Pengadilan Negeri Makale Putuskan Dua Kasus Pembunuhan | Rakyat Sulsel

Pengadilan Negeri Makale Putuskan Dua Kasus Pembunuhan

Satu Berakhir Ricuh

Kamis , 18 Oktober 2012 09:48
Total Pembaca : 560 Views
Nampak keluarga korban berusaha menghalangi mobil tahanan yang ditempati terdakwa Aris Palute (DJAYA/RAKYAT SULSEL/D)

Baca juga

Nampak keluarga korban berusaha menghalangi mobil tahanan yang ditempati terdakwa Aris Palute (DJAYA/RAKYAT SULSEL/D)

TANA TORAJA – Akhirnya Salman, terdakwa yang membunuh istrinya Debi Kartika divonis 19 tahun penjara dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri Makale, Rabu (17/10) kemarin.

Yance Bombing selaku ketua Majelis Hakim memutus terdakwa setahun lebih tinggi, dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang hanya memberikan tuntutan 18 tahun penjara.

Dari fakta persidangan itu, majelis hakim berpendapat bahwa Salman secara sah dan meyakinkan telah merencanakan pembunuhan terhadap istrinya di Cafe Ceria Garonggong, kelurahan Ariang, kecamatan Makale pada bulan april lalu. Fakta persidangan juga mengungkap, pembunuhan ini bermotif cemburu.

Salman dengan sadis membunuh istrinya sendiri Debi Kartika yang saat itu didapatinya berada di cafe Ceria bersama lelaki lain. Wanita yang dinikahinya selama tujuh tahun dan dikarunia 4 orang anak itu, meregang nyawa dengan luka tebasan parang dan nyaris memutuskan lehernya. Atas putusan majelis hakim itu, terdakwa dan jaksa penuntut umum mengatakan pikir-pikir.

Sementara itu dihari yang sama, sidang putusan kasus pembunuhan di Mengkendek dengan terdakwa Aris Palute berakhir ricuh. Puluhan keluarga korban tidak puas dengan putusan hakim yang hanya memvonis terdakwa 14 tahun penjara atau sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum.

Saat sidang usai, sejumlah keluarga korban menyerang terdakwa, Aris Palute, saat akan dinaikkan ke atas mobil tahanan. Bahkan mereka menghadang mobil tahanan dengan duduk di jalan. Namun karena kesigapan aparat kepolisian aksi tersebut berhasil diatasi.

“Sudah tidak ada keadilan, masa hukumannya cuma 14 tahun padahal pembunuhan itu sudah di rencanakan, hakim sudah dibayar,” teriak Yustina didalam ruang persidangan.

Kasus pembunuhan tersebut sebenarnya terjadi pada bulan mei lalu. Saat itu terdakwa Aris Palute yang sehari-hari bekerja sebagai pengembala kerbau, terlibat perkelahian dengan korban, Markus Ruruk, gara-gara korban mencabut patok kayu yang dipasang oleh korban yang biasa dilalui oleh kerbau terdakwa.

Namun dari fakta persidangan, terdakwa memukul korban karena untuk membela diri, namun karena pukulan yang mengenai kepala korban mengakibatkan korban meninggal dunia. Atas putusan hakim tersebut terdakwa Aris Palute menyatakan pikir-pikir. (K12/DJ/D)