KAMIS , 20 SEPTEMBER 2018

Perempuan Tangguh di Pemprov Sulsel (2), Nurlina Rela Korbankan Keluarga Demi Raih WTP Tujuh Kali

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Kamis , 08 Maret 2018 11:00
Perempuan Tangguh di Pemprov Sulsel (2), Nurlina Rela Korbankan Keluarga Demi Raih WTP Tujuh Kali

Nurlina (kiri)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kebanyakan wanita dalam meniti karir dihadapkan dengan pilihan antara pekerjaan dan keluarga. Hal yang sama dialami Nurlina.

Sebagai Kepala Biro Aset Pemerintah Provinsi Sulsel, Lina, sapaan akrabnya, lebih konsisten memilih pekerjaan sebagai pilihan utama sesuai sumpah yang diucapkan saat dilantik sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Wanita kelahiran Makassar 16 September 1966 ini kerap menghabiskan waktunya demi negara.

“Saya alumni Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) tahun 1988, saat itu langsung jadi staf di Biro Humas,” kata Lina, Rabu (7/3) kemarin.

Karirnya pun berubah dan semakin sibuk mengurus keuangan, saat dirinya dimutasi di Biro Keuangan tahun 1998, saat Amin Syam sebagai Gubernur Sulsel. “Waktu itu, saya diangkat sebagai Kasubag Anggaran,” ujarnya.

Adanya perubahan pemerintahan terhadap regulasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41, nasibnya pun berubah dan diangkat sebagai Kepala Sub Bidang Anggaran. Bahkan pada posisi itu, dirinya pun dituntut untuk mendapatkan status Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.

“Tahun 2013 sebagai kepala bagian anggaran, 2017 kepala bagian pengamanan sekaligus. Jadi kepala bidang anggaran itu saya sibuk mengurus keuangan yang cepat agar mudah mendapatkan status Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Kita ada andil di dalamnya walau hanya sedikit,” paparnya.

Luar biasanya, wanita dua anak ini sangat optimistis dapat meriahnya. Alhasil, dari WTP Pemprov Sulsel pertama hingga saat ini yang ke VII, lahir dari kecepatan tangannya mengatur pengelolaan anggaran.

“Pada saat itu penganggarannya harus taat asas, harus disesuaikan dengan ketentuan penyajian laporan. Baik itu dokumen perencanaan hingga tahapan perencanaan itu harus tepat waktu,” paparnya.

Tuntutan kerja dengan sejumlah tantangan, membuat dirinya semakin tangguh dalam menjabat bidang lainnya. “Tantangan saya, prinsip saya, karena saya sudah berjanji mendahulukan kepentingan organisasi, saya membagi waktu,” tuturnya.

Untuk mengurus WTP, lanjut wanita yang baru mendapatkan cucu baru ini, dirinya harus tepat waktu dan cepat.

“Rencana penganggaran senantiasa kita lakukan taat asas. Saya dibilang paling keras di dalam penganggaran itu karena kita ikut dengan regulasi. Harus tepat waktu menyajikan RAK dan RAPBD ke DPRD,” jelasnya.

Mengikuti seleksi lelang jabatan, Lina pun memilih jadi Kepala Biro Aset, karena dirinya selain sudah ditunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt) Kabiro Aset sejak Agustus 2017 lalu. Juga menurutnya, aset merupakan bagian dari keuangan berwujud barang.

“Aset itu tidak jauh daripada anggaran. Berdasarkan Kemendagri sebenarnya keuangan itu sudah ada di dalam itu barang. Bagian dari pada keuangan anggaran. Karena regulasi keuangan dan barang itu hampir sama,” ungkapnya.

Di Biro Aset, Lina juga mulai mengatur aset yang masih tergolong berantakan. Penataan melalui program perencanaan awal, yakni melakukan pensertifikatan tujuh bidang tanah yang ada di pengelolaan barang.

“Program itu tidak boleh keluar dari perencanaan. Indikator kita itu bagaimana pensertifikatan itu bisa dikelola 2018 ada tujuh bidang tanah yang ada di pengelola barang,” paparnya.

Suksesnya Lina meniti karir ternyata sangat didukung oleh keluarga. Bagaimana tidak, meski ada urusan keluarga yang mendadak, dirinya pun mensiasati dengan sejumlah cara.

“Alhamdulillah keluarga saya sangat membantu karena sejak saya menjadi staf asisten memang ritme pekerjaan begini. Saya akali jika ada urusan keluarga yang mendadak, saya menyuruh suami atau anak yang hadiri karena urusan pekerjaan saya nomor satu,” ungkapnya.

Menjaga ritme harmonisasi keluarga, istri dari Drs. H. Hudzon M.Si ini, juga tidak putus menjalin komunikasi dalam keluarga. Menurutnya komunikasi merupakan penghangat dalam membangun rumah tangga.

“Kalau pulang ke rumah saya sempatkan menegur anak dan suami serta menantu jika di rumah. Pertanyakan hal-hal kecil seperti kebutuhan anak di sekolah dan lainnya itu sangat efektif,” lanjutnya.

Selain itu, lanjut Lina, dirinya usahakan untuk bisa santap makan malam satu meja bersama keluarga. “Resep mungkin yang bisa saya sampaikan, komitmen dan konsisten. Apapun perintah pimpinan sepanjang itu sesuai tuntutan, saya harus jalankan tugas itu,” tutup Lina. (*)


div>