JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Perang Lembaga Survei di Level Mencemaskan

Reporter:

Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Selasa , 17 April 2018 13:00
Perang Lembaga Survei di Level Mencemaskan

ILUSTRASI

– Bawaslu : Laporkan Jika Merugikan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Perang survei Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel tak terelakkan lagi. Dalam beberapa pekan terakhir, ada sejumlah lembaga survei merilis hasil yang berbeda tentang empat Pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel.

Diperkirakan, suguhan hasil survei oleh sejumlah lembaga ini akan terjadi hingga masa pemungutan suara 27 Juni mendatang, demi memenuhi hasrat para paslon bersangkutan. Ironisnya, hasil survei yang sangat jauh berbeda membuat masyarakat mempertanyakan kredibilitas mereka. Bahkan diyakini, hasil survei tersebut adalah pesanan dan bukan hasil sebenarnya yang dipublikasikan ke publik.

Jika ini betul terjadi, maka perang elektabilitas antar kandidat melalui publikasi hasil survei sudah masuk ke dalam level yang mencemaskan. Karena itu, perlu ditekankan sanksi secara etika bagi publikasi survei pesanan.

Ketua KPU Sulsel, Iqbal Latif, mengatakan, hingga saat ini belum ada aturan mengenai publikasi hasil survei lembaga-lembaga tersebut. Menurutnya, jika lembaga punya reputasi serta kredibilitas, otomatis tak ada batasan selama publikasi survei sesuai kaidah ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan kepada publik.

“Karena berkaitan dengan ekektabitas calon dan meningkatkan partisipasi pemilih, sah saja. Selagi lembaga resmi punya reputasi dan kredibilitas, itu tidak masalah,” ujarnya, Senin (16/4).
Kecuali, lanjut Iqbal, lembaga yang melakukan survei tidak sesuai aturan ilmiah. Selain itu, lembaga muncul tiba-tiba saat Pilkada atau Pilgub. Tentunya, akan menimbulkan keraguan, sehingga KPU mengimbau paslon tetap menjaga nama baik serta elektabilitas.

“Kalau tak sesuai keadaan ilmiah dan tidak punya reputasi, diragukan. Apalagi masyarakat sudah paham apakah rekayasa atau betul. Kami harap, masyarakat paham dan jeli melihat perkembangan saat ini. Survei harus punya metodologi ilmiah sebagai lembaga terpercaya,” terangnya.

Pakar Politik Unismuh Makassar, Andi Luhur Priyatno, menilai, fakta lapangan sering terjadi pertarungan reputasi dan kredibilitas para konsultan politik, juga survei di lapangan.

“Saya kira harus dibedakan lembaga survei dan lembaga konsultan politik. Lembaga survei biasanya bermain di ranah data temuan, sementara konsultan lebih pada pembuatan kemasan untuk branding para kandidat,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran lembaga survei dan konsultan politik memang sudah menjadi bagian penting dari industri demokrasi. Lembaga ini memanfaatkan betul perihal politik elektoral, yang kuat bermain di ranah citra dan kemasan.

“Kemampuan mentransformasi isu dan fakta (hitam dan negatif) menjadi sesuatu yang positif, menjadi keunggulan lembaga konsultan politik,” tuturnya.

Semakin lama, lanjutnya, hanya lembaga yang kredibel dan berintegritas yang bisa survive di tengah persaingan yang semakin kompetitif. “Kita berharap lembaga ini juga mengambil peran strategis dalam melakukan pendidikan dan sosialisasi politik,” imbuhnya.

Terpisah, Komisioner Divisi Hukum Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulsel, Asry Yusuf, mengatakan, dalam perhelatan pesta politik, apabila ada pihak yang merasa dirugikan dapat mengadukan ke Bawaslu. Seperti rilis survei yang dikeluarkan oleh sejumlah lembaga survei, dalam artian apabila ada pihak yang merasa dirugikan dengan hal itu, dapat melaporkannya.

“Kalau ada pihak yang merasa terganggu dengan hasil kerja-kerja lembaga survei, silahkan lapor ke Bawaslu saja. Nanti kita tindaklanjuti, saya kira seperti itu saja,” kata Asry.

Tetapi memang, kata dia, rilis yang dikeluarkan oleh lembaga survei merupakan bentuk partisipasi masyarakat yang mesti dihargai. Kalaupun ada perbedaan, tergantung dari mekanisme yang berbeda dari masing-masing lembaga survei tersebut.

“Tapi yang namanya lembaga survei bagian dari partisipasi masyarakat, mekanismenya juga ada. Apakah lembaga surveinya juga memenuhi syarat sebagai lembaga survei,” jelasnya. (*)

 


div>