SABTU , 20 OKTOBER 2018

Penataan Perparkiran Makassar Masih Semrawut

Reporter:

Armansyah

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 26 Mei 2018 11:00
Penataan Perparkiran Makassar Masih Semrawut

PROGRAM SMART PARKING. Ratusan motor terparkir di kawasan Panakukang, belum lama ini. Dok, RAKYATSULSEL

* Pemkot Berpotensi Kehilangan Pemasukan Retribusi Parkir

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Penataan Perparkiran di Kota Makassar semakin semrawut, bahkan pihak PD Parkir terkesan cuek dengan menjamurnya juru parkir (Jukir) ilegal. Dampaknya potensi restribusi parkir sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) hilang.

Dari pantauan, penataan parkir disejumlah pasar tradisional seperti Pasar Pa’baeng-baeng dan Pasar Butung, semakin tak terkendali berkat penataan parkir yang buruk, baik dari jukir resmi maupun jukir ilegal.

Bahkan di titik parkir Jalan mawas harga parkir dari PD Parkir Rp 1000 untuk motor, kini harga parkir naik sampai Rp 5000 per motor. Sementara titik parkir Jalan Boulevard bervariasi mulai Rp 3000 sampai Rp 5000 permotor.

Direktur Utama (Dirut) PD Parkir, Irianto Ahmad saat dikonfirmasi melalui telfon seluler tidak ada jawaban.

Sementara itu, Plt Walikota Makassar, Syamsu Rizal MI mengatakan bahwa pasar tradisional milik Pemkot yakni Pasar Butung dan Pasar Pa’baeng-baeng terlihat semrawut karena penataan parkir yang mengakibatkan kenyaman masyarakat terganggu.

“Agak crowded (ramai) di pasar tradisional yakni Pasar Butung,” ucap Syamsu Rizal MI, Jumat (25/5).
Ia berharap, semua tujuan dari warga Kota Makassar selama bulan ramadan bisa berjalan aman, lancar dan nyaman, sehingga pihaknya ingin Perusahaan Daerah (PD) bisa lebih intens memantau.

“Ada yang mesti di telfon PD-nya, mesti ditelfon pihak ketiganya, mesti di telfon ownernya, dikoordinasikan agar semua bisa jalan,” cetus Deng Ical.

“Intinya kita mau menciptakan kenyamanan untuk tempat-tempat tujuan masyarakat di bulan ramadan ini,” lanjutnya.

Diketahui, kinerja PD Parkir dalam pengelolaan perparkiran semakin menurun, bahkan terkesan jalan ditempat. Terutama program PD Parkir yakni parkir online yang dicanangkan dan diluncurkan sejak september 2017 lalu pada saat event Makassar International Eight Festival (F8).

Upaya realisasi parkir online di 54 titik parkir di Kecamatan Ujung Pandang, bahkan tak berjalan sesuai rencana. Pasalnya 54 titik parkir kini sisa 10 titik parkir di Kecamatan Ujung Pandang.

Sebelumnya, Humas PD Parkir, Sri Suhartini, juga mengakui jika program parkir online memang belum berjalan maksimal.

“Kemarin diuji coba baru satu Kecamatan, kita sudah sosialisasi sejak November tapi sampai hari ini memang tidak berjalan maksimal, satu kecamatan saja belum apalagi seluruh kecamatan” cetus Sri Suhartini.

Ia mengatakan bahwa pihaknya masih ingin mengkaji ulang penerapan parkir daring tersebut pasalnya pihaknya menilai selama ini parkir konvensional masih jauh lebih baik dan potensial dibanding parkir online yang selama ini dilakukan.

“Pasti kita berpikir, kalau misal pakai parkir online terus lebih banyak di parkir konvensional, lebih baik kita kembali yang lama saja,” ucap Sri Suhartini.

“Kita mau ada progres dan hasil yang maksimal tapi kalau begini mending kita pakai yang lama saja,” lanjutnya.

Ia mengatakan bahwa kendala dalam penggunaan parkir online dimana kadang Jukir online yang bertugas, tidak melakukan prosedur penggunaan HP untuk memfoto plat kendaraan yang menggunakan lahan parkir. Padahal alat yang diberikan sudah canggih dan menghabiskan anggaran.

“Pengawasan yang kurang karena jumlah kita terbatas, jadi perlu dipikirkan ulang,” kata Sri Suhartini.
Diketahui, setiap Jukir Parkir Online telah diberikan fasilitas atau alat untuk digunakan yakni HP Samsung J7, yang harganya sekitar Rp3,5 juta. Selain itu, juga dilengkapi alat pencetak (Print) untuk mengeluarkan struk alat bukti parkir online. (*)


div>