JUMAT , 22 JUNI 2018

Perjalanan FDK UINAM ke Negeri Sakura bersama Ujas Tour Part IV

Reporter:

Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang

Editor:

Nunu

Jumat , 09 Februari 2018 17:59
Perjalanan FDK UINAM ke Negeri Sakura bersama Ujas Tour Part IV

Prof. Dr. Hj. Muliaty Amin (kanan) Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang (tengah) Prof. Dr. Hj. Samsuduha (kiri)

Tokyo sebagai ibu kota metropolitan terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduknya, 33.750.000 di perkotaan dan sekitarnya. Di sana pusat pemerintahan dan pusat kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Jepang negara termaju dibanding negara-negara Asia lainnya. Produk elektronik, seperti Toshiba, Hitachi, Sanyo, Sony, JVC, dan sederet merk lainnya berasal dari sana.

Bicara otomotif, seperti Toyota, Suzuki, Honda, Mazda, Subaru, dan berbagai merk lainnya juga dari Jepang. Transportasi massal super cepat sekarang, yaitu Shinkansen adalah kereta tercepat dengan 300 Km/jam. Perjalanan Jakarta–Surabaya, misalnya, bisa ditempuh sekitar tiga jam lebih. Itu adalah produk luar biasa yang berasal dari produk Jepang.

Dari sini akan lebih menarik jika kita membahas faktor penyebab yang membuat Jepang menjadi negara maju dan membedakannya dengan negara-negara lain. Keterbatasan halaman mengharuskan faktor penyebab itu dibatasi hanya tiga dari sekian banyak faktor, yaitu:

1. Pantang Menyerah
Jepang adalah bangsa tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun Jepang tertinggal dalam teknologi di bawah kekaisaran Tokugawa yang menutup diri. Ketika restorasi Meiji, bangsa Jepang cepat beradaptasi.

Kemiskinan sumber daya alam tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi, dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Andai Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita.

Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, mulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menandai kekalahan Jepang pada sekutu. Ditambah lagi buminya tidak bersahabat, seperti gempa bumi besar di Tokyo. Jepang tidak menyerah, hanya dalam beberapa tahun mereka bangkit dan berhasil membangun industri otomotif dan kereta tercepat, Shinkansen.

2. Budaya Malu
Malu adalah budaya leluhur bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Masuk ke dunia modern budaya malu ditransformasi ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat yang melakukan pelanggaran, seperti terlibat masalah korupsi atau gagal menjalankan tugasnya.

Budaya malu diwariskan lewat pendidikan membuat mereka malu jika melakukan pelanggaran dalam lalu lintas, sekalipun tak ada polisi lalu lintas atau tidak ada kendaraan lewat jika lampu merah sedang menyala.

Mereka malu apabila melanggar peraturan yang sudah menjadi kesepakatan umum. Masyarakat Sulselbar pun memiliki budaya malu yang disebut siri. Tinggal bagaimana mengaktualkan dan mentransformasikan dengan mencontoh kreativitas bangsa Jepang.

3. Budaya Baca
Di mana-mana jika punya kesempatan mereka manfaatkan untuk membaca, di mobil, kereta api, pesawat atau pun di taman. Budaya baca telah ditanamkan sejak anak-anak. Banyak penerbit di Jepang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi kurikulum sekola, baik SD, SMP maupun SMA.

Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dan buku lainnya disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing, sepert Inggris, Prancis, Jerman, dan bahasa lainnya. Biasanya terjemahan buku ke dalam bahasa Jepang sudah tersedia beberapa minggu sejak buku bahasa asing itu diterbitkan.

Semua faktor tersebut akan mudah ditarapkan di Indonesia yang mayoritas Islam karena terdapat dalam nilai Islam. Pertanyaannya, kenapa sulit ditarapkan? Salah satu faktornya bahwa umat baru sekedar muslim belum mampu menerapkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan, seperti kata Muhammad Rifat Tahtawi, Ulama kelahiran Mesir abad ke-19.

MaRRoaD Inn Akasaka Hotel, Tokyo, 5 Februari 2018


Tag
div>