KAMIS , 21 JUNI 2018

Perum Damri Optimis Bisa Selamatkan BRT

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Jumat , 25 Mei 2018 13:55
Perum Damri Optimis Bisa Selamatkan BRT

ilustrasi.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – General Manager Perum Damri Cabang Makassar, Ilyas Harianto, mengaku meski terancam berhenti beroperasi, Perum Damri tetap keukeuh mempertahankan Bus Rapid Transit (BRT) atau Bus Mamminasata agar tetap eksis sebagai angkutan umum.

“Dari tahun kemarin direksi memang ada rencana menarik (BRT), tapi saya selaku GM disini, mempertahankan supaya tetap berada di Makassar,” tegas Ilyas, saat ditemui di Kantor Damri Cabang Makassar, Kamis (24/05) kemarin.

Ilyas menyebut BRT sebenarnya masih diperlukan, hanya saja terbentur masalah biaya dimana belum mendapat subsidi dari pemerintah. Hal ini pun membuat BRT tidak bisa beroperasi lebih banyak.
Menurutnya, BRT terancam berhenti beroperasi dikarenakan masih kurangnya minat masyarakat untuk menggunakannya sehingga pemerintah pusat bakal menariknya.

Ia pun menilai jika hal tersebut terjadi akibat beberapa faktor, salah satunya adalah BRT yang masih berdampingan dengan angkutan kota.

“Selama BRT itu masih berjalan barengan dengan pete-pete, itu tidak akan bisa maksimal,” kata ilyas.
Selain itu, BRT dengan rute trayek Maros, Makassar, Gowa, hingga Takalar ini telah terjadi penurunan penumpang, hal tersebut lantaran masyarakat kini semakin mudah memiliki kendaraan roda dua, akhirnya lebih memilih kendaraan pribadi dibanding menggunakan BRT.

“Faktor lainnya yang juga mempengaruhi maraknya taksi online. BRT ini kan diperuntukkan untuk bagaimana bisa mengurai kemacetan, tapi karena kurang juga peminatnya, lebih banyak yang pakai kendaraan roda dua akhirnya seperti itu,” ujarnya.

Dirinya mengatakan, jika ingin berjalan maksimal, maka BRT harus memiliki koridor sendiri sedangkan pete-pete hanya sebagai angkutan feeder atau angkutan pengumpan.
“Itu yang belum diterapkan di sini sehingga disitu seolah-olah begitu-begitu saja,” katanya.

Ia pun membandingkan BRT dan angkutan kota. Menurutnya, masyarakat menyukai pete-pete dikarenakan dapat berhenti di mana saja sedangkan BRT harus berhenti di halte.

“Orang sudah mau jalan ke halte susah. Kebanyakan orang itu kan maunya dijemput di tempat. Sedangkan BRT itu kan tidak bisa berhenti sembarangan. BRT ini diadakan untuk mengurangi kemacetan. Jangan sampai BRT yang membuat macet karena kebanyakan berhenti,” katanya.

Saat ini, ada 12 unit dari 30 unit bus yang masih aktif beroperasi. Sementara sisanya, kata Ilyas, masih disimpan dan akan digunakan secara bergilir untuk mencegah kerusakan.

“Nanti kita taruh, lalu kita tukar. Jadi hari ini, misalnya jalan, besok yang lain lagi supaya mobil ini tidak berkarat. Jadi tidak ada yang dikandangkan ataupun ditarik ke pusat,” jelasnya.

Menurutnya, jika pemerintah pusat jadi menarik BRT maka akan berimbas pada Damri itu sendiri. Sebab jumlah armada Damri otomatis akan berkurang. Ia pun berharap agar pemerintah segera memberikan subsidi untuk BRT.

“Saya masih ada harapan bahwa Pemprov Sulsel maupun pemerintah pusat untuk mensubsidi karena yang namanya angkutan massal di manapun pasti ada subsidinya,” harapnya. (*)


div>