SELASA , 18 DESEMBER 2018

Penjaga Kuburan Katangka, Banting Tulang Hidupi Istri dan Dua Anak Tidak Normal

Reporter:

asharabdullah

Editor:

Sabtu , 28 April 2018 12:31
Penjaga Kuburan Katangka, Banting Tulang Hidupi Istri dan Dua Anak Tidak Normal

int

MENCARI nafkah untuk keluarga merupakan tugas kepala keluarga. Tentu ini sudah menjadi kewajiban. Untuk itu, demi menafkahi anak istri, terkadang kerja apapun akan dilakukan. Termasuk menggeluti pekerjaan sebagai penggali kubur.

Pekerjaan satu ini terbilang jarang dipilih orang, hanya mereka yang tak ada pilihan lain yang akan memilihnya. Meski begitu, bekerja sebagai penggali kubur bukanlah perkara gampang. Apalagi berurusan dengan kematian itu membuat bulu kuduk merinding.

Pak Tayang adalah salah satu dari sekian orang yang menggantungkan hidupnya dari profesi penggali kubur ini. Kulit yang telah keriput dan tubuh rentah cukup untuk menceritakan seberapa lama dirinya telah berkutit dengan pemakaman. Bahkan, kini usianya telah menginjak 76 tahun.

Ironisnya, demi menghidupi tiga orang anak dan seorang istrinya, Pak Tayang membantu menggali serta membersihkan pemakaman tanpa digaji di Pekuburan Katangka, Kabupaten Gowa. Penghasilan Pak Tayang selama ini hanya dari kebaikan hati para pengantar jenazah dan peziarah yang ikhlas menyisihkan sedikit uang kepadanya.

Hal itu dikatakan oleh koordinator Komunitas Laporan Warga Makassar (LWM), Silfia Feronica yang tanpa sengaja bertemu dengan Pak Tayang saat ikut menghantar jenazah salah seorang warga ke pemakaman.

“Kami menemui beliau disaat mengantar jenazah nenek Nurung yang pasangan suami istri pemulung yang meninggal akibat terjatuh saat membuang sampah. Saat mengantar jenazah tersebut saya melihat Pak Tayang dan berkeinginan bertanya lebih jauh tentang kehidupannya,” kata Silfia.

Menurut Silfia, kehidupan keluarga Pak Tayang terbilang sangat sulit. Lantaran dari tiga orang anaknya, hanya ada satu orang yang tidak mengalami kelainan atau normal. Sehingga, kata dia, Pak Tayang dengan tubuh yang mulai habis dimakan usia tidak patah arang untuk bekerja agar dapat terus mengarungi kehidupan bersama keluarganya.

“Kata beliau, anak perempuan tertuanya yang kini berusia 19 tahun mengalami kelainan lumpuh dan buta. Anak laki-laki kedua yang telah berusia 16 tahun mengalami gangguan jiwa. Hanya anak terakhirnya yang umur 9 tahun yang sekarang kelas 3 SD Alhamdulillah normal,” terangnya.

Silfia bersama komunitas LWM sepakat akan kembali menyambangi kediaman Pak Tayang yang tepat berada di pekuburan katangka untuk memberi bantuan sembako. Menurutnya, semangat hidup Pak Tayang yang meskipun telah tua namun tetap semangat untuk bekerja.

“Pak Tayang ini meskipun sudah tua tapi tetap semangat kerja, meskipun dengan penghasilan tidak menentu. InsyaAllah kami akan kembali menemui beliau untuk sedikit meringankan kehidupan beliau,” pungkasnya. (*)


div>