JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Pengurus Korup Dipertahankan, Kader Kritis Malah Dipecat

Reporter:

Editor:

faisalpalapa

Minggu , 03 September 2017 22:34
Pengurus Korup Dipertahankan, Kader Kritis Malah Dipecat

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM– Ketua Koordinator Bidang Polhukam DPP Partai Golkar (PG) Yorrys Raweyai merasa pesimistis pada kondisi internal partainya saat ini. Dia mengkritik eliteGolkar yang seolah tak peka pada kondisi saat ini, bahkan justru main pecat terhadap kader yang tak sejalan.

Yorrys mengatakan, awalnya dirinya sangat yakin Golkat akan bangkit ketika musyawarah nasional luar biasa (munaslub) pada 2016 telah melahirkan nakhoda baru. Bahkan arah politik PG kembali ke garis perjuangan dan jati dirinya dengan mendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Munaslub Golkar 2016 juga mengasilkan kesepakatan politik, termasuk komitmen PG dalam upaya pemberantasan korupsi dan narkoba. Partai yang kini dipimpin Setya Novanto itu juga menganggap komitmen tersebut sebagai syarat utama yang akan menjamin terwujudnya visi 2045 PG.

“Karena itu, sejak awal saya memprediksi kebangkitan PartaiGolkar yang sudah berada di depan mata. Apalagi, dampak konflik yang memanas pada tahun-tahun sebelumnya sempat membuat partai ini terkoyak dan tercabik hingga melahirkan friksi,” kata Ketua Koordinator Bidang Polhukam DPP Partai Golkar (PG) Yorrys Raweyai, Minggu (3/9).

Tapi kini, Golkar dirundung banyak masalah. Setya Novantoyang menjadi ketua umum Golkar pada munaslub di Bali, Mei 2016, kini menjadi tersangka korupsi e-KTP. 

Kader-kader Golkar juga bermasalah dan dijerat KPK. Misalnya, Fahd Arafiq yang kini menjadi terdakwa korupsi proyek Alquran, atau Markus Nari yang menyandang status tersangka e-KTP.

Ada pula kader Golkar di daerah seperti Wali Kota Tegal Sita Masitha dan Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti yang ditangkap KPK karena suap. “Sulit untuk memungkiri, kenyataan ini begitu getir untuk dirasakan oleh seluruh komponen kepartaian,” kata Yorrys.

Sebagai partai pendukung pemerintah dan akan mengusung Joko Widodo pada Pemilu 2019, kata Yorrys, Golkarseharusnya bisa mengidentifikasi diri sebagaimana karakter kepemimpinan presiden yang beken disapa dengan panggilan Jokowi itu. Namun, kata Yorrys dengan penuh penyesalan, yang terjadi justru sebaliknya.

Berdasar hasil survei, Golkar belum bisa merepresentasikan diri sebagaimana karakter kepemimpinan Jokowi. Karena itu, elektabilitas PG mengalami penurunan.

Sedangkan partai lain yang belum resmi mencalonkan Jokowi justru menuai peningkatan elektabilitas yang signifikan. “Atas dasar itulah, kegelisahan memperoleh relevansinya. Ibarat ungkapan pepatah, tidak mungkin ada asap tanpa ada api,” ujarnya.

Karena itu Yorrys mempertanyakan sikap elite politik Golkarsaat ini. Sebab, para elite partai berlambang beringin hitam itu seolah menutup mata.

“Entah apa yang ada di benak para elite Partai Golkar saat ini. Saya mengurut dada, namun inilah kenyataan yang dihadapi oleh Partai Golkar,” katanya.

Bahkan, elite Golkar bertindak sewenang-wenang terhadap kader yang bersuara kritis merespons kondisi terkini. DPP PG malah memecat kader vokal seperti Ahmad Doli Kurnia yang memelopori Generasi Muda Partai Golkar (GMPG).

Menurut Yorrys, masa lalu telah mewariskan sejarah bahwa pemecatan tidak pernah membuat partai ini berjaya. Sejak era kepemimpinan Akbar Tanjung dan Aburizal Bakri, aksi pemecatan justru membuat PG makin terpuruk.

Perilaku tersebut menunjukkan PG kembali mempraktikkan tabiat masa lalunya yang sebenarnya sudah usang di era politik modern. “Atas dasar itu, dengan kondisi dan situasi internal politik saat ini, rasa-rasanya kejayaan Partai Golkarhanya menyisakan harapan yang jauh dari kenyataan,” katanya.(boy/jpnn)


div>