JUMAT , 21 SEPTEMBER 2018

Peringati Hari Gunung Bawakaraeng, Pandhita Gelar Dialog Kepencintaalaman

Reporter:

Editor:

dedi

Minggu , 26 Maret 2017 14:21
Peringati Hari Gunung Bawakaraeng, Pandhita Gelar Dialog Kepencintaalaman

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Memperingati hari Gunung Bulu’ Bawakaraeng yang jatuh pada hari ini, Minggu (26/3). Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pandhita Pencinta Alam menggelar dialog interaktif kepencitaalaman di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nobel, Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sabtu (25/3), kemarin.

Dialog interaktif ini berlangsung selama dua hari, dari tanggal 25 sampai 26 Maret 2017 hari ini. Dialog tersebut dengan mengusung tema ‘Gunung Bawakaraeng dan Permasalahannya’.

Kegiatan dihadiri pula dari berbagai kalangan Mahasiswa Pencinta alam Sulawesi Selatan, Ketua NJT-Foundation, Azwar, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Ridwan SE Msi, Dosen Teknik Geologi Universitas Hasanuddin, Dr Adi Tonggiroh ST, MT, dan Ketua Umum Pandita Pencinta Alam, Sulaiman.

Ketua Umum Pandhita Pencinta Alam, Sulaiman mengungkapkan kegiatan ini merupakan suatu kesadaran diri terhadap masyarakat agar mengetahui kondisi Gunung Bawakaraeng saat ini sudah rusak parah.

“Kalau melihat kondisi sebelumnya sangat lah bersih dan terjaga. Tetapi sekarang? Malah semakin parah, apalagi di sepanjang jalur yang saat ini mengalami kerusakan, gully,” ujar Sulaiman.

Menurutnya, kerusakan yang terjadi terhadap Gunung Bawakaraeng lantaran disebabkan bergesernya pola hidup di kaki-kaki gunung dan masyarakat kota yang membawa pengaruh buruk terhadap masyarakat kaki gunung.

“Dialog ini juga suatu wujud menyadarkan kepada seluruh kalangan masyarakat terutama kaulah pemuda pemudi, bersama-sama menghargai Gunung Bawakaraeng,” ungkapnya.

Sementara itu, Dosen Fakultas Geologi, Dr Adi Tonggiroh ST MT saat membawakan sebuah materi Gunung Bawakaraeng perspektif geologi mengungkapkan bahwa gunung adalah sumber kehidupan umat manusia, karena tanpa gunung sumber air pun tak dapat diraih maupu ekosistem.

Menurutnya, Indonesia saat ini hanya membahas laut maupun pedesaan tetapi belum membahas Gunung. “Tanpa gunung manusia mungkin tak bisa hidup karena gunung adalah sumber kehidupan. Dan Indonesia seharusnya mempelajari atau mengkaji lebih dalam tentang Gunung,” ungkapnya.

Ia menjelaskan dalam aspek geologi, Gunung Bawakaraeng saat ini mengalami perubahan geomorfologi atau bentuk.

“Perubahan bentuk itu bisa berdampak terganggunya siklus penyerapan air, perubahan struktur batuan dan tanah sehingga mengalami bencana,” jelasnya.


div>