JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

PerDik Nilai Rumah Pintar Pemilu KPU Masih Banyak Kekurangan

Reporter:

Editor:

dedi

Kamis , 30 Maret 2017 20:03
PerDik Nilai Rumah Pintar Pemilu KPU Masih Banyak Kekurangan

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Makassar, meresmikan ‘Rumah Pintar Pemilu’ yang berlokasi di Kantor KPU Makassar, Jalan Biring Romang Raya, Manggala, Makassar, Kamis (30/3).

Rumah Pintar Pemilu yang diberi nama ‘Balla Panrita’ tersebut diharapkan membantu meningkatkan pemahaman masyarakat seputar pemilihan umum bagi warga Makassar.

Balla Panrita berada dalam satu ruangan disediakan khusus untuk menghimpun berbagai informasi terkait pemilihan umum. Diantaranya sistem dan sejarah pemilu di Indonesia seperti para peserta, tahapan dan penyelenggara pemilu, hingga maket tempat pemungutan suara.

Ada juga mini teater berisi beragam informasi aktual terkait data pemilu di Makassar. KPU mengklaim data dihimpun sejak pemilu tahun 1955 hingga 2014.

Kendati demikian, meski berisi data dan peraga yang edukatif, rupanya rumah pintar ini masih memiliki kekurangan, sebab tidak semua masyarakat bisa mengaksesnya, utamanya para difabel kategori netra.

Salah satu penyandang difabel netra, Nur Syarif Ramadhan yang hadir dalam peluncuran itu mengakui terkesan dengan tata letak Rumah Pintar Pemilu itu. Hanya saja soal aksesibilitas, dia tak mampu mengakses secara langsung data-data yang ditampilkan.

“Tidak ada kesulitan saat berada di sana dan ingin masuk. Meski tidak ada braille yang mengarahkan kesana. Tapi dari sisi difabel saya pikir perlu juga ada akses bagi kaum difabel,” kata Syarif yang juga pengurus Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK), usai peresmian rumah pintar tersebut.

 [NEXT-RASUL]

Menurutnya, ia merasa gamang dalam ruangan itu karena kesulitan untuk mengetahui informasi terkait pemilu yang kesemuanya dalam bentuk tulisan.

“Termasuk buku-buku tentang Pemilu. Nah itu dia karena semua buku dalam bentuk tulisan, sementara bagi tunanetra tentu butuh buku atau informasi dengan teks braille atau alangkah baiknya bila data yang terpampang, baiknya juga ada dalam bentuk audio,” sambungnya.

Sementara, pengurus PerDIK lainnya Irawan Danu Amiruddin, menambahkan bahwa rumah pintar KPU Makassar ini hanya menyajikan semua informasi seputar tentang KPU saja dan hasil kerjanya. Namun yang kurang dalam rumah pintar itu terkait partai politik (parpol) dan visi dan misinya.

“Info mengenai parpol dan visi misinya juga ini penting mengingat mereka kontestan. Yang ada terlihat hanya bendera partainya saja,” ungkapnya.

Hal lainnya tambah Danu sapaan akrab Irawan Danu Amiruddin, juga mengatakan di dalam ruangan terdapat contoh alat peraga kotak suara tapi tidak ada alat peraga khusus difabel.

“Saya hanya melihat info terkait aturan atau syarat/regulasi terkait pemilihan. Sangat kurang informasi terkait hak warga negara, misalnya terkait kesetaraan hak, partisipasi pasca election dan lainnya,” katanya.

Selain itu, tidak ditemukan informasi terkait visi, misi dan program kandidat, baik saat mencalonkan hingga terpilih. Menurutnya, hal itu penting karena publik akan mengetahui dan bisa mengevaluasinya.

“Menurutku penting karena pemilu bukan hanya soal teknis dan mekanisme tapi juga bagaimanana kekuasaan bekerja dan dikontrol,” lanjutnya.

 [NEXT-RASUL]

Sebelumnya, Komisioner KPU Sulsel Faisal Amir mengungkapkan, Rumah Pintar Pemilu ditargetkan hadir di 24 kabupaten/kota se-Sulsel. Sarana ini didesain dengan konsep satu pintu yang menjadi pusat pendidikan pemilih maupun calon pemilih.

“Salah satu tujuan sarana ini adalah mendorong perbaikan pengetahuan masyarakat tentang pemilu. Atau bisa dibilang menjadikan semura orang melek pemilu,” ujar Faisal.

Menurutnya, ada alasan khusus mengapa sarana ini disebut rumah pintar. Sebab orang awam sekalipun, yang masuk ke sana diyakini bakal memiliki cukup pengetahuan soal pemilu. “Lewat saja, sambil baca-baca, pasti tahu,” katanya.

