SELASA , 19 DESEMBER 2017

Perempuan Bisa Tonji

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 21 April 2017 09:57
Perempuan Bisa Tonji

int

MAKASSAR,RakyatSulsel.com – Pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 mendatang mesti menjadi momentum strategis perempuan untuk meningkatkan peran dalam kancah politik.

Sebanyak 12 Kabupaten/kota di Sulsel akan ikut dalam Pilkada Serentak 2018 mendatang. Kaukus Perempuan Parlemen Sulsel (KPP SS) menaruh perhatian besar menjelang momentum politik tersebut, agar perempuan bisa ikut berkompetisi di Pilkada.

Ketua KPP SS, Rusni Kasman mengatakan pelaksanaan pilkada 2018 mendatang, menjadi salah satu perhatian KPP SS, untuk meningkatkan peran dan kontribusi perempuan di kancah politik. Pelaksanaan Pilkada 2015 lalu, dinilai menjadi contoh bahwa perempuan bisa mendulang suara di Pilkada. Diketahui pilkada 2015, diikuti sebanyak empat calon kepala daerah yang merupakan perempuan, masing-masing Tenri Olle Yasin Limpo (Gowa), Indah Putri Indriani (Luwu Utara), Jumrana Salikki (Bulukumba), dan Christina Jeane Tandurerung (Toraja). Selain Pilkada, pelaksanaan Pileg 2019 juga menjadi salah satu perhatian KPP SS, khususnya mekanisme pemilihan yang rencananya digelar melalui proporsional terbuka terbatas. ” Jadi kita siap mendorong kaum perempuan di Sulsel untuk semakin aktif mensosialisasikan diri di tengah masyarakat, untuk memperjuangkan hak mereka melalui jalur politik. Terkait dengan sistem pelaksanaan Pileg 2019, baik itu pemilihan terbuka atau tertutup tidak menjadi masalah, sepanjang keterwakilan perempuan sebesar 30 persen tetap diakomodir,” ujarnya, Kamis (20/4).

Rusni Kasman menjelaskan, KPP SS merupakan wadah seluruh perempuan anggota DPRD di Sulsel, yang memiliki struktur ogranisasi yang jelas dan sistematis, dalam rangka mendorong peningkatan kesetaraan gender di berbagai bidang. Adapun tujuan KPP adalah untuk meningkatkan proses demokrasi di Indonesia melalui pengarusutamaan gender. Sedangkan Misi organisasi perlemen ini adalah meningkatkan partisipasi perempuan dalam setiap proses pengambilan kebijakan publik. “KPP SS dilantik pada 22 April 2016 lalu, oleh Sekjen presidium nasional kaukusĀ  perempuan parlemen RI yang terdiri dari 128 orang dari 24 Kab/kota di Sulsel. Upaya yang dilakukan nanti adalah, memberikan penguatan kapasitas parlemen perempuan di bidang anggaran, pengawasan, legislasi, loby, advokasi dan komunikasi dengan media,” terangnya.

Presidium Nasional kelompok profesional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Sulsel, Emah Husain menuturkan dalam momentum Pilkada di Sulsel 2018 pihaknya sangat mengapresiasi dan mendorong perempuan di Sulsel untuk maju bertarung. “Tentu momentum Pilkada serentak adalah panggung politik strategis untuk perempuan maju bertarung. KPI Sulsel sangat mendorong perempuan ikut bertarung di Pilkada,” ujarnya.

Momentum pikada harus bisa dimanfaatkan untuk membuka jalan lebih lebar bagi perempuan untuk berperan secara signifikan dalam kehidupan politik.

Sejauh ini sejumlah partai politik mulai mendorong kader perempuan untuk mensosialisasikan diri maju di Pilkada 2018. Mereka diantaranya Ketua DPD NasDem Makassar, Andi Rachmatika Dewi (Cicu), politisi asal Gerindra kota Makassar, Nunung Desniar, Anggota DPR RI Fraksi Demokrat Aliyah Mustika Ilham, Fatmawati Rusdi Masse. Selain itu, juga ada nama anggota DPRD Sulsel asal fraksi PKS, Sri Rahmi dan Rektor Universitas Islam Makassar, Dr. Ir. Hj. A. Majdah M. Zain serta Sekertaris DPD Partai Gerindra Sulsel, Apiaty Amin Syam.

[NEXT-RASUL]

Ketua DPD NasDem Makassar, Andi Rachmatika Dewi memaparkan keseriusannya maju di Pilwalkot Makassar. Sejauh ini berbagai dorongan dari sejumlah masyarakat dan internal partai terus berdatangan, termasuk dorongan dari mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin. “Kalau partai tentunya sudah beri sinyal, Keluarga juga siap mensupport, termasuk pak IAS,” ujarnya.

Sejauh ini Cicu mulai intensif turun ke tengah masyarakat untuk bersosialisasi, sekaligus memperkenalkan diri sebagai calon Wali Kota Makassar. Wakil Ketua DPRD Sulsel itu juga mengaku dalam waktu dekat akan menemui elit parpol untuk melakukan komunikasi agar niatnya maju menjadi kosong satu Makassar bisa terwujud.

