JUMAT , 17 AGUSTUS 2018

Pengaruh Bahasa Indonesia – Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Ke10

Reporter:

by Ahmad M. Sewang

Editor:

Nunu

Jumat , 23 Maret 2018 15:04
Pengaruh Bahasa Indonesia – Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Ke10

int

Dalam postingan sebelumnya, saya memperkenalkan bahwa bahasa Indonesia sangat berpengaruh ke dalam masyarakat Saudi. Misalnya, dapat dilihat dalam pergaulan masyarakat. Para penjual lebih suka menggunakan bahasa Indonesia walau masih terbatas pada transaksi jual beli. Hal ini juga pada bangsa lain yang bermukim di Saudi, seperti Banglades, Pakistan, dan Uzbekistan yang kebetulan saya temui. Mereka pun menggunakan bahasa Indonesia, baik yang bekerja di sektor jasa seperti di perhotelan.

Kalimat yang paling banyak digunakan masih terbatas pada kosa kata sehari-hari antara lain: “Mari-mari, singgah-singgah, murah-murah, ada diskon banyak, sambil menjabat tangan dengan pengunjung.” Di Jedah ada toko perbelanjaan yang ditulis dalam bahasa Indonesia, seperti pengalaman Rasyid Masri, yaitu Toko Ali Murah. Pegawai di perhotelan yang bertugas di front office, setelah melihat performa Indonesia, langsung berbahasa Indonesia dalam melayani tamunya.

Pengaruh bahasa Indonesia sudah berlangsung lama, disebabkan umat Islam Indonesia mayoritas Muslim yang setiap tahun paling banyak yang datang di Saudi melaksanakan ibadah haji dan umrah. Orang dari Nusantara sudah banyak bermukim di Saudi dan sebagian sudah menjadi warga negara. Awalnya mereka sebagai jamaah haji kemudian menjadi warga negara, seperti keluarga kami, Syekh Yasin al-Mandari, yang ke Saudi di awal tahun 1930. Kemudian dipercaya sebagai ulama memberi pengajian di Masjid Haram di Mekah. Mereka menjadi warga negara dan meninggalkan banyak keturunan di sana. Sumber bacaan saya menunjukkan hampir semua daerah dan suku di Nusantara meninggalkan banyak warganya sebagai warga negara yang kemudian membentuk paguyuban. Selain al-Jawi, al-Bugisi, al-Makassari, al-Mandari, al-Minangkabawi, al-Banjari, dan seterusnya.

Dalam memperkuat kedudukan bahasa Indonesia di negeri kaya minyak ini, maka Konsulat Jendral Republik Indonesia di Jedah mendirikan kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BPRI). Kursus yang sudah memasuki angkatan ke-13 itu, kali ini diikuti oleh 90 warga lokal. Tema yang diangkat dalam kursus BIPA 2018 adalah, “Menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua di Arab Saudi”. Penyelenggaraan kursus tersebut disambut positif. Bahkan, Otoritas Imigrasi Bandara King Abdulaziz memesan khusus 25 kursi untuk peserta BIPA dari mereka. (Jeddah)

Tidak cuma BIPA, menurut Konjen, saatnya diprogramkan Pusat Studi Bahasa dan Budaya Indonesia di kampus-kampus Arab Saudi. Oleh sebab itu, pihaknya sedang memulai komunikasi dengan kampus-kampus ternama seperti Universitas Islam Madinah dan King Abdulaziz University Jedah agar pusat bahasa bisa dibuka sesegera mungkin.. Sebagai dikemukakan dalam postingan sebelumnya bahwa bahasa Indonesia diberi tempat tersendiri dalam halaqah di Masjid Nabawi. Tidak mustahil bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua di Arab Saudi sesuai tema kursus di atas.


Tag
  • ujas tour
  •  
    div>