MINGGU , 20 JANUARI 2019

Perampok Pulogadung Sekejam Teroris

Reporter:

doelbeckz

Editor:

Rabu , 28 Desember 2016 10:25
Perampok Pulogadung Sekejam Teroris

Ilustrasi.

JAKARTA – Kejam. Sekejam teroris. Perbandingan itu tepat disematkan kepada pelaku dugaan perampokan di sebuah rumah area Pulomas, Pulogadung, Jakarta Timur. Tanpa rasa kemanusiaan, pelaku yang masih ditelusuri polisi identitasnya itu menyekap 11 orang di dalam toilet sempit. Enam di antaranya tewas.

Informasi dihimpun, dengan cepat pelaku masuk ke dalam area rumah mewah di Jalan Pulomas Utara Nomor 7A, Kayuputih, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (26/12) sore. Sepertinya, pelaku memanfaatkan momentum seorang supir yang hendak keluar dari rumah.

Yanto, supir yang bekerja di kediaman tuannya, Dodi Triono, hendak mengeluarkan sebuah mobil yang terparkir di area teras. Sejurus kemudian, dia membuka gembok yang mengunci pagar besi setinggi empat meter. Mengaku ditodong pistol oleh pelaku, Yanto tidak berkutik.

“Dari keterangan pembantu yang selamat, Yanto (supir) itu baru (mau) ngeluarin mobil, baru buka pagar, kemudian datang pelaku,” ujar Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan, kepada wartawan di lokasi kejadian, kemarin.

Diduga, ada tiga pelaku. Dua diantaranya membawa pistol yang ditodongkan kepada Yanto, satunya lagi membawa sebilah golok. Tidak berkutik, Yanto pun masuk ke dalam rumah majikannya yang sedang asik bersantai bersama keluarga.

Sebelum tiga pelaku merangsek masuk ke dalam rumah Dodi, suasana ceria mewarnai rumah mewah pria 59 tahun yang berprofesi sebagai pengusaha sekaligus arsitek ini.

Di rumah mewah dua lantai itu, Dodi yang berstatus duda anak dua, tidak sendirian di rumah. Dia tinggal bersama ketiga anaknya, Diona Arika (16), Zanette Kalila (13), dan Dianita Gemma (9). Kebetulan, di rumah itu ada anak tetangga, bernama Amelia (9). Sahabat Gemma ini sudah menginap sejak Minggu (25/12).

[NEXT-RASUL]

Di keluarga kaya tersebut, mempekerjakan enam orang. Empat orang pembantu wanita: Emi (41), Santi (22), Fitriani (23) dan Windy (23). Sementara, dua pria yakni Yanto dan Tasrok (40) merupakan supir di keluarga Dodi.

Jika melihat komposisi penghuni rumah, sekalipun berjumlah 11 orang, namun sebagian besar adalah wanita. Hanya ada tiga pria dewasa, Dodi dan kedua supirnya. Sekalipun imbang dengan jumlah penjahat yang masuk, tanpa senjata penghuni tidak berdaya.

Singkat cerita, naas bagi keluarga Dodi, beserta para pekerja di rumahnya. Seluruhnya, disekap di dalam kamar mandi sempit berukuran 1,5 meter persegi. Sadis, 11 manusia ditumpuk-tumpuk bak barang. Hanya lima orang yang selamat. Semuanya, pembantu wanita.

Bagaimana peristiwa ini bisa terungkap? Kemarin pagi, sekira pukul 09.30 WIB, atau 18,5 jam belasan korban disekap di dalam toilet, Sheila Putri, teman anak Dodi, yakni Diona Arika hendak pergi bersama.

Dia datang ke rumah yang menurutnya dalam kondisi tidak biasa: Pagar dan pintu rumah tidak terkunci.

Sheila pun memberi salam melalui depan pagar seperti biasa. Tiada sahutan, dia pun masuk ke dalam pagar yang tidak terkunci. Kembali mengucap salam dan tidak berbalas, wanita muda pun melanjutkan langkahnya ke pintu yang tidak terkunci, memberanikan diri masuk ke dalam.

Kondisi rumah sangat senyap, tidak ada sahutan ketika Sheila berteriak mengucap salam. Hingga akhirnya, suara rintihan terdengar dari kamar mandi yang berada di lantai dasar. Merasa takut dan merasa ada yang tidak beres, dia berlari melapor satpam komplek.

[NEXT-RASUL]

“Tadi pagi (kemarin) Sheila ke sini ternyata enggak ada jawaban dan pintu tidak terkunci. Sampai dia masuk ke dalam, ada rintihan di kamar mandi. Karena cewek, dia takut, berlari, langsung ke mencari bantuan ke sekuriti,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, dilokasi, kemarin.

Setelah mengadu ke sekuriti, akhirnya diputuskan untuk melapor ke polisi yang berada di Pos Kayu Putih. Kemudian, polisi menemani Sheila untuk mengecek keadaan di rumah Diona. “Korban ada di dalam kamar mandi yang hanya ada full set ukuran satu setengah meter diisi 11 orang,” katanya.

Mengerikan, mereka semua ditumpuk-tumpuk bak barang. Naas, enam orang ditemukan tewas: Dodi beserta dua putrinya, Diona Arika dan Dianita Gemma, rekan Dianita, yakni Amelia, kemudian dua supir bernama Yanto dan Tasrok.

Sementara, lima orang lainnya selamat, yakni putri kedua Dodi, Zanette Kalila, dan empat orang pembantu wanita, yaitu Emi, Santi, Fitriani, dan Windy. Seluruh korban selamat kemudian dibawa ke Rumah Sakit Kartika Pulomas, untuk menjalani tindakan medis.

Dugaan awal, seluruh korban tewas meregang nyawa karena kehabisan oksigen lantaran pengapnya berada di dalam kamar mandi 1,5 meter persegi selama lebih dari 18 jam. Selain itu, mereka yang tewas juga diduga mengalami sejumlah luka seperti tusukan atau jeratan.

Begitu korban dievakuasi, polisi langsung membentangkan garis kuning sebagai petanda tempat kejadian perkara. Hingga kemarin, polisi masih menyelidiki pelaku hingga motif pembunuhan tersebut.

Belakangan diketahui, tidak ditemukan harta yang hilang sebagai rujukan perampokan. “Sementara tidak ditemukan barang-barang hilang. Benda-benda masih ada di tempat semestinya,” ujar Argo. Polda Metro Jaya pun mengerahkan anjing pelacak untuk mengendus jejak pelaku. “Kita masih bekerja,” tambahnya.

Sementara, pelaku juga diduga berupaya menghilangkan sejumlah jejak seperti hilangnya rekaman Circuit Close Television (CCTV) yang merekam semua kejadian. “CCTV ada banyak tapi rekamannya diambil sama pelaku,” sahut Ketua RW 16 Pulomas Utara Abdul Ghani (45) di lokasi kejadian, kemarin. “Tadi begitu ke dalam CCTV diperiksa oleh polisi sudah kosong,” tambahnya.

Abdul menduga, hilangnya CCTV tersebut terjadi setelah para pelaku terlebih dahulu menyiksa salah satu putri korban. Kondisi ini terlihat dengan kondisi jasad korban yang berdarah-darah. “Saya punya pendapat gini yang tau rekaman CCTV kan Pak Dodi jadi anaknya disiksa agar kasih tahu lokasi rekaman, karena saya lihat anaknya juga berdarah-darah,” pungkasnya. (rmol)


div>