RABU , 22 AGUSTUS 2018

Penyidik tak Wajib Kembalikan Bukti Aset Abu Tours

Reporter:

Irsal

Editor:

asharabdullah

Selasa , 17 Juli 2018 12:00
Penyidik tak Wajib Kembalikan Bukti Aset Abu Tours

Kantor Abu Tours. (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Ahli hukum pidana dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Said Karim, dimintai pendapat hukumnya dalam sidang gugatan prapradilan terkait sah tidaknya penyitaan aset PT Abu Tours yang dilakukan penyidik Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel.

Pada sidang kali ini yang digelar di Pengadilan Negeri Makassar, penyidik Ditreskrimsus selaku termohon, menghadirkan Prof Said Karim, untuk dimintai keterangan dan pendapat hukumnya.
Atas pemohon gugatan prapradilan dari pihak maskapai penerbangan, Saudi Airlines.

Dalam keterangannya, Prof Said mengatakan, penyidik tidak memiliki kewajiban untuk memberikan atau mengembalikan barang sitaan aset Abu Tours dalam praperadilan.

Bahkan, menurutnya, tidak seharusnya pihak Saudi Airlines melayangkan gugatan praperadilan, karena pihak yang dirugikan PT Abu Tours bukan hanya maskapai Saudi Airlines saja, tetapi juga para calon jemaah.

“Hukum publik harus diutamakan dari pada hukum privat,” ujar Prof Said, saat mengungkapkan pendapat hukumnya di Pengadilan Negeri Makassar, Senin (16/7) kemarin.

Prof Said mengungkapkan, hakim memang memiliki kewenangan untuk mengembalikan barang, ketika penyidik menyita barang tersangka, tetapi tidak dijadikan alat bukti.

“Setahu saya, ketika ada alat bukti yang disita penyidik, hakim bisa mengembalikan barang bukti itu. Terapi harus dalam putusan perkara pokok,” jelasnya.

Prof Said menerangkan, dalam putusan praperadilan, majelis hakim memiliki kewenangan mengembalikan barang bukti berdasarkan Pasal 82 ayat 3 huruf D. Namun, kewenangan ini untuk barang yang tidak dijadikan sebagai alat bukti, dalam suatu perkara pidana. (*)


div>