Selain meresmikan Rumah Pintar Pemilu, KPU Makassar juga meluncurkan aplikas data pemilih dengan nama Sistem Data Pemilih Online (SIDOEL). Aplikasi ini sudah bisa mulai diunduh di Play Store bagi telepon berbasis OS Android. Aplikasi memungkinkan masyarakat mendapatkan hak akses informasi data pribadinya di data base KPU.(ale)

PerDik Nilai Rumah Pintar Pemilu KPU Masih Banyak Kekurangan,
*Tidak Ramah Bagi Penyandang Difabel
MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Makassar, meresmikan ‘Rumah Pintar Pemilu’ yang berlokasi di Kantor KPU Makassar, Jalan Biring Romang Raya, Manggala, Makassar, Kamis (30/3).
Rumah Pintar Pemilu yang diberi nama ‘Balla Panrita’ tersebut diharapkan membantu meningkatkan pemahaman masyarakat seputar pemilihan umum bagi warga Makassar.
Balla Panrita berada dalam satu ruangan disediakan khusus untuk menghimpun berbagai informasi terkait pemilihan umum. Diantaranya sistem dan sejarah pemilu di Indonesia seperti para peserta, tahapan dan penyelenggara pemilu, hingga maket tempat pemungutan suara.
Ada juga mini teater berisi beragam informasi aktual terkait data pemilu di Makassar. KPU mengklaim data dihimpun sejak pemilu tahun 1955 hingga 2014.
Kendati demikian, meski berisi data dan peraga yang edukatif, rupanya rumah pintar ini masih memiliki kekurangan, sebab tidak semua masyarakat bisa mengaksesnya, utamanya para difabel kategori netra.
Salah satu penyandang difabel netra, Nur Syarif Ramadhan yang hadir dalam peluncuran itu mengakui terkesan dengan tata letak Rumah Pintar Pemilu itu. Hanya saja soal aksesibilitas, dia tak mampu mengakses secara langsung data-data yang ditampilkan.
“Tidak ada kesulitan saat berada di sana dan ingin masuk. Meski tidak ada braille yang mengarahkan kesana. Tapi dari sisi difabel saya pikir perlu juga ada akses bagi kaum difabel,” kata Syarif yang juga pengurus Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK), usai peresmian rumah pintar tersebut.
Menurutnya, ia merasa gamang dalam ruangan itu karena kesulitan untuk mengetahui informasi terkait pemilu yang kesemuanya dalam bentuk tulisan.
“Termasuk buku-buku tentang Pemilu. Nah itu dia karena semua buku dalam bentuk tulisan, sementara bagi tunanetra tentu butuh buku atau informasi dengan teks braille atau alangkah baiknya bila data yang terpampang, baiknya juga ada dalam bentuk audio,” sambungnya.
Sementara, pengurus PerDIK lainnya Irawan Danu Amiruddin, menambahkan bahwa rumah pintar KPU Makassar ini hanya menyajikan semua informasi seputar tentang KPU saja dan hasil kerjanya. Namun yang kurang dalam rumah pintar itu terkait partai politik (parpol) dan visi dan misinya.
“Info mengenai parpol dan visi misinya juga ini penting mengingat mereka kontestan. Yang ada terlihat hanya bendera partainya saja,” ungkapnya.
Hal lainnya tambah Danu sapaan akrab Irawan Danu Amiruddin, juga mengatakan di dalam ruangan terdapat contoh alat peraga kotak suara tapi tidak ada alat peraga khusus difabel.
“Saya hanya melihat info terkait aturan atau syarat/regulasi terkait pemilihan. Sangat kurang informasi terkait hak warga negara, misalnya terkait kesetaraan hak, partisipasi pasca election dan lainnya,” katanya.
Selain itu, tidak ditemukan informasi terkait visi, misi dan program kandidat, baik saat mencalonkan hingga terpilih. Menurutnya, hal itu penting karena publik akan mengetahui dan bisa mengevaluasinya.
“Menurutku penting karena pemilu bukan hanya soal teknis dan mekanisme tapi juga bagaimanana kekuasaan bekerja dan dikontrol,” lanjutnya.
Sebelumnya, Komisioner KPU Sulsel Faisal Amir mengungkapkan, Rumah Pintar Pemilu ditargetkan hadir di 24 kabupaten/kota se-Sulsel. Sarana ini didesain dengan konsep satu pintu yang menjadi pusat pendidikan pemilih maupun calon pemilih.
“Salah satu tujuan sarana ini adalah mendorong perbaikan pengetahuan masyarakat tentang pemilu. Atau bisa dibilang menjadikan semura orang melek pemilu,” ujar Faisal.
Menurutnya, ada alasan khusus mengapa sarana ini disebut rumah pintar. Sebab orang awam sekalipun, yang masuk ke sana diyakini bakal memiliki cukup pengetahuan soal pemilu. “Lewat saja, sambil baca-baca, pasti tahu,” katanya.
Selain meresmikan Rumah Pintar Pemilu, KPU Makassar juga meluncurkan aplikas data pemilih dengan nama Sistem Data Pemilih Online (SIDOEL). Aplikasi ini sudah bisa mulai diunduh di Play Store bagi telepon berbasis OS Android. Aplikasi memungkinkan masyarakat mendapatkan hak akses informasi data pribadinya di data base KPU.(ale)


div>