RABU , 13 DESEMBER 2017

Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Perlu Diawasi

Reporter:

Editor:

Sofyan Basri

Jumat , 27 Oktober 2017 21:58
Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Perlu Diawasi

KAIS REZEKI: Nelayan menjaring ikan di Pantai Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kamis (26/10). (A. YUSRON FARISANDY/Radar Madura/JawaPos.com)

BANGKALAN, RAKYATSULSEL.COM – Karena dianggap bisa merusak ekosistem laut, beberapa penggunaan alat tangkap ikan dilarang oleh pemerintah. Sebab, bisa merusak ekosistem perikanan. Untuk itu, nelayan harus berhati-hati menggunakan alat tangkap. Jika tidak patuh, bisa disanksi.

Sekretaris Dinas Perikanan Bangkalan Subiyanto menerangkan, sejak awal tidak banyak nelayan yang menggunakan alat tangkap jenis di Kota Salak. Sebab, nelayan di Kota Salak banyak didominasi perahu kecil.

”Kebanyakan untuk mencukupi kebutuhan. Jarang yang punya alat tangkap semacam itu,” ucapnya Kamis (26/10).

Menurut Subiyanto, larangan tersebut mengacu pada pertimbangan kelangsungan ekosistem laut di Indonesia, khususnya di Bangkalan. Larangan penggunaan alat penangkapan ikan (API) di antaranya jenis trawl atau pukat, biasa juga disebut cantrang. Larangan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan (KP) Nomor 2 Tahun 2015.

”Sejauh ini nelayan masih patuh aturan. Sebab memang sudah tahu dilarang,” klaimnya.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Bangkalan M. Husni Syakur meminta agar pemerintah tidak sekadar melakukan klaim terhadap larangan alat tangkap. Penggunaan API perlu diawasi dengan ketat.

”Harus benar-benar dipantau. Jangan hanya menunggu ada laporan. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” ujarnya.


div>