuk membayar sampah-sampah yang dikumpulkan melalui BSU dimana rata-rata pembelian sampah bisa mencapai 10 ton perharinya.

“Rata-rata kita bisa beli 10 ton per hari. Tahun ini, anggarannya Rp1,9 miliar,” katanya.

Tercatat hingga Mei 2018, realisasi pembelian sampah sudah melebihi 50 persen. Bahkan, realisasinya sudah mencapai Rp1,4 miliar. Diketahui, BSU aktif 459 unit dari sekira 1.000 unit yang terdaftar. (*)


div>