MINGGU , 18 NOVEMBER 2018

Pemprov Sulsel Kendalikan Inflasi Lewat Pasar Pangan Murah

Reporter:

Al Amin

Editor:

Lukman

Sabtu , 21 April 2018 07:00
Pemprov Sulsel Kendalikan Inflasi Lewat Pasar Pangan Murah

Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan Soni Sumarsono saat meninjau Pasar Pangan Murah dan Berkualitas di Kantor Dinas Ketahanan Pangan, Jalan Ratulangi, Makassar, Jumat (20/4).

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan Soni Sumarsono didampingi Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultural Sulsel, Fitriani meninjau Pasar Pangan Murah dan Berkualitas di Kantor Dinas Ketahanan Pangan, Jalan Ratulangi, Makassar, Jumat (20/4).

Soni berharap agar menjaga kebutuhan pangan seluruh stakeholder dapat berkoordinasi dengan aktif, bukan untuk agenda perseorangan.

“Persoalan pangan ini bukan persoalan yang menjadi tanggung jawab perseorangan, tapi merupakan tanggung jawab oleh semua masyarakat terutama penggerak tani, penyuluh dan seterusnya. Termasuk juga pendukungnya, seperti perbankan dan lainnya,” kata Soni.

Soni juga mengatakan bahwa kesiapan pencegah inflasi sudah merupakan tanggungjawab pemerintah, terkhusus Dinas Ketahanan Pangan, termasuk penyediaan kecukupan pangan di Sulsel.

“Kinerja dinas ini sudah bagus saya lihat, tapi juga harus ditunjang juga oleh petani dan juga kepada pemanfaatan Gapoktan dan semuanya harus mendapat dukungan penuh,” paparnya.

Selain itu, Soni berharap agar asar pangan ini tidak hanya murah namun juga berkualitas, serta dapat berkelanjutan hingga lebaran tiba.

“Yang ada selama ini banyak yang murah tapi tidak berkualitas. Ini tantangan buat kepala dinas biar murah tapi berkualitas. Tapi jangan murah hanya hari ini saja, jangan hanya dipameran saja,” ujarnya.

Terkait lonjakan harga seperti bawang dan cabai di pasar tradisional, Soni berharap hak itu bisa dikendalikan. Dalam hal ini tidak terjadi perbedaan harga antar daerah yang sangat signifikan.

“Saya ke Bone harga cabai Rp50 hingga Rp60 ribu, di sini melalui pasar ini bisa turun Rp25 ribu per kilonya. Yang di pasar tidak ada masalah pemerintah siap menangani semua itu,” katanya.

Kedepan Soni akan melakukan rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulsel bersama dinas terkait.

“Intinya kalau ada harga mahal, tanpa kendali itu harus ada batasnya kalau kenaikan tajam suplai tidak ada maka kita intens operasi pasar,” tegasnya.

Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulsel, Fitriani mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk promosi, sosialisasi tokoh tani sekakigus sebagai wadah untuk melayani konsumen dengan harga yang murah dengan produk berkualitas.

“Kita prioritaskan satu kecamatan untuk hari ini, tapi untuk hari lain kita gelar terus menerus sampai bulan puasa. Stok kita ada. Toko tani punya stok untuk melayani konsumen dalam harga yang murah dan berkualitas,” jelasnya.

Terjadinya perbedaan harga di setiap daerah kata Fitri hal itu sangat lumrah, pasalnya di beberapa pasar tradisional mengalami pindah tangan beberapa kali sehingga memicu naiknya harga seperti cabai dan bawang merah.

“Tentu pasti ada kenaikan harga yang berbeda, arena itu kan melalui eceran beberapa kali pindah, kalau kita gapoktan ke toko tani langsung,” lanjutnya.

Untuk stok pangan, Fitri mengaku akan aman hingga tiga bulan ke depan.

“Panen kita di Sulsel hingga Maret kemarin mencapai 1,5 juta ton beras. Kalau Sulsel bisa aman 3 bulan kedepan untuk konsumsi tapi kita juga melayani provinsi lain,” pungkasnya. (*)


div>