JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Perindo Bertekad Menangkan Husler-Irwan

Reporter:

Editor:

hur

Senin , 14 September 2015 16:20
Perindo Bertekad Menangkan Husler-Irwan

HABIS-HABISAN. Ketua DPC Perindo Lutim, Abdul Madjid Tahir (paling kiri) bertekad akan habis-habisan memenangkan Husler-Irwan dalam Pilkada Lutim. (Dedi/RakyatSulsel)

MALILI, RAKYAT SULSEL.COM – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Indonesia Raya (Perindo) Kabupaten Luwu Timur, Abdul Madjid Tahir menyatakan, dirinya akan turun secara Habis-habisan untuk memenangkan pasangan cabup-cawabup bernomor urut 3 pada Pilkada Desember mendatang.
Saat ini, Partai Perindo sebagai partai baru, belum terlibat langsung dalam Pilkada. Namun Madjid menekankan kesiapan untuk ikut serta dengan mengerahkan kader Perindo mendukung dan mendulang suara bagi pasangan Ir. H. Muh. Thorig Husler-Irwan Bachri Syam, ST.

“Perindo memang partai baru, dan dalam pilkada ini, posisinya bukan pengusung calon. Tetapi, meskipun hanya sebagai partai pendukung, Perindo akan tampil habis-habisan mengerahkan seluruh kader, untuk memenangkan pasangan nomor 3 (Husler-Iwan, red),” tegas Majid, saat sesi sambutannya pada kegiatan Pengukuhan Tim Madani Kecamatan Tomoni Timur.

Madjid Tahir menilai, Husler adalah figur yang telah dipersiapkan untuk menjadi Bupati Lutim, sejak ia pertama kali dipinang untuk posisi Wakil Bupati lima tahun silam. Beberapa hari sebelumnya, saat melangsungkan silaturahmi dengan warga Dusun Nyiur, Desa Lampenai, Wotu, Majid sempat mengulang argumen tentang logika politik dalam alur linearnya.

“Kalau kita mencoba flashback ke belakang, maka dalam logika politiknya, Husler adalah orang yang telah dipersiapkan untuk menjadi bupati. Logika politiknya harusnya seperti itu. Tapi, kenapa kenyataannya tidak seperti itu? Itu persoalan lain. Di sana, yang terjadi adalah proses politik. Tetapi mengikuti logika politiknya, maka Huslerlah orang yang telah dipilih dan dipersiapkan untuk menjadi bupati,” ujarnya.

Madjid sempat menyinggung pemahaman tentang “putra lokal”. Terkait hal itu, dia mengartikan putra lokal sebagai mereka yang lahir dalam batasan teritori tertentu, meski tak pernah menetap dan menyelami teritori itu.

Ia menjelaskan, meskipun ia terlahir dalam batas teritori Luwu Timur, tetapi pergulatannya dengan warga Lutim dan terlibat dengan permasalahan-permasalahan mereka, bisa jadi tak sedalam yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak lahir di Lutim, tetapi dibesarkan dengan kejadian dan hiruk-pikuk masalah masyarakat setempat.

“Saya ini lahir di Wotu, tetapi saya lebih banyak di Makassar. Apakah saya dapat menyebut diri saya orang Luwu Timur, ketimbang bapak-bapak di sini yang sudah terlibat full dengan masalah Luwu Timur setiap hari? Meskipun misalnya, bapak-bapak tidak lahir di Luwu Timur, tentu bapak-bapak akan marah bila diberitahu seperti itu, apalagi disebut bukan putra lokal,” tandas Madjid Tahir.


div>