SENIN , 19 NOVEMBER 2018

Pengkhianatan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 07 April 2017 09:51
Pengkhianatan

Arifuddin Saeni

SUNGGUH menarik apa yang ditulis H.C Armstrong dalam bukunya yang berjudul Lord of Arabia Ibn Saud, dalam terjemahan bebasnya, Sang Penjegal, Kisah Ibnu Saud menguasai Arabia. Tentang bagaimana, tidak percayanya kepada para sheik yang menjadi pemimpin suku di tanah Arabia, yang begitu gampangnya menjadi pembelot hanya karena sedikit emas ataukah dengan pundi-pundi uang yang tak seberapa.

Tapi sejarah tentang pengkhianatan bukanlah sesuatu yang baru. Ia tidak muncul dalam seumuran kita, mungkin dalam peradaban kita—persoalan pengkhiatan telah membatu setelah sekian lama dibicarakan, menggerigi dalam kehidupan keseharian kita, yang kadangkala memaksa kita untuk menerimanya sebagai takdir.

Kelamnya sejarah republik ini, tentang apa yang dilakukan PKI, memaksa kita untuk memutar kembali arah jarum jam kita, tentang keberingasan partai yang tak berTuhan ini. Jalan kekerasan yang ditempuhnya menjadi nokta hitam di negeri ini. Pengkhiatan tak memberikan jalan lempang pada kekuasaan.

Tapi kadang-kadang kita sendiri tidak memahami dengan benar kosa kata yang namanya pengkhianatan. Ia kadang menjadi menakutkan ketika dia bersinggungan dengan kekuasaan, entah karena label yang dibawanya hanya untuk koreksi, tapi siapa yang percaya dengan sahwat politik seseorang.

Tak mengherankan, kalau Ibn Saud memilih jalan pedang, untuk menyelesaikan yang namanya pengkhianatan. Ia menyebutnya sebagai pelajaran.

Barangkali tindakan itu benar—-bahwa kesetiaan tak bisa dibangun, yang dikelilingi oleh para pecundang. Negara harus berdiri kokoh tanpa satu pun anasir. Tapi pedang dan peluru bukanlah jalan akhir, hukum semestinya jadi panglima.

Ataukah kita harus belajar tentang apa yang telah dilakukan Guy Fawkes yang bersekongkol dengan kelompok revolusioner Katolik Roma, untuk melawan kaum bangsawan Inggris di tahun 1605, ataukah Brutus yang mengkhianati Kaisarnya sendiri. Entahlah.

Tapi sejarah tak akan pernah lupa mencatat para pengkhianat, yang dengan gampangnya menjual negaranya kepada negara lain, seperti yang dilakukan Robert Hanssen, salah seorang agen FBI. (*)


div>