SENIN , 22 JANUARI 2018

Pengadaan Bibit Kakao Di Bulukumba, Sarat Penyimpangan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 25 September 2012 11:15

BULUKUMBA – Gerakan Nasional Kakao (Gernas Kakao) tahun 2012 melalui pengadaan bibit kakao Somatic Embryogenesis (SE), di Desa Tanah Harapan, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, diduga sarat penyimpangan. Kegiatan yang menghabiskan anggaran sekitar Rp1,4 milliar ini, dinilai menyalahi prosedur yang telah ditentukan.

Sumber yang tidak mau disebutkan identitasnya kepada Rakyat Sulsel mengatakan,  banyak penyimpangan dari rekanan yang memenangkan tender tersebut yakni CV Reskita Utama Abadi, mulai dari dugaan mark-up pengadaan barang, sampai penyaluran bibit yang tidak sesuai prosedur penyaluran.

Dikatakannya, semua pengadaan barang lokasi pembibitan seperti paranet, plastik sungkup, dan kelengkapan lainnya, semuanya menggunakan barang bekas pemenang tender sebelumnya.

“Semestinya lokasi pembibitan harus dengan tampilan serba baru, sebab penggantian kelengkapan pembibitan bukan tanpa sebab, ada manfaat tersendiri bagi kegiatan pembesaran bibit somatic embryogenesis tersebut, terlebih lagi kan ada anggarannya,” ungkap sumber yang namanya tidak ingin dikorankan.

sementara itu, salah satu pelaksana kegiatan, Kimang, Kepada Rakyat Sulsel belum lama ini ketika dimintai keterangannya, membenarkan hal tersebut.

Terpisah, pengawas atau pendamping CV Reskita Utama Abadi, Syahrul, yang dimintai keterangan terkait pengawasan penyaluran bibit kakao tersebut mengakui, jika pihak rekanan bandel dengan tidak mengindahkan larangan-larangan yang tidak sesuai dengan prosedur penyaluran bibit.

Mulai dari besar kecilnya bibit yang diangkut, bibit yang disalurkan tidak di beri label atau sertifikat dari balai benih yang terkait, penumpukan bibit yang berlebihan diatas armada pengangkutan yang melebihi kapasitas, pengangkutan pada hari libur dan malam hari, dan masih banyak larangan lainnya yang belum sempat disebutkan.

“Kami pihak pendamping sering kali melarang hal-hal yang tidak sesuai dengan prosedur, namun pihak rekanan tidak pernah mengindahkan larangan kami, bahkan kami sudah laporkan ke dinas terkait, namun sampai saat ini kami belum tau tindak lanjutnya,” terang Syahrul. (k22/dj/C)


Tag
div>