Ketua Bappilu DPD NasDem Makassar Mario David menjelaskan pihaknya tengah melakukan survei internal, dimana hasilnya Andi Rachmatika Dewi dinilai punya kans yang cukup baik dalam melawan petahana. “Jadi di NasDem kita solid ajukan claon internal partai, tinggal koalisi untuk memenuhi syarat usungan,” ujarnya.

NasDem Makassar mengaku cukup Percaya diri untuk mengusung Cicu. Cicu dinilai merupakan figur perempuan dan punya keluarga besar di Makassar. “Dia keponakannya pak Ilham, jadi kita percaya diri saja mengusungnya,” ujarnya.

Selain itu anggota DPRD Sulsel asal fraksi PPP, Sugiarti Mangun Karim juga menegaskan diri siap maju bertarung di Pilkada Bantaeng 2018. Menurutnya, dirinya telah membentuk tim pemenangan yang terbentuk hingga tingkat desa untuk mensosialisasikan dirinya maju di Bantaeng.

Saat ditanya apa yang harus dibenahi dalam rangka menuju Bantaeng yang lebih baik, dirinya mengakui jika di bawah kepemimpinan Bupati Nurdin Abdullah, Bantaeng telah menjelma sebagai salah satu kabupaten yang pembangunannya sangat maju pesat. ” Pak Nurdin sangat berjasa dalam membangun Bantaeng, beliau sangat paham bagaimana dan diapakan ini Bantaeng,” bebernya.

[NEXT-RASUL]

Namun kesuksesan tersebut, sambungnya, harus dibarengi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, salah satu potensi besar di Bantaeng adalah kekayaan alam dan tanah yang subur, dengan demikian sektor pertanian harus jadi prioritas utama dalam hal ini. Terkait itu dirinya menegaskan siap maju di Pilkada Bantaeng. ” Saya siap, saya akan kerahkan segenap daya dan upaya semaksimal mungkin demi mewujudkan hal tersebut, itu adalah harga mati bagi saya jika memang diberi kepercayaan memimpin Bantaeng, Insya Allah saya siap lahir bathin,” tegas Andi Sugiarti Mangun Karim.

Sementara itu, Pakar politik Universitas Hasanuddin Makassar, Jayadi NasĀ  berpendapat dorongan agar kaum perempuan untuk berani maju di di Pilkada, tentu tidak ditujukan untuk sosialisasi gagasan patriarkhi, yang meneguhkan perempuan dalam kerangka hubungan subordinatif. “Tapi, harus dimaknai sebagai dorongan agar kaum perempuan lebih berupaya untuk meraih kesetaraan dalam segala bidang, termasuk politik,” tuturnya.

Mantan Ketua KPU Sulsel itu menambahkan, perhelatan pilkada maupun legislatif di Indonesia. Regulasi UU telah memberikan jaminan dan peluang agar parpol membuka ruang kepada perempuan untuk maju bertarung dalam kancah politik. “Apalagi UU sudah menjamin 30 persen hak perempuan berpolitik, jadi tak ada salah jika karir perempuan ditingkatkan,” pungkas akademisi Unhas itu.

Pakar politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad mengatakan, figur perempuan memiliki pengaruh dan nilai jual politik yang sangat potensial. Hal ini jika dimainkan dengan ritme strategi issu politik oleh tim dengan tepat. “Tentu figur perempuan memiliki nilai jual politik karena ketokohannya dan representasi kesetaraan gender, jika dimanfaatkan dengan baik akan menjadi penantang yang kompetitif bagi petahana,” kata Firdaus

Dikatakan Firdaus, hanya memang saat ini belum ada figur perempuan yang sukses memainkan isu kesetaraan gander. Tidak hanya yang berkaitan langsung dengan profesi perempuan, namun juga bisa memanfaatkan isu pembinaan anak.

“Hanya saja, selama ini kaum perempuan tidak berhasil menjual isu yang tepat misalnya pembinaan rumah tangga seiring maraknya isu perceraian dan narkoba pada anak,” tuturnya.

[NEXT-RASUL]

Direktur Riset Celebes Research Center (CRC) Andi Wahyuddin, menyampaikan berdasarkan hasil survei tahun sebelumnya di Sulsel momentum Pilkada masih minim keikutsertaan kaum perempuan. Bahkan peluang untuk terpilih dan memenangkan pertarungan politik dinilai masih jauh. “Keikutsertaan perempuan di Pilkada masih rendah. Apalagi peluang,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai beberapa tahun terakhir di Sulsel peran perempuan baik di parlemen dan Pilkada cukup meningkat. Hal tersebut ditandai dengan Pilkada 2013 dan 2015 partisipasi perempuan di Pilkada ikut mengguncang perhelatan lima tahun ini. “Seperti tahun 2013 Pilwalkot Makassar, ada perempuan. Begitu juga 2015 di Luwu Utara, serta daerah lain,” katanya. (E)


div>