SENIN , 10 DESEMBER 2018

Pemuda Berperan Penting Menjaga Danau Malili

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Senin , 30 April 2018 21:39
Pemuda Berperan Penting Menjaga Danau Malili

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Sulsel, Sri Endang Sukarsih (kanan) berbicara pada sarasehan Festival Danau Kompleks Danau Malili, yang digelar Forum Pemerhati Kompleks Danau Malili (FPKDM) di Aula Kantor Camat Nuha, Luwu Timur, Senin (30/4). foto: ist

Festival Danau Kompleks Danau Malili 2018

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemuda harus mengambil peran strategis dan penting dalam upaya mendukung dan mewujudkan pelestarian air dan ekosistem di kompleks Danau Malili dan sekitarnya.

Pemuda harus menjadi pelopor agent of change, agent of environment, dan agent of mederenization dalam upaya kontribusi nyata peran aktif pemuda untuk perubahan yang lebih baik dalam melindungi ekosistem danau kompleks Danau Malili.

Hal itu karena pemuda juga yang paling banyak menggunakan air dalam melakukan kegiatan di sekitarnya.

Hal ini terungkap dalam sarasehan Festival Danau Kompleks Danau Malili, yang digelar Forum Pemerhati Kompleks Danau Malili (FPKDM) di Aula Kantor Camat Nuha, Luwu Timur, Senin (30/4).

Sarasehan ini adalah salah satu rangkaian Festival Kompleks Danau Malili Tahun 2018 yang digelar FKPDM bekerja sama dengan Perkumpulan Wallacea, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM), Burung Indonesia, Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) Wallacea, dan Pemkab Lutim.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Sulsel, Sri Endang Sukarsih, sebagai salah satu pemateri menegaskan, jika peran pemuda sebagai agen perubahan punya nilai sangat strategis dalam upaya mendorong perlindungan dan pengawasan terjaganya ekosistem danau kompleks Danau Malili.

Sri Endang mengatakan, pemuda jaman now yang paling terdekat dalam akses perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka aktif di media sosial berinteraksi dengan banyak orang diberbagai kalangan. Dalam interaksi itu akan banyak melahirkan ide dan gagasan, yang sebaiknya mereka wujudkan dalam kerja nyata dalam bentuk program di masyarakat.

Mereka wajib melaporkan jika ada kegiatan yang berpotensi merusak lingkungan dan ekosistem danau kompleks danau malili. Mereka harus aktif membuat sanitasi dengan tidak membuang sembarang sampah ke danau.

Namun, semua upaya itu tidak akan berjalan efektif jika tidak berkolaborasi dengan smua pihak. Oleh karena itu, harus dibuat agenda bersama dalam mempelajari dn mengidentifikasi permasalahan dan hambatan air danau. Mempelajari kandungan air dan membuat skema upaya pelestarian air.

“Salah satu upaya mendukung pelestarian dan pemanfaatan air di kawasan kompleks Danau Malili dan sekitarnya dengan menyadari siapa pengguna air terbanyak di sekitarnya,” ujar Sri Endang melalui rilis diterima redaksi.

Kewajiban mereka melakukan services paymeent enviromental atau pembayaran jasa lingkungan

Mereka wajib membayar jasa pemakaian air yang selama ini digunakan. Baik perorangan maupun kelompok atau perusahaan.

Payment bisa dalam bentuk uang, program csr atau upaya lain dalam meningkatkan potensi dan pemberdayaan masyarakat sekitar kompleks Danau Malili.

Sri Endang menutup materinya dengan menegaskan, jika tidak ada alasan untuk menunggu berbuat. Mulai dengan hal kecil untuk membuktikan wujud peran pemuda.

Dalam sarasehan ini juga menghadirkan narasumber dari Perhimpunan Burung Indonesia Damayanti, Ketua Pokja Kemendes Idham Arsyad, Sekjen Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) Andri Santosa, Forum Pemerhati Kompleks Danau Malili (FPKDM) Luwu Timut Zainuddin, Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) Zainal Abidin, dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Syamsu Alam.

Dihadiri peserta dari SKPD terkait lingkup Pemprov Sulsel dan Pemkab Lutim, Forum Danau (Desa/Kabupaten), Pemerintah Desa (Kades dan BPD), P3MD, Karang Taruna (Desa/Kabupaten), BKSDA, CSO, PT Vale, dan Akademisi. (****)


div>